GATRABALI.COM, DENPASAR – Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Bali menargetkan pertumbuhan jumlah investor pasar modal di daerah itu dapat mencapai lebih dari 20 persen setiap tahun, seiring meningkatnya minat masyarakat, terutama generasi muda untuk berinvestasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Wilayah Bali, I Gusti Agus Andiyasa, mengatakan jumlah investor pasar modal di Bali kini telah mencapai sekitar 420 ribu investor atau sekitar 10 persen dari total penduduk Bali. Ia optimistis angka tersebut akan terus bertambah melalui berbagai program edukasi dan literasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Kami menargetkan pertumbuhan investor pasar modal di Bali di atas 20 persen setiap tahunnya. Kalau lebih, tentu kita bersyukur,” ujar Andiyasa dalam acara Workshop Wartawan Daerah Bali Tahun 2026 di Kantor Perwakilan BEI Bali, di Denpasar, pada Jumat, 31 Juli 2026
Andiyasa menambahkan, secara nasional jumlah investor pasar modal Indonesia kini hampir menyentuh 30 juta investor dengan pertumbuhan sekitar 9 juta investor baru. Menurut dia, tren tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan peluang investasi.
Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, BEI Bali setiap tahun secara rutin menggelar ratusan kegiatan literasi dan inklusi keuangan bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Kami sebagai regulator bertugas mengenalkan pasar modal agar masyarakat paham terlebih dahulu. Setelah memiliki rekening investasi, mereka juga harus terus memantau dan belajar mengenai yang dimiliki sehingga portofolio para investor tetap terjaga,” katanya.
Andiyasa mengungkapkan, sekitar 50 persen investor pasar modal di Bali saat ini berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Tingginya antusiasme generasi muda terlihat dari banyaknya permintaan kegiatan edukasi dari kalangan pelajar SMA maupun kunjungan langsung ke kantor BEI Bali.
Menurutnya, kemudahan pembukaan rekening efek turut mendorong minat generasi muda untuk mulai berinvestasi. Saat ini, pembukaan rekening investasi tidak lagi memerlukan modal besar maupun persyaratan setoran minimum yang memberatkan sehingga masyarakat dapat mulai berinvestasi sesuai kemampuan.
Ia berharap kebiasaan berinvestasi sejak usia muda akan memberikan efek domino atau manfaat jangka panjang. Ketika para investor muda telah memasuki dunia kerja dan memiliki penghasilan yang lebih besar, mereka diharapkan akan berinvestasi lebih besar lagi.
Meski demikian, Andiyasa mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membeli saham hanya karena mengikuti tren atau informasi yang beredar di media sosial. Setiap keputusan investasi harus didasarkan pada analisis terhadap fundamental perusahaan.
“Di balik setiap lembar saham ada perusahaan sebena. Karena itu, investor harus memahami dan menganalisis perusahaan yang akan dibeli sahamnya. Jangan sampai tergiur oleh berita-berita yang beredar di media sosial maupun media lainnya,” ucapnya. (ism/gb)





