GATRABALI.COM, DENPASAR –
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Agama Hindu adalah sistem kepercayaan yang memiliki kerangka ajaran sangat lengkap, terstruktur, dan mendalam. Seluruh ajaran agama Hindu dibagi menjadi tiga pilar utama yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu: Tattwa (Filsafat/Pengetahuan Hakikat), Susila (Etika/Tata Perilaku), dan Upacara (Ritual/Pemujaan). Ketiga aspek ini membentuk kesatuan yang utuh, di mana Tattwa berfungsi sebagai landasan pemahaman, Susila sebagai penerapan dalam sikap dan perilaku, serta Upacara sebagai sarana penghayatan dan pengabdian secara nyata. Tanpa Tattwa yang benar, Susila kehilangan arah dan makna; tanpa Susila, Upacara menjadi sekadar gerakan lahiriah yang hampa; tanpa Upacara, pemahaman Tattwa menjadi sekadar teori yang tidak dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Ketiganya harus berjalan beriringan menuju satu tujuan: kesempurnaan hidup dan penyatuan kembali jiwa dengan sumber asalnya, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.[1]
Di dalam tataran Tattwa atau filsafat agama Hindu, pembahasan yang paling mendasar dan paling utama adalah mengenai hakikat Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran, keyakinan, maupun kehidupan rohani umat Hindu pada akhirnya berakar pada pemahaman tentang siapa dan bagaimana hakikat Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang dipelajari dalam cabang filsafat yang disebut Widhi Tattwa, yaitu ilmu pengetahuan mengenai hakikat Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pemahaman terhadap Widhi Tattwa menjadi kunci yang membuka pintu bagi pemahaman seluruh ajaran agama Hindu lainnya, sebab dari pemahaman tentang Tuhanlah lahir pemahaman tentang manusia, alam semesta, dan tujuan hidup itu sendiri.[2]
Salah satu sifat utama yang menjadi ciri khas dan kebenaran hakikat dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah Ketidakterbatasan-Nya. Sang Hyang Widhi tidak dibatasi oleh ruang, tidak dibatasi oleh waktu, tidak dibatasi oleh bentuk, tidak dibatasi oleh sifat-sifat yang terukur, dan tidak dibatasi oleh apa pun yang dapat dipahami oleh akal manusia yang terbatas. Namun, keterbatasan akal dan pengalaman manusia sering kali membuat kita cenderung membayangkan Tuhan sebatas ukuran, bentuk, sifat, atau kemampuan yang kita kenal di dunia ini. Banyak orang memahami Tuhan seolah-olah Ia adalah makhluk yang berukuran, berada di suatu tempat tertentu, lahir pada waktu tertentu, atau memiliki kelebihan yang terbatas, sebuah pemahaman yang justru menyempitkan kebesaran dan keagungan Sang Hyang Widhi.[3]
Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, khususnya di era digital saat ini, muncul sebuah fenomena yang sangat menarik untuk dicermati: generasi muda Hindu semakin menunjukkan kecenderungan untuk mencari sendiri hakikat Tuhan secara langsung, mendalam, dan kritis. Mereka tidak lagi cukup hanya menerima pemahaman yang diwariskan begitu saja dari generasi sebelumnya tanpa pertanyaan. Mereka bertanya, mereka mencari, mereka membandingkan, dan mereka ingin menemukan sendiri kebenaran yang hakiki tentang Tuhan. Fenomena ini teramati dengan jelas di berbagai lingkungan pendidikan dan pergaulan pemuda Hindu, di mana diskusi-diskusi terbuka mengenai hakikat Tuhan, keadilan Ilahi, makna kehidupan, dan kebenaran ajaran agama semakin sering muncul.[4]
Fenomena ini sesungguhnya sejalan dengan pola global yang telah lama diamati dalam studi sosiologi agama. Robert Wuthnow, misalnya, mencatat bahwa generasi muda dewasa cenderung membangun keberagamaan yang lebih personal, eksploratif, dan tidak lagi semata bersandar pada otoritas kelembagaan yang diwarisi dari orang tua mereka. Mereka bukan generasi yang anti-Tuhan, melainkan generasi yang menuntut agar keyakinan yang mereka anut benar-benar dapat mereka pertanggungjawabkan secara pribadi, baik secara rasional maupun secara batiniah.[5] Pola serupa, dengan corak dan konteks yang khas Hindu Bali, juga tampak pada generasi muda Hindu di Indonesia dewasa ini.
Penelitian yang dilakukan di Kota Denpasar dan beberapa daerah di Bali menunjukkan bahwa sekitar 35% generasi muda Hindu meragukan atau mempertanyakan kebenaran konsep-konsep ketuhanan dan hukum-hukum agama yang selama ini diterima secara turun-temurun. Mereka tidak menerima begitu saja bahwa Tuhan itu demikian karena “begitulah adanya”. Mereka mempersoalkan keadilan Ilahi, keberadaan-Nya yang tidak terlihat, serta mengapa dunia ini penuh dengan ketidaksempurnaan jika memang ada Tuhan yang Mahakuasa dan Mahakasih. Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa Tuhan tidak terlihat?”, “Mengapa orang baik menderita?”, “Mengapa Tuhan seolah-olah berpihak pada sebagian orang?”, dan “Apakah Tuhan hanya ada di pura?” menjadi pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dan menuntut jawaban yang memuaskan akal sekaligus menenteramkan hati.[6]
Fenomena pencarian hakikat Tuhan oleh generasi muda ini sebenarnya bukanlah penolakan terhadap Tuhan, melainkan kerinduan yang mendalam untuk mengenal Tuhan sebagaimana hakikat-Nya yang sejati, yaitu Yang Tak Terbatas, dan bukan sekadar gambaran terbatas yang dibayangkan oleh manusia. Mereka tidak puas dengan Tuhan yang terbatas, yang dapat dikotak-kotakkan, yang milik kelompok tertentu saja, atau yang bersifat sempit dan eksklusif. Justru kerinduan generasi muda adalah menemukan Tuhan yang benar-benar Mahaluas, Mahabesar, dan Tak Terbatas, sebagaimana ajaran Widhi Tattwa sejatinya sampaikan. Jika generasi muda merasa tidak puas dengan gambaran Tuhan yang ada saat ini, itu tandanya jiwa mereka sesungguhnya sedang merindukan Tuhan yang hakiki: Yang Tak Terbatas.[7]
Oleh karena itu, makalah ini disusun untuk mengkaji secara mendalam mengenai sifat ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi Wasa menurut perspektif Widhi Tattwa, sekaligus menghubungkannya dengan fenomena pencarian hakikat Tuhan yang sedang dilakukan oleh generasi muda Hindu. Pemahaman ini sangat penting agar keyakinan dan penghayatan umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa menjadi semakin luhur, semakin teguh, dan semakin relevan dengan kerinduan pencarian hakikat yang sedang tumbuh di kalangan generasi penerus. Dengan memahami ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi, kiranya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kerinduan generasi muda dapat menemukan jawaban yang memuaskan akal sekaligus menenteramkan hati.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Bagaimana penjelasan mengenai sifat ketidakterbatasan Ida Sang Hyang Widhi Wasa menurut ajaran Widhi Tattwa?
- Bagaimana fenomena dan alasan generasi muda Hindu mencari hakikat Tuhan secara kritis dan mandiri?
- Bagaimana pemahaman ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi menjadi jawaban sekaligus penuntun bagi pencarian hakikat yang dilakukan generasi muda?
1.3. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research), yaitu dengan mempelajari, mengutip, dan menganalisis berbagai sumber tertulis yang berkaitan dengan topik pembahasan. Sumber-sumber yang digunakan meliputi kitab suci Veda, Upanisad, Bhagawad Gita, serta buku-buku karya para cendekiawan agama Hindu yang tercantum dalam daftar pustaka. Penulisan ini juga menggunakan metode analisis deskriptif-filosofis, yaitu menguraikan gagasan-gagasan secara sistematis dan kemudian menganalisis makna serta implikasinya untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum. Data mengenai fenomena generasi muda bersumber dari hasil-hasil penelitian dan pengamatan yang telah dipublikasikan dalam berbagai karya ilmiah keagamaan.[8]
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini bersifat hermeneutis-teologis, artinya penulis berupaya memahami dan menafsirkan teks-teks suci sesuai dengan konteks dan maksud aslinya, tanpa melepaskannya dari kerangka besar ajaran Hindu itu sendiri, khususnya kerangka Widhi Tattwa. Selain itu, penulis juga menggunakan pendekatan reflektif-kontekstual untuk menghubungkan ajaran-ajaran filosofis tersebut dengan realitas dan pergumulan spiritual generasi muda Hindu masa kini, sehingga kajian ini tidak berhenti pada tataran teori semata, melainkan menyentuh persoalan riil yang dihadapi umat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Widhi Tattwa
Kata “Widhi” berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pengatur, pencipta, tatanan, atau ketentuan. Sedangkan “Tattwa” berarti hakikat, kebenaran yang sejati, atau prinsip dasar. Jadi, secara harfiah Widhi Tattwa adalah ilmu atau pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebab pertama dari segala yang ada, pengatur alam semesta, sumber segala kebijaksanaan, dan tujuan akhir dari seluruh kehidupan.[9]
Dalam filsafat Hindu, Tuhan sering disebut sebagai Brahman. Kata Brahman berasal dari akar kata brh yang berarti “tumbuh”, “besar”, “tak terbatas”. Jadi, Brahman adalah Yang Mutlak, Yang Maha Besar, Yang Tak Terbatas, Yang Tanpa Awal dan Tanpa Akhir. Ajaran mengenai hakikat Tuhan ini dalam bahasa Sanskerta disebut sebagai Brahma Vidya, yaitu ilmu pengetahuan mengenai Yang Mahatinggi, yang dianggap sebagai pengetahuan yang paling luhur dan paling mendalam. Karena segala ilmu pengetahuan lainnya terbatas dan berubah-ubah, sedangkan pengetahuan mengenai Yang Tak Terbatas itu sendiri bersifat kekal dan abadi.[10]
Widhi Tattwa tidak hanya membahas bahwa Tuhan itu ada, melainkan membahas bagaimana hakikat-Nya yang sesungguhnya, sifat-sifat-Nya yang sejati, hubungan-Nya dengan alam semesta, serta hubungan-Nya dengan setiap makhluk hidup. Salah satu sifat yang paling menonjol dan paling mendasar dari hakikat Brahman menurut Widhi Tattwa adalah sifat ketidakterbatasan-Nya. Segala sifat-sifat luhur lainnya, seperti kebijaksanaan, kasih sayang, keadilan, dan kekuasaan, semuanya berakar pada sifat ketidakterbatasan-Nya. Karena Ia Tak Terbatas, maka kebijaksanaan-Nya Tak Terbatas, kasih sayang-Nya Tak Terbatas, keadilan-Nya Tak Terbatas, dan kekuasaan-Nya pun Tak Terbatas.[11]
2.2 Kedudukan Widhi Tattwa dalam Struktur Filsafat Hindu
Untuk memahami secara utuh kedudukan Widhi Tattwa, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa filsafat Hindu (Darshana) memiliki enam sistem klasik yang dikenal dengan istilah Sad Darsana, yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa, dan Wedanta. Keenam sistem ini masing-masing memiliki penekanan berbeda, namun seluruhnya bermuara pada satu tujuan yang sama: memahami hakikat kebenaran tertinggi. Widhi Tattwa, sebagai cabang teologi yang secara khusus membahas hakikat Tuhan, berakar paling kuat pada sistem Wedanta, yang memusatkan kajiannya pada hakikat Brahman sebagaimana termuat dalam Upanisad.[12]
Dalam kerangka Panca Sradha, yakni lima keyakinan pokok umat Hindu, Widhi Tattwa menempati posisi yang paling utama dan mendasar, sebab keempat keyakinan lainnya, yaitu percaya dengan adanya Atman, Karmaphala, Punarbhawa, dan Moksa, seluruhnya berpijak pada keyakinan yang pertama, yakni percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tanpa pemahaman yang benar mengenai hakikat Tuhan, keempat keyakinan lainnya akan kehilangan pijakan dan makna yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, Widhi Tattwa disebut sebagai induk atau akar dari seluruh bangunan keyakinan Hindu.[13] Kedudukannya yang sedemikian sentral inilah yang menjadikan kajian mengenai ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi bukan sekadar pembahasan filosofis yang abstrak, melainkan pembahasan yang menopang seluruh bangunan keimanan umat Hindu secara keseluruhan.
2.3 Ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi dalam Ajaran Suci Hindu
Ketidakterbatasan dalam bahasa Sanskerta sering disebut dengan istilah Ananta, yang berarti “tanpa akhir”, “tak berujung”, atau “tak terbatas”. Ida Sang Hyang Widhi Wasa disebut sebagai Ananta karena Ia tidak memiliki batas apa pun, baik dalam ruang, waktu, maupun sifat-sifat-Nya. Ia adalah Yang Tanpa Awal dan Tanpa Akhir, Yang Meliputi Segala, Yang Melampaui Segala Ukuran dan Segala Pemahaman.[14]
Hal ini ditegaskan dengan sangat jelas dalam kitab-kitab suci Hindu. Salah satu kutipan yang sangat terkenal dari kitab Iśa Upaniṣad menyatakan:
“Purnamadah purnamidam purnat purnamudacyate |
Purnasya purnam adaya purnamevavashisyate ||”
Artinya: “Itu sempurna/tak terbatas, ini sempurna/tak terbatas. Dari Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terbatas muncul. Jika Yang Tak Terbatas diambil dari Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terbatas tetaplah tinggal.”[15]
Sloka ini mengandung makna yang sangat mendalam mengenai ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi. Segala sesuatu muncul dari-Nya, namun Ia tidak berkurang. Segala sesuatu kembali kepada-Nya, namun Ia tidak bertambah. Ia tetaplah sama, kekal, dan tak terbatas untuk selamanya. Tidak ada yang dapat menambah atau mengurangi-Nya, karena Ia adalah Yang Sempurna dan Tak Terbatas. Jika dari Yang Tak Terbatas muncul pula yang tak terbatas, maka tetaplah Yang Tak Terbatas yang ada. Demikianlah hakikat Sang Hyang Widhi.[16]
Selain itu, dalam Rig Veda juga dinyatakan: “Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti”, yang bermakna “Tuhan itu hanya satu, namun orang-orang yang berpengetahuan menyebut-Nya dengan berbagai nama.”[17] Satu Tuhan yang dimaksud di sini adalah Yang Tak Terbatas, yang melampaui segala nama dan bentuk yang diciptakan oleh manusia untuk memudahkan pemahaman terhadap-Nya. Nama-nama seperti Brahma, Wisnu, Siwa, dan lainnya adalah berbagai sebutan dan manifestasi dari Satu Yang Tak Terbatas itu. Tidak ada yang lebih benar atau lebih salah, karena semuanya menunjuk kepada Satu Zat yang sama, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Tak Terbatas.[18]
Dalam Bhagawad Gītā, Tuhan menyatakan dengan tegas ketidakterbatasan-Nya: “Na me parastyasti kincid api”, yang bermakna “Tidak ada apa pun yang lebih tinggi daripada Aku. Segala sesuatu tersusun di atas Aku bagaikan untaian benang pada sebuah permata.”[19] Dan juga dinyatakan: “Aham ādir hi devānām”, yang bermakna “Aku adalah asal mula para dewa dan segala sesuatu.”[20] Artinya, tidak ada yang mendahului-Nya, tidak ada yang melampaui-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya. Ia adalah Yang Pertama dan Yang Terakhir, Asal dan Tujuan dari segala sesuatu. Inilah ketidakterbatasan-Nya dalam segala hal.[21]
Kitab Sarasamuscaya, yang merupakan salah satu kitab susastra Hindu yang banyak digunakan sebagai pedoman etika di Bali, juga menegaskan kebesaran dan keluhuran Sang Hyang Widhi sebagai sumber dari segala dharma. Segala perbuatan baik, segala hukum, dan segala tatanan kehidupan bersumber dari-Nya yang tidak terbatas, dan pada akhirnya kembali pula kepada-Nya.[22]
2.4 Konsep-Konsep Terkait Ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi
Selain istilah Ananta, terdapat sejumlah konsep lain dalam khazanah filsafat Hindu yang berkaitan erat dengan sifat ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi, dan memperkaya pemahaman kita mengenai-Nya.
a. Sarwavyapi (Omnipresent)
Sarwavyapi berarti “yang meliputi segala sesuatu”, yaitu sifat Tuhan yang hadir dan meresap di seluruh alam semesta tanpa terkecuali, tanpa ada satu ruang pun yang kosong dari kehadiran-Nya. Sifat ini merupakan penjabaran dari ketidakterbatasan-Nya dalam aspek ruang.[23]
b. Achintya
Achintya berarti “yang tidak terpikirkan” atau “yang melampaui jangkauan pikiran”. Di Bali, Ida Sang Hyang Widhi Wasa bahkan sering disebut sebagai Sang Hyang Acintya, untuk menegaskan bahwa hakikat-Nya sesungguhnya berada di luar jangkauan akal dan pikiran manusia yang terbatas. Sebutan ini secara khusus menekankan aspek ketidakterbatasan pemahaman.[24]
c. Avyakta
Avyakta berarti “yang tidak termanifestasikan” atau “yang tidak berwujud secara kasat mata”. Dalam wujud-Nya yang paling murni, Sang Hyang Widhi bersifat Avyakta, tidak terikat oleh bentuk atau rupa tertentu, sekalipun Ia dapat berkenan menampakkan diri melalui berbagai manifestasi (Saguna) demi kepentingan pemujaan dan pemahaman manusia.[25]
d. Ananta Guna
Ananta Guna berarti “sifat-sifat mulia yang tak terbatas jumlahnya”. Konsep ini menegaskan bahwa kebajikan, kemuliaan, dan keutamaan yang dimiliki Sang Hyang Widhi tidak dapat dihitung, diukur, atau dibatasi jumlahnya, sebagaimana pula tidak dapat dibatasi tingkatannya.[26]
Keempat konsep di atas, bersama dengan konsep Ananta itu sendiri, menunjukkan betapa kaya dan mendalamnya khazanah filsafat Hindu dalam merumuskan hakikat ketidakterbatasan Tuhan, tidak hanya dari satu sudut pandang, melainkan dari berbagai sudut pandang yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
2.5 Tataran Pemahaman Tuhan: Nirguna Brahman dan Saguna Brahman
Dalam Widhi Tattwa, hakikat Tuhan dibedakan menjadi dua tataran agar dapat dipahami secara bertahap, sesuai dengan kemampuan jiwa manusia yang masih terbatas, yaitu Nirguna Brahman dan Saguna Brahman.
a. Nirguna Brahman
Nirguna Brahman adalah Tuhan dilihat sebagai wujud yang murni, mutlak, tanpa sifat-sifat yang terbatas, tanpa bentuk, tidak dapat dilihat oleh mata kasat, tidak dapat didengar oleh telinga, tidak dapat disentuh oleh tangan, dan tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Nirguna Brahman melampaui segala sifat, segala ukuran, dan segala perbandingan. Ia adalah murni kesadaran sejati, kebahagiaan yang tidak berubah-ubah, dan keabadian. Pada tataran inilah ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi tampak dalam kebenaran yang paling murni dan sempurna, tanpa ada sedikit pun batas yang dapat dibayangkan oleh pikiran mana pun.[27]
Upanisad menyatakan mengenai Nirguna Brahman: “Na tasya kāryaṃ karaṇaṃ ca vidyate | na tat-samaś cābhyadhikaś ca dṛśyate ||”, yang bermakna “Tidak ada pekerjaan atau alat apa pun bagi-Nya. Tidak ada yang menyamai-Nya, apalagi yang melampaui-Nya.”[28] Dan juga: “Sa sarva-bhūtāntarātmā |”, yang bermakna “Ia adalah Jiwa di dalam segala makhluk, berbeda dengan segala makhluk, namun segala makhluk tidak mengetahui-Nya.”[29]
Dengan demikian, Nirguna Brahman adalah hakikat Tuhan yang sejati, yang melampaui segala sifat dan segala bentuk, yang hanya dapat dihayati oleh jiwa yang telah menyucikan dirinya sepenuhnya. Pada tataran ini, ketidakterbatasan-Nya tampak sepenuhnya tanpa ada batas apa pun.[30]
b. Saguna Brahman
Agar manusia yang masih terikat oleh keterbatasan indra dan akal dapat mendekat, memuja, dan mencintai-Nya dengan cara yang lebih mudah dipahami, maka Tuhan bermanifestasi dengan sifat-sifat ke-Tuhan-an yang agung. Inilah yang disebut Saguna Brahman, Tuhan yang memiliki sifat-sifat mulia seperti Mahakuasa, Mahabijaksana, Mahakasih, Mahaadil, Pencipta, Pemelihara, dan Pelebur alam semesta. Meskipun dalam tataran ini Tuhan tampak memiliki sifat, namun hakikat-Nya tetaplah tak terbatas. Sifat-sifat yang tampak itu hanyalah pantulan dari kebesaran-Nya yang tak terbatas, yang disesuaikan dengan kemampuan pemahaman manusia yang terbatas.[31]
Perlu dipahami dengan jelas bahwa perbedaan antara Nirguna dan Saguna Brahman bukanlah terletak pada Tuhan-Nya, melainkan terletak pada cara manusia memahami-Nya. Tuhan itu sendiri tetaplah Satu, tetaplah Tak Terbatas, baik dilihat dengan sifat maupun tanpa sifat. Perbedaannya hanyalah seperti seseorang yang melihat samudra dari jauh dan melihat air yang luas tanpa batas, dibandingkan seseorang yang melihat samudra dari dekat dan melihat gelombang, warna, serta sifat airnya. Samuderanya tetap sama, yang berbeda hanyalah sudut pandang pengamatnya. Demikian pula Sang Hyang Widhi, dilihat dari hakikat-Nya yang murni, Ia Nirguna; dilihat dari manifestasi-Nya yang dapat dipahami, Ia Saguna. Namun pada keduanya, Ia tetaplah Yang Tak Terbatas.[32]
2.5 Fenomena Generasi Muda yang Mencari Hakikat Tuhan
Generasi muda Hindu masa kini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya: terhubung secara global, terbuka pada berbagai gagasan dan pandangan hidup, serta terbiasa mempertanyakan segala sesuatu sebelum menerimanya. Mereka tidak serta-merta menerima keyakinan hanya karena “begitulah adat” atau “begitulah yang diajarkan orang tua”. Mereka mencari kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan oleh akal sekaligus dapat dirasakan oleh hati. Bagi mereka, keyakinan yang tidak masuk akal dan tidak menyentuh hati bukanlah keyakinan yang sejati, melainkan sekadar kebiasaan yang diwariskan.[33]
Fenomena ini menunjukkan beberapa hal penting:
- Generasi muda menginginkan pemahaman Tuhan yang lebih luas dan mendalam, tidak sekadar ritual lahiriah atau pengakuan lisan. Mereka ingin tahu siapa Tuhan yang sebenarnya, bukan sekadar apa yang harus dilakukan untuk-Nya.
- Mereka cenderung mencari Tuhan tidak hanya di pura atau tempat ibadah, tetapi juga dalam keheningan batin, melalui pengalaman pribadi, dan melalui pemahaman filsafat yang masuk akal. Mereka merasa bahwa Tuhan tidak jauh dan tidak tertutup, sehingga dapat ditemukan oleh siapa saja yang mencari-Nya dengan tulus, di mana pun dan kapan pun.
- Mereka merasa tidak puas jika Tuhan digambarkan terbatas, bersifat menghukum secara sembarangan, atau berpihak pada kelompok tertentu saja. Mereka tidak dapat menerima bahwa Tuhan yang Mahakuasa dan Mahakasih ternyata sempit pandangannya, memihak pada sebagian orang saja, atau tidak adil dalam perlakuan-Nya.[34]
- Mereka membandingkan ajaran yang diterimanya dengan kenyataan yang dilihatnya sehari-hari. Jika ajaran yang diterimanya tidak sejalan dengan kenyataan yang dilihatnya, maka mereka akan mempertanyakan ajaran tersebut, bukan menolak Tuhan-nya.[35]
Dengan kata lain, keraguan yang tampak di permukaan sebenarnya adalah bentuk kerinduan yang mendalam akan Tuhan yang lebih besar daripada gambaran yang selama ini diberikan kepada mereka. Generasi muda tidak menolak Tuhan; mereka menolak gambaran Tuhan yang terbatas dan tidak masuk akal. Mereka sedang mencari Tuhan yang Hakikat-Nya Tak Terbatas, yaitu Sang Hyang Widhi sebagaimana dipahami dalam Widhi Tattwa. Jika mereka menemukan Tuhan yang benar-benar luas, adil, dan penuh kasih tanpa batas, maka keraguan itu akan hilang dan berganti menjadi keyakinan yang kokoh.[36]
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi Ditinjau dari Berbagai Aspek
Menurut Widhi Tattwa, ketidakterbatasan Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak hanya berlaku pada satu hal saja, melainkan meliputi seluruh aspek keberadaan-Nya. Berikut adalah uraian rinci mengenai aspek-aspek ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi.
a. Ketidakterbatasan Ruang
Sang Hyang Widhi tidak dibatasi oleh ruang atau tempat. Ia tidak berada di satu tempat tertentu saja, melainkan ada di mana-mana. Ia ada di langit, di bumi, di air, di api, di dalam setiap makhluk hidup, di antara bintang-bintang, dan bahkan melampaui seluruh alam semesta yang terlihat. Tidak ada satu pun tempat yang tidak dipenuhi oleh kehadiran-Nya. Dalam bahasa filsafat, sifat ini disebut sebagai Omnipresent atau Sarwavyāpī, yang meliputi segala sesuatu dan ada di mana-mana tanpa batas.[37]
Jika alam semesta ini memiliki luas yang tak terbayangkan, maka Sang Hyang Widhi tidak hanya memenuhi alam semesta itu, melainkan melampauinya. Sebagaimana dikatakan dalam Upanisad, Ia meliputi segala yang ada di atas dan di bawah, di depan dan di belakang, ke kiri dan ke kanan, sehingga sesungguhnya Ia ada di mana-mana.[38] Tidak ada sudut sekecil apa pun yang kosong dari kehadiran-Nya. Tidak ada tempat yang jauh dari-Nya, tidak ada tempat di mana Ia tidak ada.
b. Ketidakterbatasan Waktu
Sang Hyang Widhi juga tidak dibatasi oleh waktu. Waktu bagi manusia terbagi menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Namun bagi Sang Hyang Widhi, ketiganya adalah satu kesatuan yang kekal. Ia melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus. Ia ada sebelum dunia tercipta, ada ketika dunia berlangsung, dan tetap ada ketika dunia telah hancur. Ia tidak mengenal kelahiran, tidak mengenal pertumbuhan, tidak mengenal penuaan, dan tidak mengenal kematian. Ia adalah Yang Kekal, Yang Selalu Ada, Tanpa Awal dan Tanpa Akhir.[39]
Dalam Bhagawad Gītā, Tuhan menyatakan bahwa Ia adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus, yakni awal, pertengahan, dan akhir dari segala sesuatu.[40] Artinya, waktu tidak membatasi-Nya, justru sebaliknya, waktu itu ada dan berjalan atas kehendak-Nya. Ia adalah Penguasa waktu, bukan hamba waktu. Segala sesuatu yang terjadi dalam waktu terlihat oleh-Nya sekaligus, karena Ia berada di luar jangkauan waktu itu sendiri.
c. Ketidakterbatasan Sifat
Sang Hyang Widhi memiliki sifat-sifat kebaikan yang tidak terbatas. Kebaikan-Nya tidak memiliki batas, kasih sayang-Nya tidak memiliki batas, kebijaksanaan-Nya tidak memiliki batas, keadilan-Nya tidak memiliki batas, dan kesempurnaan-Nya tidak memiliki batas. Sifat-sifat baik yang ada pada makhluk hidup hanyalah pantulan kecil dari sifat-Nya yang tak terbatas.[41]
Manusia dapat bijaksana, namun kebijaksanaan manusia terbatas. Sang Hyang Widhi adalah Mahabijaksana, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang telah ada, yang ada, dan yang akan ada. Tidak ada satu pun hal yang tersembunyi dari-Nya. Manusia dapat mengasihi, namun kasih manusia terbatas. Sang Hyang Widhi adalah Mahakasih, kasih sayang-Nya meliputi seluruh makhluk tanpa memandang apa pun, tanpa membeda-bedakan golongan, keyakinan, atau perbuatan. Demikian pula dengan sifat-sifat lainnya: kekuasaan-Nya tak terbatas, kemuliaan-Nya tak terbatas, keindahan-Nya tak terbatas. Tidak ada makhluk apa pun yang dapat menyamai sifat-sifat-Nya.[42]
d. Ketidakterbatasan Sebab dan Asal-Usul
Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini pasti memiliki sebab dan asal-usul. Namun Sang Hyang Widhi adalah Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun. Ia adalah Pencipta yang tidak diciptakan oleh siapa pun. Ia adalah Sumber dari segala sumber, Asal dari segala asal. Tidak ada yang mendahului-Nya, tidak ada yang menciptakan-Nya, tidak ada yang menjadi asal-Nya. Inilah ketidakterbatasan-Nya dalam hal keberadaan: Ia ada karena kehendak-Nya sendiri, sejak selama-lamanya hingga selama-lamanya.[43]
Jika Tuhan pun memiliki pencipta, maka pencipta-Nya itulah yang sebenarnya Tuhan. Demikianlah terus-menerus hingga pada Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun, itulah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ia adalah awal dari segala awal, tanpa awal yang mendahuluinya. Ia adalah sebab dari segala sebab, tanpa ada yang menjadi sebab-Nya. Inilah ketidakterbatasan-Nya yang paling mendasar: keberadaan-Nya sendiri tidak dibatasi oleh sebab apa pun.
e. Ketidakterbatasan Wujud
Sang Hyang Widhi juga tidak dibatasi oleh satu wujud tertentu. Ia dapat berwujud Avyakta, yakni tidak berwujud sama sekali dalam hakikat-Nya yang murni, namun Ia juga dapat berkenan menampakkan diri dalam berbagai manifestasi, seperti Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Siwa sang pelebur, tanpa mengurangi keesaan dan ketidakterbatasan-Nya sedikit pun. Ketidakterbatasan wujud ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak dapat dipenjarakan dalam satu bentuk, satu patung, satu simbol, atau satu cara pemujaan tertentu saja, sebab segala wujud dan simbol hanyalah jembatan menuju-Nya, bukan diri-Nya yang sesungguhnya.[44]
f. Ketidakterbatasan Pemahaman
Ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi juga berarti bahwa hakikat-Nya seutuhnya tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal dan pikiran manusia. Karena akal manusia itu terbatas, maka tidak mungkin yang terbatas dapat memahami Yang Tak Terbatas secara utuh. Seperti air dalam gelas tidak dapat menampung seluruh air laut. Demikian pula pikiran manusia tidak dapat menampung seluruh hakikat Sang Hyang Widhi. Kita dapat mengenal-Nya sejauh yang Ia wahyukan dan sejauh kemampuan jiwa kita menyucikan diri, namun kita tidak akan pernah dapat mengetahui-Nya sepenuhnya. Inilah yang membuat-Nya menjadi semakin luhur dan semakin agung.[45]
Upanisad menyatakan bahwa Tuhan itu diketahui justru oleh mereka yang menyadari bahwa Ia tidak diketahui sepenuhnya, sedangkan mereka yang mengira telah mengetahui-Nya secara utuh sesungguhnya belum mengenal-Nya sama sekali.[46] Artinya, tanda seseorang mulai mengenal Tuhan adalah ketika ia menyadari bahwa Tuhan itu tidak dapat diketahui sepenuhnya. Semakin kita mencari-Nya, semakin kita menyadari bahwa kebesaran-Nya tiada akhir. Dan itulah keindahan mengenal Tuhan: perjalanan pencarian yang tidak akan pernah selesai, karena Yang kita cari itu sendiri adalah Yang Tak Terbatas.
3.2 Ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi sebagai Jawaban atas Pencarian Generasi Muda
Menurut Widhi Tattwa, ketidakterbatasan Ida Sang Hyang Widhi Wasa meliputi seluruh aspek keberadaan-Nya. Dan inilah yang menjadi jawaban sejati atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh generasi muda dalam pencarian mereka akan hakikat Tuhan.
a. Ketidakterbatasan Ruang → Tuhan Ada di Mana-Mana
Generasi muda sering kali bertanya: “Jika Tuhan hanya ada di satu tempat atau hanya disembah dengan satu cara, bagaimana mungkin Ia Tuhan Yang Maha Esa?” Pemahaman Widhi Tattwa menjawab bahwa Sang Hyang Widhi tidak dibatasi ruang. Ia ada di mana-mana, memenuhi seluruh alam semesta, bahkan melampauinya. Tidak ada tempat yang tidak dipenuhi oleh kehadiran-Nya. Oleh karena itu, Tuhan tidak milik kelompok tertentu saja, tidak terbatas pada bangunan pura saja, tidak terbatas pada cara penyembahan tertentu saja. Ia hadir di mana pun jiwa yang tulus memanggil-Nya, di mana pun hati yang suci memuja-Nya, tanpa memandang tempat, waktu, atau cara. Inilah yang membuat keyakinan menjadi luas, membebaskan, dan tidak eksklusif, persis seperti yang dirindukan oleh generasi muda.[47]
Ketika generasi muda menyadari bahwa Tuhan tidak hanya ada di pura, melainkan juga ada di rumah, di sekolah, di hutan, di gunung, di hati setiap orang, bahkan di hati mereka sendiri, maka keinginan mereka mencari Tuhan di mana pun berada menjadi sah dan terjawab. Mereka tidak perlu merasa bahwa Tuhan jauh atau tertutup; Tuhan justru sangat dekat, ada di dalam diri mereka sendiri.
b. Ketidakterbatasan Waktu → Tuhan Kekal dan Melampaui Segala Zaman
Generasi muda hidup di zaman yang berubah dengan sangat cepat. Mereka menyadari bahwa cara pandang, budaya, dan tata cara beribadah dapat berubah seiring waktu. Mereka bertanya: “Apakah Tuhan juga berubah-ubah?” Widhi Tattwa menjelaskan bahwa Sang Hyang Widhi tidak dibatasi waktu. Ia kekal, tanpa awal dan tanpa akhir. Segala sesuatu yang berubah itu bukan Tuhan itu sendiri, melainkan cara manusia memahami-Nya. Tuhan yang sejati tetaplah sama sejak sebelum dunia ada, kini, hingga selama-lamanya. Pemahaman ini memberikan keteguhan hati: meskipun zaman berubah dengan cepat, sumber kebenaran dan kasih sayang Ilahi tetaplah kekal dan tidak berubah.[48]
Ketika generasi muda menyadari bahwa Tuhan tidak berubah meskipun zaman terus berubah, maka mereka tidak perlu bingung membedakan mana ajaran yang berubah karena zaman dan mana kebenaran yang kekal selamanya. Yang berubah adalah cara manusia memahami dan menyampaikan-Nya; yang tidak berubah adalah Sang Hyang Widhi itu sendiri. Inilah keteguhan hati yang dirindukan generasi muda di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
c. Ketidakterbatasan Sifat → Tuhan Mahakasih dan Mahaadil Secara Sempurna
Salah satu alasan utama generasi muda mempertanyakan Tuhan adalah ketidakadilan yang mereka lihat di dunia: orang jahat tampaknya hidup makmur, orang baik tampaknya menderita. Mereka bertanya: “Jika Tuhan Mahakuasa dan Mahakasih, mengapa demikian?” Widhi Tattwa memberikan jawaban yang mendalam: kasih dan keadilan Tuhan itu tak terbatas, tidak terbatas oleh ukuran waktu yang kita lihat seumur hidup ini. Keadilan-Nya tidak hanya berlaku untuk masa kini, melainkan meliputi perjalanan jiwa yang panjang melintasi waktu yang tak terukur, sejalan dengan hukum Karmaphala dan Punarbhawa. Apa yang tampak tidak adil dalam pandangan waktu yang singkat, ternyata penuh keadilan jika dilihat dalam cakrawala waktu yang kekal.[49]
Selain itu, kasih sayang-Nya juga tidak terbatas: Ia tidak membalas kejahatan dengan kemurkaan yang buta, melainkan memberikan kesempatan berulang kali agar makhluk-Nya dapat kembali kepada jalan kebenaran. Kesempatan lahir kembali itu sendiri adalah bukti kasih sayang-Nya yang tak terbatas, Ia tidak membinasakan makhluk-Nya karena kesalahan, melainkan memberikan waktu dan kesempatan agar dapat memperbaiki diri. Pemahaman ini meluaskan pandangan generasi muda agar tidak menghakimi keadilan Tuhan sebatas apa yang terlihat dalam waktu yang singkat.
d. Ketidakterbatasan Pemahaman → Tuhan Melampaui Segala Pengertian Manusia
Generasi muda bertanya: “Mengapa Tuhan tidak dapat dilihat atau dipahami sepenuhnya?” Widhi Tattwa menjelaskan dengan sangat bijaksana bahwa Tuhan itu Tak Terbatas, sedangkan akal manusia itu terbatas. Wajar jika Yang Tak Terbatas tidak dapat sepenuhnya dicakup oleh yang terbatas, seperti air dalam gelas tidak dapat menampung seluruh air laut. Namun keterbatasan kemampuan kita memahami-Nya bukan berarti Tuhan tidak ada. Justru karena Ia Melampaui Segala Pengertian, maka Ia layak untuk dihormati, dicintai, dan dicari tanpa henti.[50]
Pemahaman ini mengajarkan kepada generasi muda: keraguan yang dirasakan adalah tanda bahwa Tuhan yang dicari itu lebih besar daripada gambaran yang dibayangkan sebelumnya. Jika gambaran Tuhan yang kita miliki dapat dipahami sepenuhnya oleh akal kita yang terbatas, maka Tuhan itu bukan Tuhan yang sejati. Tuhan yang sejati pasti melampaui segala pemahaman. Oleh karena itu, menyadari keterbatasan pemahaman kita justru adalah langkah awal yang paling benar untuk mengenal Tuhan. Pencarian yang terus-menerus itu sendiri adalah bentuk penghormatan kepada Tuhan yang Tak Terbatas.
e. Ketidakterbatasan Kasih → Landasan bagi Toleransi dan Keterbukaan
Salah satu kegelisahan generasi muda masa kini adalah pertanyaan mengenai keberagaman keyakinan: mengapa manusia memuja Tuhan dengan cara yang berbeda-beda, dan apakah hal itu berarti sebagian keyakinan salah sedangkan sebagian lainnya benar. Widhi Tattwa, melalui pemahaman akan ketidakterbatasan kasih dan ketidakterbatasan wujud Sang Hyang Widhi, memberikan landasan yang luas bagi sikap toleransi. Sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti, kebenaran itu satu, namun jalan dan penyebutan yang digunakan manusia untuk mendekati-Nya dapat beragam.[51] Pemahaman inilah yang membantu generasi muda menyikapi keberagaman keyakinan di sekitar mereka dengan hati yang lapang, tanpa harus meninggalkan keyakinan mereka sendiri, dan tanpa harus memandang rendah keyakinan orang lain.
3.3 Dari Pencarian Menuju Keyakinan: Peran Widhi Tattwa
Pemahaman Widhi Tattwa membantu generasi muda mengubah kerinduan pencarian mereka menjadi keyakinan yang kokoh, melalui tahapan-tahapan berikut.
a. Meyakini Bahwa Tuhan Lebih Besar dari Segala Gambaran Kita
Banyak generasi muda meninggalkan keyakinan karena mereka menemukan ketidaksempurnaan dalam gambaran Tuhan yang diajarkan secara turun-temurun. Padahal, yang tidak sempurna itu bukan Tuhan, melainkan pemahaman manusia tentang Tuhan. Widhi Tattwa mengingatkan bahwa segala nama, bentuk, sifat, dan cara penyembahan yang kita kenal hanyalah jembatan menuju Yang Tak Terbatas, bukan Yang Tak Terbatas itu sendiri. Menyadari hal ini membuat generasi muda tidak lagi kecewa ketika menemukan ketidaksempurnaan dalam pemahaman manusiawi, karena mereka tahu bahwa Tuhan yang sejati tetaplah Sempurna dan Tak Terbatas, melampaui segala gambaran.[52]
Ketika seseorang menyadari bahwa gambaran Tuhan yang ada di kepalanya bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan sekadar bayangan yang terbatas, maka ia tidak akan kecewa ketika bayangan itu ternyata tidak sempurna. Ia justru akan semakin bersemangat mencari Tuhan yang sejati, yang melampaui segala bayangan. Inilah langkah pertama menuju keyakinan yang sejati.
b. Menemukan Tuhan Melalui Pengalaman Batin Pribadi
Karena Sang Hyang Widhi itu ada di mana-mana dan meliputi segala sesuatu, maka Ia juga hadir di dalam hati setiap makhluk. Artinya, manusia dapat mengenal Tuhan tidak hanya melalui ajaran orang lain atau kitab suci, tetapi juga melalui pengalaman batin langsung. Inilah yang dirindukan generasi muda: hubungan pribadi yang langsung dengan Tuhan, bukan sekadar pengetahuan yang diwariskan. Widhi Tattwa membukakan jalan ini luas-lebar: Tuhan tidak jauh, tidak tertutup rapat, tidak milik golongan tertentu saja. Ia ada di dalam diri setiap orang yang mencari-Nya dengan tulus.[53]
Ketika generasi muda diajarkan bahwa Tuhan dapat ditemukan melalui keheningan hati, melalui perbuatan baik, melalui kasih kepada sesama, melalui pengabdian yang tulus, maka mereka tidak perlu merasa bahwa Tuhan jauh dan sulit dijangkau. Mereka dapat menemukan-Nya dalam kehidupan sehari-hari, dalam pengalaman batin mereka sendiri. Dan pengalaman pribadi inilah yang akan menjadi fondasi keyakinan yang tidak mudah goyah.
c. Keyakinan yang Berakar pada Pemahaman, Bukan Sekadar Kebiasaan
Keyakinan yang dibangun atas dasar pemahaman mendalam tentang hakikat Tuhan yang Tak Terbatas akan jauh lebih kokoh dibandingkan keyakinan yang diterima begitu saja karena kebiasaan atau tradisi. Generasi muda yang memahami Widhi Tattwa tidak akan goyah ketika menemui pandangan yang berbeda atau tantangan zaman. Karena keyakinannya tidak lagi bersandar pada ucapan manusia yang terbatas, melainkan pada pengakuan akal dan hati yang mendalam: ada Yang Tak Terbatas, Sumber Segala Sesuatu, Yang Mahaadil dan Mahakasih, dan kepada-Nyalah kita semua kembali. Inilah keyakinan yang tidak dapat digoyahkan oleh apa pun.[54]
Keyakinan yang lahir dari pemahaman mendalam tidak akan mudah runtuh ketika diuji. Sebaliknya, keyakinan yang lahir hanya karena ikut-ikutan atau kebiasaan akan mudah runtuh ketika menghadapi perbedaan atau tantangan. Oleh karena itu, membimbing generasi muda memahami Widhi Tattwa sejak dini adalah hal yang paling penting, agar keyakinan mereka berakar pada pemahaman yang kokoh, bukan sekadar kebiasaan yang rapuh.
3.4 Implikasi bagi Generasi Muda dan Pembinaan Keyakinan
Pemahaman ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi mengajarkan kepada kita beberapa hal yang sangat penting dalam membimbing generasi muda.
- Jangan takut pada pertanyaan. Generasi muda yang bertanya dan mencari bukanlah orang yang tidak beriman. Sebaliknya, merekalah yang sedang berjuang membangun iman yang sejati. Pertanyaan mereka adalah bukti bahwa mereka menginginkan Tuhan yang benar-benar agung, bukan sekadar bayangan kecil yang terbatas. Jawablah pertanyaan mereka dengan kesabaran dan pemahaman yang mendalam, bukan dengan tuntutan untuk menerima begitu saja.[55]
- Ajarkan Tuhan yang Tak Terbatas, bukan sekadar tata cara beribadah. Jika generasi muda diajarkan sejak dini bahwa Tuhan itu luas, meliputi segala, kekal, dan penuh kasih yang tak terukur, maka mereka tidak akan kecewa ketika menemukan keterbatasan pada manusia atau tradisi. Mereka akan tetap bersandar kepada Yang Tak Terbatas. Tata cara beribadah memang penting, tetapi tata cara itu adalah sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah mengenal dan mencintai Sang Hyang Widhi yang Tak Terbatas.
- Berikan ruang untuk pengalaman spiritual pribadi. Karena Tuhan hadir di dalam hati setiap jiwa, maka bimbinglah generasi muda untuk mengenal-Nya melalui keheningan, perenungan, pengabdian tulus, dan kasih kepada sesama, bukan hanya melalui ritual lahiriah. Biarkan mereka mengalami sendiri kehadiran-Nya di dalam hati mereka. Pengalaman pribadi itulah yang akan menjadi kekuatan terbesar keyakinan mereka.
- Pahami bahwa pencarian adalah bagian dari perjalanan rohani. Mengenal Tuhan yang Tak Terbatas adalah perjalanan yang tidak akan pernah selesai sepenuhnya. Dan itulah keindahannya: semakin dicari, semakin diketahui bahwa kebesaran-Nya tiada akhir. Oleh karena itu, jangan mengharapkan generasi muda berhenti mencari dan bertanya. Bimbinglah pencarian mereka ke arah yang benar, yaitu mencari Yang Tak Terbatas, sehingga perjalanan pencarian mereka itu sendiri menjadi ibadah yang paling luhur.
3.5 Relevansi dalam Konteks Kehidupan Beragama Kontemporer
Pemahaman mengenai ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi memiliki relevansi yang sangat kuat dalam konteks kehidupan beragama masa kini, khususnya dalam kaitannya dengan semangat moderasi beragama dan kerukunan hidup bersama. Ketika seseorang benar-benar menghayati bahwa Tuhan itu Tak Terbatas, melampaui segala nama, bentuk, dan cara pemujaan, maka ia akan cenderung menjadi pribadi yang lebih rendah hati dalam beragama, tidak mudah merasa paling benar, dan lebih terbuka terhadap keberagaman keyakinan di sekitarnya, tanpa harus mengorbankan kesetiaannya pada tradisi dan keyakinannya sendiri.[56]
Selain itu, di era digital yang dipenuhi arus informasi dan berbagai wacana keagamaan yang saling bertentangan, pemahaman Widhi Tattwa yang kokoh menjadi semacam jangkar yang menjaga generasi muda agar tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang keliru atau dangkal mengenai hakikat Tuhan. Generasi muda yang memahami dengan baik konsep ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi akan mampu menyaring berbagai wacana yang mereka temui di media sosial maupun internet dengan kerangka berpikir yang jernih dan berlandaskan pada ajaran yang otentik, bukan sekadar opini yang populer namun dangkal.
3.6 Tinjauan Singkat: Ketakterbatasan Tuhan dalam Tradisi Kerohanian Lain
Sebagai pelengkap pembahasan, menarik untuk dicermati bahwa gagasan mengenai ketakterbatasan Tuhan sesungguhnya juga muncul, dengan corak dan penekanan masing-masing, dalam berbagai tradisi kerohanian lain di dunia. Perbandingan ini bukan dimaksudkan untuk menyamakan seluruh tradisi, melainkan untuk menunjukkan bahwa kerinduan manusia akan Yang Tak Terbatas merupakan kerinduan yang bersifat universal, sebagaimana dicatat oleh sejumlah ahli perbandingan agama.[57]
Dalam tradisi mistik Yahudi (Kabbalah), misalnya, dikenal konsep Ein Sof, yang secara harfiah berarti “Yang Tanpa Batas”, untuk menunjuk hakikat Tuhan yang melampaui segala atribut dan pemahaman manusia. Dalam tradisi mistik Kristiani, terutama pada apa yang dikenal sebagai teologi apofatik atau via negativa, Tuhan dipahami sebagai realitas yang lebih tepat digambarkan melalui apa yang bukan diri-Nya, ketimbang melalui atribut-atribut terbatas yang dilekatkan manusia kepada-Nya. Demikian pula dalam tradisi pemikiran Islam, penegasan mengenai keesaan dan transendensi Tuhan (tauhid) menekankan bahwa Tuhan tidak dapat disetarakan dengan apa pun ciptaan-Nya.[58]
Kesamaan lintas tradisi ini menegaskan sebuah kebenaran yang sangat penting bagi generasi muda Hindu: bahwa kerinduan akan Tuhan yang Tak Terbatas bukanlah keraguan yang aneh atau menyimpang, melainkan bagian dari kerinduan spiritual manusia yang bersifat universal, yang di dalam Hindu telah dijawab secara mendalam dan sistematis melalui ajaran Widhi Tattwa.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan seluruh uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
- Widhi Tattwa adalah ilmu pengetahuan yang membahas mengenai hakikat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan menempati kedudukan paling mendasar dalam Panca Sradha maupun dalam struktur filsafat Hindu secara keseluruhan. Salah satu sifat paling mendasar dari hakikat-Nya adalah ketidakterbatasan, dalam bahasa Sanskerta disebut Ananta, yang berarti tanpa batas, tanpa akhir, dan melampaui segala ukuran. Sifat ketidakterbatasan ini meliputi seluruh aspek keberadaan-Nya dan menjadi kunci untuk memahami sifat-sifat luhur lainnya, sebagaimana pula tercermin dalam konsep-konsep terkait seperti Sarwavyapi, Achintya, Avyakta, dan Ananta Guna.
- Ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi meliputi ruang, waktu, sifat, sebab dan asal-usul, wujud, serta pemahaman. Ia ada di mana-mana, kekal tanpa awal dan akhir, kebaikan-Nya tak terukur, tidak disebabkan oleh apa pun, tidak terikat pada satu wujud tertentu, dan hakikat-Nya melampaui kemampuan akal manusia mana pun. Semakin dicari, semakin disadari bahwa kebesaran-Nya tiada akhir.
- Fenomena generasi muda yang mencari hakikat Tuhan bukanlah penolakan terhadap Tuhan, melainkan ungkapan kerinduan yang mendalam untuk mengenal Tuhan yang sejati, yang tidak terbatas, tidak sempit, dan tidak berubah-ubah. Fenomena ini juga sejalan dengan pola yang diamati dalam studi sosiologi agama dan psikologi perkembangan iman, yang memandang pencarian dan pertanyaan sebagai tahap wajar menuju kematangan iman. Keraguan yang tampak adalah tanda bahwa mereka tidak lagi puas dengan gambaran Tuhan yang terbatas dan buatan manusia. Jiwa mereka sesungguhnya sedang merindukan Tuhan yang hakikat-Nya Tak Terbatas.
- Pemahaman ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi adalah jawaban sejati atas pencarian generasi muda. Ketika mereka memahami bahwa Tuhan itu luas meliputi segala, kekal melampaui waktu, adil dan kasih-Nya tak terukur, tidak terikat pada satu wujud, serta melampaui segala pemahaman manusiawi, barulah keraguan mereka menemukan pijakan yang kokoh. Mereka menyadari bahwa keterbatasan yang mereka temukan itu bukan pada Tuhan, melainkan pada pemahaman manusia tentang Tuhan. Dan inilah yang melahirkan keyakinan yang sejati.
- Keyakinan yang tumbuh dari pemahaman mendalam tentang Tuhan yang Tak Terbatas akan jauh lebih kokoh dan tidak mudah goyah oleh perubahan zaman. Pemahaman ini pula yang melandasi sikap toleransi dan keterbukaan generasi muda dalam menghadapi keberagaman keyakinan di sekitarnya. Inilah keyakinan yang menjadi pegangan hidup yang abadi: dari-Nya kita berasal, atas kasih-Nya kita hidup, dan kepada-Nya kita akhirnya kembali. Perjalanan mencari-Nya tidak akan pernah selesai, karena Yang kita cari itu sendiri adalah Yang Tak Terbatas. Dan itulah kebahagiaan tertinggi yang dirindukan setiap jiwa.
4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.
- Jangan takut pada pertanyaan generasi muda. Jawablah kerinduan pencarian mereka bukan dengan tuntutan untuk menerima begitu saja, melainkan dengan pemahaman mendalam tentang hakikat Sang Hyang Widhi yang Tak Terbatas. Bimbinglah mereka menemukan Tuhan yang sejati, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan tradisi. Karena yang mereka cari bukanlah tata cara, melainkan Yang Diatur oleh segala tata cara itu sendiri.
- Dalam pembinaan keyakinan, utamakan pemahaman Tattwa sebelum hal lainnya. Ajarkanlah terlebih dahulu betapa luas, agung, kekal, dan kasihnya Sang Hyang Widhi. Jika fondasi pemahaman ketuhanan sudah kokoh, maka hal-hal lainnya, yaitu Susila, Upacara, tata cara, dan tradisi, akan menemukan tempat dan maknanya secara wajar di dalam hati generasi muda. Jangan membalik urutan dengan mengajarkan tata cara terlebih dahulu sebelum mengajarkan hakikat Tuhan yang Tak Terbatas.
- Biarkanlah generasi muda menemukan Tuhan melalui pengalaman pribadi. Karena Tuhan itu Tak Terbatas dan hadir di mana-mana, maka Ia juga dapat ditemukan melalui kebaikan hati, pengabdian tulus, perenungan batin, dan kasih kepada sesama. Jangan batasi pengalaman spiritual hanya pada cara-cara yang lahiriah saja. Bimbinglah mereka menemukan Tuhan di dalam hati mereka sendiri, karena pengalaman pribadi itulah yang akan menjadi keyakinan yang tidak mudah goyah.
- Bagi lembaga pendidikan dan pasraman, disarankan agar materi pembinaan keimanan bagi generasi muda tidak hanya berhenti pada hafalan doa dan tata cara upacara, melainkan disertai ruang diskusi terbuka yang membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai hakikat Tuhan, sehingga generasi muda dapat menyalurkan pertanyaan dan keraguan mereka secara sehat, dibimbing oleh pemahaman Widhi Tattwa yang benar.
- Semoga pemahaman akan ketidakterbatasan Sang Hyang Widhi menjadi jembatan yang menghubungkan kerinduan generasi muda dengan kebenaran hakiki yang telah diajarkan sejak lama. Semoga mereka tidak lagi merasa terjebak di antara keraguan dan kewajiban, melainkan menemukan jalan yang lebar dan terang: mengenal, mencintai, dan menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Tak Terbatas, Yang Kekal, Yang Maha Kasih. Semoga perjalanan pencarian mereka menjadi perjalanan menuju Yang Tak Terbatas, yang tiada akhir dan tiada batas, kekal abadi sepanjang masa.
[1]I Made Titib, Veda Sabda Suci: Pedoman Praktis Kehidupan (Surabaya: Paramita, 1996), hlm. 45.
[2]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya (Jakarta: Mayasari, 1999), hlm. 1–2.
[3]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana (Surabaya: Paramita, 1998), hlm. 47–49.
[4]Tjokorda Raka Dherana, Pokok-Pokok Ajaran Agama Hindu (Denpasar: Pustaka Bali Post, 2005), hlm. 14–15.
[5]Robert Wuthnow, After the Baby Boomers: How Twenty- and Thirty-Somethings Are Shaping the Future of American Religion (Princeton: Princeton University Press, 2007), hlm. 15–18.
[6]Hasil penelitian yang dikutip dalam I Ketut Wiana, Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu (Denpasar: Yayasan Dharma Naradha, 2006), hlm. 8–10.
[7]S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads (New Delhi: HarperCollins Publishers, 1994), hlm. 78–79.
[8]Penelitian dan pengamatan sebagaimana tercantum dalam daftar pustaka makalah ini.
[9]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 12.
[10]S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 72–73.
[11]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 51.
[12]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 18–20.
[13]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 15–17.
[14]I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 52.
[15]Iśa Upaniṣad, Sloka 1. Dikutip dari S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 449.
[16]Penjelasan makna sloka dalam G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 23–25.
[17]Rig Veda I.164.46. Dikutip dalam I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 48.
[18]Tjokorda Raka Dherana, Pokok-Pokok Ajaran Agama Hindu, hlm. 22.
[19]Bhagawad Gītā VII, 7–8. Dikutip dalam G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 31.
[20]Bhagawad Gītā X, 2.
[21]Penjelasan dalam I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 62–63.
[22]I Nyoman Kajeng, dkk., Sarasamuscaya (Jakarta: Hanuman Sakti, 1997), hlm. 4–6.
[23]Ngurah Nala dan I Gusti Ngurah Sudiana, Murdha Agama Hindu (Denpasar: Upada Sastra, 1994), hlm. 27–29.
[24]I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 58–60.
[25]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 42–43.
[26]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 70–71.
[27]S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 76–77.
[28]Śvetāśvatara Upaniṣad VI, 8. Dikutip dalam S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 737.
[29]Brhadāraṇyaka Upaniṣad III, 7, 15. Dikutip dalam S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 215.
[30]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 55–56.
[31]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 38–40.
[32]I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 54–55.
[33]I Ketut Wiana, Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu, hlm. 11–13.
[34]Tjokorda Raka Dherana, Pokok-Pokok Ajaran Agama Hindu, hlm. 112–114.
[35]I Ketut Wiana, Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu, hlm. 15.
[36]S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 79–80.
[37]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 65–66.
[38]Chāndogya Upaniṣad VII, 25, 1–2. Dikutip dalam S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 478.
[39]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 44–45.
[40]Bhagawad Gītā IX, 10. Dikutip dalam G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 46.
[41]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 74–75.
[42]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 48–50.
[43]I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 62–63.
[44]Ngurah Nala dan I Gusti Ngurah Sudiana, Murdha Agama Hindu, hlm. 33–35.
[45]S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 84–85.
[46]S. Radhakrishnan, The Principal Upanisads, hlm. 86.
[47]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 78–79.
[48]G. Pudja, Teologi Hindu: Brahma Vidya, hlm. 52–53.
[49]Tjokorda Raka Dherana, Pokok-Pokok Ajaran Agama Hindu, hlm. 121–123.
[50]I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 66–67.
[51]I Made Titib, Veda Sabda Suci, hlm. 48–49.
[52]I Ketut Wiana, Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu, hlm. 20–22.
[53]Ngurah Nala dan I Gusti Ngurah Sudiana, Murdha Agama Hindu, hlm. 41–43.
[54]I Wayan Maswinara, Filsafat Hindu Darshana, hlm. 88–90.
[55]James W. Fowler, Stages of Faith, hlm. 182–183.
[56]Tjokorda Raka Dherana, Pokok-Pokok Ajaran Agama Hindu, hlm. 130–132.
[57]Ninian Smart, The World’s Religions (Cambridge: Cambridge University Press, 1998), hlm. 54–58.
[58]Ninian Smart, The World’s Religions, hlm. 61–65.
Oleh : Dr. I Ketut Sudira, SH.,MH
Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar
Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar


