spot_img
spot_img
BerandaBaliBadungAbrasi Gerus Pantai Kuta, 75 Persen Sarang Penyu Hilang

Abrasi Gerus Pantai Kuta, 75 Persen Sarang Penyu Hilang

GATRABALI.COM, MANGUPURA – Diduga akibat abrasi, beberapa areal tempat bertelur Penyu di pesisir pantai Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali mulai berkurang dari sebelumnya.

Berkurangnya areal bertelur atau sarang penyu diperkirakan kurang lebih mencapai, 75% hingga kini.

Ketua Pelestari Penyu di Pantai Kuta, Badung, Bali, I Gusti Ngurah Sena menyampaikan, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena, akan berdampak pada jumlah populasi dan keberlangsungan habitat penyu disepanjang pantai Kuta, Kabupaten Badung.

“75% sangat berkurang dari tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu sampai 200 sarang, sekarang baru 70 sarang saja,” sebutnya, Sabtu (23/5/2026) di Pantai Kuta, Kabupaten Badung.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Hadiri Rapat Pleno Pekaseh dan Kelian Subak Abian se-Badung, Aspirasi Petani Akan Diakomodir

Dirinya menyampaikan, sarang tempat bertelur penyu di pesisir pantai kuta akibat abrasi yang semakin parah mengikis pasir di pesisir pantai Kuta kini.

Selain itu, hamparan pasir yang telah abrasi diperkuat dengan bebatuan, yang memperparah kondisi areal penyu membuat sarang dan bertelur.

“Abrasinya keras sekali. Karena penyu harus ada tempat bertelur di pantai.Kemungkinan besar karena tempatnya bertelur, pantainya sudah terkikis. Apalagi beberapa area ya, berapa space, kan di-cover dengan batu. kendalanya kita di lapangan, kalau dia naik, dia (Penyu) gali, terkendala batu, balik dia,” ucapnya.

Baca Juga  DPRD Buleleng Dorong Penataan Pasar Anyar Lewat Rapat Koordinasi

Dirinya mengatakan, sebagian wisatawan mancanegara melihat kondisi abrasi disepanjang pesisir pantai Kuta sangat terkejut.

Kondisi tersebut disebabkan karena, pesisir pantai Kuta yang menjadi ikon dunia, sebelumnya sangat alami berubah menjadi compang akibat abrasi.

“Sudah pasti karena, Pantai Kuta adalah salah satu ikon, ya ikon dunia, yang dari awal ini surfing, sunset, apa namanya, gold sand, dan lain sebagainya. Dengan kondisi sekarang ini, mereka kaget. Mereka kaget melihat dengan kondisi riilnya sekarang. Pohon-pohon sudah habis. Dulu kan betul-betul alami kalau 26 tahun yang lalu masih alami,” bebernya.

Baca Juga  Siwarātri, Undangan Refleksi Diri di Tengah Hiruk Pikuk Era Digital

Gusti berharap, kepada Pemerintah terkait untuk menangani masalah abrasi disepanjang pesisir Pantai Kuta kini dan kedepannya.

“Harapan kita, kita selaku pelaku penyelamat lingkungan dan penyu ini, ya kita mengharapkan kepada pemerintah terkait, dapat menata kembali misal, pengisian pasir, supaya ada spacenya lagi, supaya bisa penyu-penyu datang kembali, serta dapat nyaman bertelur.Ya, Kita berharap, tidak saling menyalahkan. Mari kita saling berbuat sesuatu untuk penyelamatan semuanya,” tutupnya.(gun/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments