spot_img
spot_img
BerandaBaliAnak Butuh Cinta Bukan Tekanan, Luh Irma Susanthi Serukan Penghentian Eksploitasi Anak

Anak Butuh Cinta Bukan Tekanan, Luh Irma Susanthi Serukan Penghentian Eksploitasi Anak

GATRABALI.COM, BULELENG – Perlindungan terhadap hak anak menjadi perhatian penting di tengah masih ditemukannya berbagai bentuk eksploitasi yang terjadi di lingkungan masyarakat. Anak yang seharusnya mendapatkan ruang untuk tumbuh, belajar, bermain, dan berkembang sesuai usianya, masih kerap dipandang sebagai beban ekonomi maupun sarana untuk memenuhi keinginan orang dewasa.

Koordinator Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, S.Sos mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap anak. Menurutnya, anak bukanlah objek yang harus memenuhi target atau harapan orang tua, melainkan pribadi yang hadir membawa nilai dan pembelajaran dalam kehidupan keluarga.

“Sudah saatnya kita mengubah cara memandang anak. Bagaimana jika anak tidak hadir untuk mewujudkan impian orang tuanya? Bagaimana jika justru kitalah yang dipilih Tuhan untuk belajar melalui kehadiran mereka? Paradigma ini mungkin terdengar sederhana, tetapi mampu mengubah cara kita mendidik, mencintai, dan memperlakukan anak setiap hari. Anak bukanlah manusia yang “belum jadi”, melainkan pribadi utuh yang sedang bertumbuh. Mereka memiliki perasaan, cara berpikir, dan kebutuhan emosional yang harus dihormati,”ujar Luh Irma Susanthi,S.Sos selaku Koordinator Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng dikonfirmasi, Kamis, (23/7/2026)

Ia menjelaskan, setiap perilaku anak sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk memahami dan belajar. Anak yang menangis bukan berarti lemah, anak yang banyak bertanya bukan berarti sulit diarahkan, dan anak yang menolak sesuatu tidak selalu berarti tidak patuh.

Baca Juga  WNA Korsel Meninggal Dunia di Kamar Hotelnya di Kuta Selatan

Menurutnya, sering kali orang dewasa terlalu berfokus membentuk anak sesuai keinginan sendiri, namun lupa melakukan evaluasi terhadap sikap yang mereka tunjukkan dalam keseharian.

“Kita ingin anak berlaku jujur, tetapi mereka melihat kebohongan kecil yang kita anggap biasa. Kita mengajarkan mereka menghormati orang lain, tetapi mereka menyaksikan bagaimana kita mudah merendahkan sesama. Kita berharap mereka mampu mengendalikan emosi, sementara mereka tumbuh di tengah kemarahan dan pertengkaran orang dewasa. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan terutama dari teladan. Karena itu, setiap anak sesungguhnya adalah cermin yang memantulkan nilai-nilai yang tumbuh di dalam keluarga,”terangnya.

Lebih lanjut, Irma menegaskan bahwa eksploitasi anak memiliki bentuk yang luas. Tidak hanya berupa kekerasan fisik maupun mempekerjakan anak pada usia dini, tetapi juga ketika hak anak untuk menikmati masa pertumbuhan mulai terabaikan.

Anak yang kehilangan kesempatan bermain, beristirahat, belajar dengan nyaman, serta menyampaikan pendapat karena seluruh kehidupannya diarahkan demi kepentingan orang dewasa juga menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Baca Juga  Bangun Empati di Lingkungan Sekolah, K3S Badung Salurkan Bantuan bagi Anak Kurang Mampu

Ia menyebut, masih ada anak yang dibebani menjadi pencari nafkah, diberikan tekanan untuk mencapai prestasi demi gengsi keluarga, bahkan tidak memiliki ruang untuk menemukan jati dirinya.

Dari perspektif spiritual, Irma mengungkapkan bahwa anak dapat menjadi jalan bagi orang tua untuk belajar tentang kasih, kesabaran, dan kebijaksanaan. Kehadiran anak bukan hanya tentang bagaimana orang tua membentuk mereka, tetapi juga bagaimana orang tua memperbaiki dirinya melalui proses mendampingi anak.

Ia mengibaratkan kehidupan anak seperti proses alam yang berjalan sesuai waktunya. Pohon tidak pernah memaksa buahnya matang sebelum waktunya, matahari tidak meminta balasan atas cahaya yang diberikan, dan sungai tidak mengharuskan setiap batu mengikuti jalur yang sama.

Begitu pula dengan anak, mereka membutuhkan kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuan dan potensinya, bukan dipaksa memenuhi ukuran keberhasilan yang dibuat oleh orang dewasa.

“Anak yang merasa dicintai akan belajar mencintai. Anak yang dihargai akan belajar menghargai. Anak yang didengar akan belajar mendengarkan. Karena itu, sudah saatnya kita mengubah pertanyaan dalam hidup. Bukan lagi, “Apa yang bisa diberikan anak untukku?” melainkan, “Pelajaran apa yang sedang Tuhan titipkan kepadaku melalui anak ini?”,”ujar Irma menganalogikan.

Baca Juga  Bupati Arnawa Bawa Energi Positif di Karya Nyatur Ulun Siwi, Dukung Tradisi dan Kearifan Lokal

Menurut Irma, perubahan cara berpikir tersebut akan menempatkan anak sebagai anugerah, bukan sebagai beban, investasi, maupun alat untuk mencapai impian keluarga.

Anak membutuhkan orang tua yang bersedia hadir, mendampingi, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik, bukan sekadar sosok yang menuntut kesempurnaan dari anak.

Diakhir menyimpulkan, cara kita memperlakukan anak hari ini akan menentukan wajah dunia di masa depan. Mungkin selama ini kita merasa sedang membesarkan anak. Padahal, tanpa kita sadari, anaklah yang sedang membesarkan jiwa kita. Warisan terbaik yang mereka berikan bukanlah prestasi atau kebanggaan, melainkan kesempatan bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih manusiawi. Sebab, setiap anak yang hadir ke dunia bukan hanya membawa masa depan bagi dirinya sendiri, tetapi juga membawa pelajaran berharga bagi setiap orang yang mencintainya. Anak bukan beban kehidupan. Mereka adalah guru yang dikirim semesta untuk mengajarkan makna cinta, kesabaran, dan kemanusiaan.(adv/gb)

Tag: Anak Bukan Beban, Stop Eksploitasi Anak,  Buleleng, Luh Irma Susanthi, Kemenag Buleleng, Hak Anak,  Tumbuh Kembang Anak, Buleleng.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments