spot_img
spot_img
BerandaBaliDampak Global Dirasakan di Bali, Gung Cok : Waspadai Krisis Pariwisata

Dampak Global Dirasakan di Bali, Gung Cok : Waspadai Krisis Pariwisata

GATRABALI.COM, DENPASAR – Pelaku pariwisata sekaligus anggota DPRD Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra Arka atau yang akrab disapa Gung Cok, menepis isu bahwa Bali tengah mengalami overtourism.

Menurutnya, kenyataan di lapangan justru menunjukkan tren penurunan kunjungan wisatawan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Saya selaku pelaku pariwisata melihat bahwa over tourism belum terjadi. Kita bisa bandingkan antara tahun baru 2024 dengan tahun baru 2025, terlihat jelas ada penurunan. Sampai Maret kemarin pun, hunian hotel masih tergolong sepi,” ujar Gung Cok, pada Senin, 7 April 2025.

Gung Cok juga menambahkan, kondisi tersebut juga dirasakan termasuk destinasi favorit seperti Canggu dan Kuta.

Baca Juga  DPRD Bali Dorong Transparansi dan Efektivitas Anggaran dalam Pembahasan Raperda APBD Semesta Berencana 2026

Meskipun kawasan-kawasan tersebut dikenal sebagai pusat keramaian wisatawan, namun hunian hotel masih belum menunjukkan peningkatan signifikan.

“Kebetulan saya ada di Seminyak, dan pasar utama kami adalah Australia. Sampai April ini, hunian masih sangat sepi. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku pariwisata,” ungkapnya.

Ia menduga situasi ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan ekonomi global, termasuk dari Amerika Serikat.

Menurutnya, naiknya nilai tukar dolar AS bisa berdampak langsung terhadap biaya operasional serta minat wisatawan untuk berlibur.

Baca Juga  Pebalap Muda AHM Raih Hasil Gemilang di Seri Pembuka Thailand Talent Cup 2026

“Kita tahu bahwa Amerika adalah negara dengan pengaruh besar terhadap ekonomi dunia. Kalau ada kebijakan yang ketat dari sana, termasuk tarif masuk dan biaya perjalanan, maka itu pasti berimbas. Dampaknya bisa saja terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pariwisata, jika tidak ditangani dengan cepat,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap efek domino dari penguatan dolar. Jika nilai tukar dolar terus naik, maka harga BBM dan bahan pokok di dalam negeri berpotensi ikut meningkat.

“Mudah-mudahan saya salah prediksi, tapi pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi seperti ini bisa menyebabkan krisis. Dan jika perekonomian negara asal wisatawan terganggu, tentu mereka akan menunda bepergian ke luar negeri,” tambah Gung Cok.

Baca Juga  Galaxy S25 Edge Tampil Elegan dengan Teknologi Pendingin Canggih

Meski demikian, ia tetap optimistis dan berharap bahwa sektor pariwisata Bali akan mulai pulih memasuki akhir Mei dan Juni, seiring dengan masuknya musim liburan di beberapa negara asal wisatawan.

“Memang Februari, Maret, dan April ini masuk low season. Tapi kita tetap berharap mulai akhir Mei dan Juni bisa mulai ramai lagi. Mudah-mudahan situasi ini tidak berlangsung lama,” ungkapnya. (dy/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments