spot_img
spot_img
BerandaBaliBadungDari Diskusi Maruti Suta, Bertindaklah dengan Baik dan Tanpa Pamrih

Dari Diskusi Maruti Suta, Bertindaklah dengan Baik dan Tanpa Pamrih

GATRABALI.COM, BADUNG – Paguyuban Maruti Suta yang aktif bergerak di bidang sosial menggelar diskusi yang menekankan pentingnya setiap insan untuk senantiasa bertindak atau berbuatlah yang terbaik dan tanpa pamrih.

“Kalau dilihat dari spiritual murni, bertindak itu bukan untuk mengejar hasil, tetapi lakukan saja yang terbaik,” kata Pembina Paguyuban Maruti Suta Dr. I Made Yudhiantara, M.AP, dalam acara diskusi yang berlangsung di Kabupaten Badung, pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Yudhiantara menuturkan, melalui berbagai diskusi yang digelar secara rutin itu untuk memberikan wawasan pengetahuan terkait kehidupan keduniawian dan menuntun ke arah spiritual bagi para anggotanya.

Menurutnya, ketika kita memilih jalan spiritual, maka yang penting fokuskan saja pada tindakan yang baik, terserah hasilnya nanti seperti apa.

“Kalau tindakan yang baik, otomatis ‘kan hasilnya baik, tetapi kita tidak usah berharap,” ujar Yudhiantara yang juga Dekan Fisipol Universitas Warmadewa Denpasar ini.

Baca Juga  Antisipasi TPPO, Pj Bupati Buleleng Dorong Upaya Keberangkatan PMI Secara Legal

Hasil dari tindakan yang dilakukan setiap umat manusia, lanjut dia, otomatis sudah menjadi hukum alam.

“Kalau kita umat Hindu terus bertindak tanpa mengharapkan hasil, ending-nya nanti pada reinkarnasi yang lebih baik, hingga moksa yang menjadi puncaknya,” ucap pria yang biasa disapa Pak Kadek ini.

Pada acara diskusi yang berlangsung dengan suasana penuh keakraban ini menghadirkan pemantik diskusi Guru Made Widiarma, Nengah Yasa, dan Nyoman Siaga.

Nengah Yasa menyampaikan memang sulit bagi kita untuk lepas dari unsur keterikatan, mulai dari keterikatan pada lingkungan terdekat hingga pada harta benda yang dimiliki.

“Dengan bersedekah, merupakan cara kita untuk mengikis ego dan menjadi latihan untuk sedikit demi sedikit melepas apa yang kita miliki,” ucapnya.

Baca Juga  Buleleng Berjaya di Top BUMD 2025, Bupati Sutjidra dan Perumda THB Raih Penghargaan Tertinggi

Selanjutnya, kata Yasa, kehidupan merupakan proses untuk melakukan pembelajaran. Sedangkan reinkarnasi menjadi proses untuk melanjutkan pembelajaran.

“Untuk mencapai kesadaran tertinggi, diperlukan proses yang panjang dan bahkan kelahiran berulang-ulang, seperti halnya logam emas akan menjadi perhiasan yang indah harus dibakar, dipukul, ditempa, dipahat dan sebagainya,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Made Widiarma menyampaikan bahwa doa yang akan dikabulkan Tuhan adalah doa yang disampaikan umatnya dengan tulus ikhlas, bukan hanya disampaikan dengan narasi-narasi yang manis.

“Kita sebaiknya jangan mudah menghakimi seseorang hanya dengan melihat penampilan luar karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya,” ujar Widiarma.

Selain itu, ia pun mengingatkan bahwa kita harus siap dan ikhlas bahwa apa yang kita miliki nantinya akan lepas dan berpisah.

Baca Juga  Ketut Suwarmawan Dorong Optimalisasi Media Sosial untuk Branding Organisasi 

Sedangkan I Nyoman Siaga pada intinya menyampaikan mengenai pentingnya perilaku yang baik dan harus diimplementasikan.

“Sangat banyak wacana-wacana kebaikan yang kita ketahui, tetapi seringkali kita lupa untuk melaksanakan kebaikan,” ucap Siaga.

Selain rutin menggelar diskusi, Maruti Suta yang telah terbentuk sejak 1994 tersebut juga aktif melakukan sejumlah kegiatan sosial seperti membantu warga miskin maupun yang sakit hingga ke wilayah pelosok-pelosok di berbagai kabupaten di Bali.

Dengan anggotanya dari berbagai profesi ini, ada dosen, pengusaha, guru, pimpinan hotel, sebagian anggota Maruti Suta juga merupakan instruktur yoga yang aktif mengajarkan yoga kepada warga sekitar hingga kalangan wisatawan.(ism/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments