GATRABALI.COM, JAKARTA — Upaya mengatasi persoalan sampah di Bali memasuki babak baru. Gubernur Bali Wayan Koster menandatangani kesepakatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) bersama pemerintah pusat di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Penandatanganan ini turut disaksikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara sebagai bentuk dukungan lintas daerah terhadap proyek strategis tersebut.
PSEL dirancang menjadi solusi jangka panjang dengan mengolah sampah menjadi energi listrik. Selain meningkatkan pasokan energi, proyek ini juga ditujukan untuk mengurangi tekanan terhadap TPA Suwung yang selama ini menampung sebagian besar sampah di wilayah Denpasar dan Badung.
Pemerintah menargetkan fasilitas ini dapat mulai beroperasi pada 2028. Selama masa transisi, pengelolaan sampah akan diperketat sejak dari sumbernya, terutama melalui kewajiban pemilahan antara sampah organik dan anorganik.
Koster menegaskan bahwa kebijakan pembatasan sampah organik ke TPA Suwung akan diberlakukan kembali paling lambat akhir Juli 2026, mengikuti arahan Kementerian Lingkungan Hidup.
“Pemilahan sampah dari sumber akan diterapkan secara ketat di Bali agar pengelolaan sampah menjadi energi listrik bisa optimal,” ujar Gubernur Koster.
Saat ini, sejumlah fasilitas pengolahan telah beroperasi, seperti TPST Kertalangu, TPST Tahura I dan II, serta TPST Padangsambian. Selain itu, puluhan TPS3R juga telah tersebar di wilayah Denpasar dan Badung untuk mendukung sistem pengelolaan berbasis sumber.
Ia menekankan bahwa hanya sampah residu dengan kualitas tertentu yang nantinya akan masuk ke TPA, sehingga proses konversi menjadi energi dapat berjalan lebih optimal.
Tidak hanya menangani sampah baru, timbunan lama di TPA Suwung juga akan dimanfaatkan sebagai bahan baku energi saat PSEL mulai beroperasi. Ke depan, kawasan tersebut direncanakan ditata ulang menjadi ruang terbuka hijau.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota ini diharapkan mampu menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan. Volume sampah yang masuk ke TPA diproyeksikan dapat ditekan hingga 70–90 persen.(ism/gb)





