GATRABALI.COM, DENPASAR – Menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026, Paguyuban Maruti Suta menggelar diskusi yang mengupas pentingnya pengendalian pikiran dalam menjalani kehidupan dan mencapai tujuan Agama Hindu.
Nengah Yasa sebagai pemantik diskusi menyampaikan bahwa dalam ajaran Hindu terdapat sebuah perumpamaan yang menggambarkan kehidupan manusia seperti sebuah kereta yang sedang melakukan perjalanan. “Perumpamaan ini menjelaskan bagaimana manusia seharusnya mengendalikan diri agar dapat mencapai tujuan hidup yang sejati,” kata Yasa pada acara yang dipandu oleh mahasiswa FISIP Unwar Ni Kadek Cintya Devi Lestari dan Tasya Pranawa itu.
Selain Yasa, diskusi spiritual yang dilaksanakan di daerah Peguyangan, Kota Denpasar, belum lama ini juga menghadirkan pemantik diskusi lainnya yakni Wayan Taman, Nyoman Siaga dan Made Yama. Hadir pula Pembina Paguyuban Maruti Suta yang juga Dekan FISIP Universitas Warmadewa Dr. I Made Yudhiantara, M.AP dan sejumlah anggota paguyuban yang datang dari berbagai kabupaten/kota di Pulau Dewata.
Yasa memaparkan, kereta atau Ratha melambangkan tubuh manusia. Tubuh menjadi sarana yang digunakan oleh jiwa untuk menjalani kehidupan di dunia. Dalam kereta terdapat penumpang yang melambangkan Atman, yaitu jiwa sejati manusia. Dalam ajaran Hindu, Atman merupakan bagian dari Brahman, sumber dari segala kehidupan.
Sementara itu, kusir atau sais melambangkan buddhi, yaitu kecerdasan atau akal budi manusia. Kusir memiliki peran penting untuk mengarahkan kereta agar tetap berada di jalan yang benar. Untuk mengendalikan kereta, kusir menggunakan kendali atau tali kekang yang melambangkan pikiran (manas). Pikiran menjadi alat bagi akal budi untuk mengendalikan berbagai dorongan yang muncul dalam diri manusia.
“Selanjutnya kuda-kuda yang menarik kereta melambangkan indra manusia, seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan sentuhan. Jika kuda-kuda tersebut tidak dikendalikan dengan baik, kereta bisa keluar dari jalur yang seharusnya dan perjalanan menjadi tidak terarah,” kata Yasa menambahkan.
Adapun jalan yang dilalui kereta melambangkan berbagai objek dunia yang menarik perhatian indra manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, objek-objek tersebut dapat memicu keinginan dan godaan yang dapat membuat manusia kehilangan arah jika tidak mampu mengendalikannya.
“Makna dari perumpamaan ini adalah bahwa apabila kusir (akal budi) kuat dan kendali (pikiran) tetap terjaga, maka kuda-kuda (indra) dapat dikendalikan dengan baik. Dengan demikian, kereta akan berjalan menuju tujuan yang benar, yaitu moksa, atau kebebasan spiritual,” katanya.
Sebaliknya, jika pikiran tidak terkendali dan indra dibiarkan liar, maka kereta dapat tersesat dari jalan yang benar. Hal ini membuat manusia terjebak dalam berbagai keinginan duniawi yang menjauhkan dari tujuan hidup yang sejati.
Melalui perumpamaan ini, ajaran Hindu mengajarkan bahwa manusia perlu belajar mengendalikan indra, menenangkan pikiran, serta menggunakan akal budi dengan bijaksana. “Dengan demikian, jiwa dapat menjalani perjalanan hidup dengan arah yang benar hingga mencapai tujuan tertinggi, yaitu moksa,” ucapnya.
Sementara itu, Wayan Taman berpandangan senada bahwa diperlukan pengendali “kuda” yang pas agar kita tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai.
Dikaitkan dengan momentum Hari Suci Nyepi, diantara bagian-bagian Catur Brata Penyepian, maka Amati Lelanguan atau meredam kesenanganlah yang paling awal harus dipahami, baru kemudian diikuti dengan Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Geni.
“Cara untuk mengistirahatkan pikiran adalah dengan memilah-milah mana yang disenangi. Jika kesenangan itu tidak menguntungkan atau tidak memberikan dampak positif, maka harus diredam,” ujar Taman.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung mengenai Ahamkara atau sifat keakuan atau ego yang hendaknya terarah. Kalau tidak terarah atau merasa diri paling sempurna, maka justru akan menguatkan munculnya bagian-bagian Sad Ripu dalam diri yakni Kama, Lobha, Krodha, Moha, Mada, dan Matsarya.
Sedangkan Nyoman Siaga menegaskan bahwa orang yang spiritual itu dapat dilihat dari aksi nyata yang dilakukan secara ikhlas untuk membantu sesama dan tepat sasaran. “Misalnya saja ketika ada teman yang sakit, orang spiritual tentunya akan memberikan uang untuk membantu berobat ataupun bantuan lainnya yang dibutuhkan, dibandingkan hanya menyampaikan wacana-wacana,” ucapnya sembari mengatakan untuk menolong orang pun, tidak terbatas hanya kepada orang-orang yang dikenal.
Made Yama dalam kesempatan itu memberikan pandangan bahwa di tengah berbagai ritual yang kita lakukan sehari-hari, hendaknya juga disadari filsafat dan esensi dari ritual yang dilaksanakan.
Di tengah berbagai ajaran kebajikan yang dapat dibaca dari berbagai kitab suci maupun wacana-wacana spiritual yang didiskusikan, para peserta diskusi menggarisbawahi bahwa yang terpenting adalah agar dapat diimplementasikan atau dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.





