spot_img
spot_img
BerandaBaliLabyrinth Art Gallery di Nuanu Hadirkan “Prints in Motion”, Dorong Popularitas Seni...

Labyrinth Art Gallery di Nuanu Hadirkan “Prints in Motion”, Dorong Popularitas Seni Cetak di Bali

GATRABALI.COM, TABANAN — Labyrinth Art Gallery menghadirkan pameran terbaru bertajuk Prints in Motion yang berlangsung hingga 26 Mei 2026.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi dengan Devfto Printmaking Institute dan menampilkan perkembangan seni cetak kontemporer melalui karya 27 seniman dari lima negara, yakni Indonesia, Prancis, Rusia, Swiss, dan Inggris.

Pameran ini mengeksplorasi printmaking atau seni cetak sebagai medium yang dinamis dan terus berkembang. Berbagai teknik seperti relief, intaglio, hingga litografi dipadukan dengan pendekatan eksperimental lintas media, memperlihatkan bagaimana batas antara teknik tradisional dan praktik kontemporer semakin cair.

Gallery Director Labyrinth Art Gallery, Kelsang Dolma, menyebut pameran ini menjadi ruang penting bagi medium yang kerap dipandang terbatas. Menurutnya, printmaking tidak sekadar teknik reproduksi, tetapi juga sarana eksplorasi artistik yang kaya proses dan kejutan.

Baca Juga  TP PKK Jembrana saat Gelar Pasar Murah, Mendapatkan Nilai Transaksi Mencapai 72 Juta Rupiah dalam Sehari

Pendiri Devfto, Devy Ferdianto, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hasil perjalanan hampir lima tahun pengembangan studio yang didirikannya sejak 2021 di Ubud. Studio tersebut bersifat terbuka (open studio), sehingga siapa pun dapat datang dan belajar.

“Yang kami tampilkan di sini ada 48 karya dari 27 seniman yang pernah berkarya di studio kami. Tidak hanya dari Bali, tetapi juga Bandung, Jakarta, bahkan luar negeri seperti Rusia dan Ukraina,” ujarnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan Nuanu menjadi langkah penting dalam memperkenalkan seni cetak yang hingga kini masih belum populer di Indonesia, meski telah diperkenalkan sejak 1964 di institusi pendidikan.

Baca Juga  Nuanu Hadirkan Art & Bali 2025, Art Fair Internasional Pertama di Bali dengan Konsep yang Berbeda

Menurut Devy, salah satu tantangan utama adalah persepsi kolektor terhadap karya berbasis kertas.

“Karena Indonesia negara tropis, banyak yang ragu mengoleksi karya di atas kertas karena faktor perawatan,” jelasnya.

Meski demikian, ia melihat tren positif. Pada Februari 2026, untuk pertama kalinya digelar art fair khusus karya berbasis kertas di Jakarta, yang menunjukkan meningkatnya minat masyarakat.

Ia berharap Devfto dapat menjadi studio terdepan di Bali dan Indonesia, sekaligus memberi ruang bagi seniman untuk terus berkarya tanpa ragu.

Salah satu seniman yang terlibat, Dodit Artawan, mengungkapkan pengalamannya saat pertama kali mendalami teknik printmaking melalui workshop di Devfto.

Baca Juga  X Hotel di Jantung Nuanu, Investasi Hospitality yang Menyasar Pertumbuhan Jangka Panjang

“Saya biasanya bekerja di kanvas, jadi saat mencoba screen print terasa sangat berbeda dan cukup terbatas. Tapi justru itu yang membuat saya tertarik untuk belajar lebih dalam,” katanya.

Ia juga memanfaatkan berbagai alat dari studio seperti roller dalam proses berkaryanya.

Melalui pameran ini, Labyrinth Art Gallery tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga menyoroti pentingnya ruang kolektif sebagai tempat bertukar ide dan eksplorasi teknik.

Studio diposisikan bukan sekadar ruang produksi, melainkan juga ruang dialog bagi para seniman.

Prints in Motion menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman publik terhadap seni cetak, sekaligus memperkuat ekosistem seni kontemporer di Bali yang semakin terbuka terhadap eksperimen dan kolaborasi lintas budaya.(ri/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments