spot_img
spot_img
BerandaOpini dan ArtikelMenggapai Surga Melalui Bhakti Kepada Ibu dalam Tradisi Hindu

Menggapai Surga Melalui Bhakti Kepada Ibu dalam Tradisi Hindu

GATRABALI.COM, DENPASAR

PENDAHULUAN

Dalam tradisi Hindu, wanita — terutama seorang ibu – memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ibu bukan sekadar manusia biasa, melainkan perwujudan nyata dari kekuatan suci Tuhan (Sakti) di tengah kehidupan sehari-hari. Namun, ada juga ungkapan lama yang sering kita dengar:

“Wanita itu adalah surga, wanita itu adalah neraka; itulah dua sisi wanita.”

Dua sisi ini sebenarnya bukan sifat buruk yang melekat pada diri wanita. Ungkapan itu justru menggambarkan cara kita memperlakukan mereka. Banyak orang mencapai kebahagiaan dan keberhasilan berkat doa serta dukungan wanita di sisinya. Sebaliknya, tidak sedikit pula yang jatuh dan hancur hidupnya karena berani melecehkan kehormatan wanita. Sederhananya: hidup kita berjalan sesuai dengan cara kita bersikap kepada mereka. Hal ini diajarkan baik dalam kitab suci maupun dalam kisah-kisah kepahlawanan yang diwariskan turun-temurun.

AJARAN SUCI TENTANG KEDUDUKAN WANITA

Hubungan antara perlakuan terhadap wanita dan nasib sebuah keluarga dijelaskan dengan tegas dalam Manawa Dharma Sastra (Manu Smriti) III.57:[1]

Baca Juga  Pembuktian Adanya Reinkarnasi dalam Kehidupan Manusia Sebagai Salah Satu Fondasi Ajaran Agama Hindu

śocanti jāmayo yatra, vinaśyaty āśu tat kulam,

na śocanti tu yatraitā, vardhate tad dhi sarvadā

Artinya: “Keluarga yang wanitanya hidup dalam kesedihan akan cepat hancur. Sebaliknya, keluarga yang wanitanya hidup bahagia akan selalu makmur dan sejahtera.”

Makna sloka ini sederhana: kebahagiaan keluarga, bahkan masyarakat dan negara, sangat bergantung pada bagaimana wanita diperlakukan. Jika kita menyayangi, menghormati, dan menjaga perasaan mereka, kita sedang melangkah menuju kebahagiaan (surga). Sebaliknya, jika kita menyakiti dan merendahkan mereka hingga menangis, tanpa sadar kita sedang menyeret diri sendiri ke dalam penderitaan yang panas membakar bagaikan api neraka.

BUKTI DALAM KISAH MAHABHARATA

Kebenaran ajaran ini terbukti nyata dalam kisah besar Mahabharata. Salah satu peristiwa paling kelam terjadi ketika Dewi Drupadi dipermalukan secara keji oleh Dursasana di balairung judi Hastinapura, di hadapan para tetua dan bangsawan terhormat.[2]

Pelecehan terhadap kehormatan seorang wanita itu bukan sekadar masalah keluarga, melainkan dosa besar. Air mata dan kutukan Drupadi menjadi pemicu utama pecahnya perang besar Bharatayudha di padang Kurukshetra.[3] Perang dahsyat itu berakhir dengan musnahnya seluruh keluarga Korawa tanpa sisa.

Baca Juga  Menggali Filosofi Tumpek Uye: Kasih, Kesadaran, dan Pelayanan Tanpa Pamrih sebagai Pedoman Kehidupan Harmonis

Dari kisah ini, para leluhur mewariskan pelajaran hukum karma yang pasti: penghinaan terhadap wanita tidak akan pernah mendatangkan kejayaan, dan kehancuran moral suatu bangsa dimulai ketika air mata wanita suci menetes ke bumi karena perlakuan zalim.

BHAKTI KEPADA IBU: JALAN TERDEKAT MENUJU SURGA

Dari semua bentuk penghormatan kepada wanita, bhakti kepada ibu adalah yang tertinggi dalam tradisi Hindu. Ibu adalah guru rupaka — guru pertama kita, tempat pertama kita merasakan kasih sayang, ketulusan pengorbanan, dan belajar nilai-nilai kebaikan.

Dalam tradisi Weda dikenal ajaran mātṛ devo bhava, yang berarti menghormati ibu layaknya dewa yang nyata di rumah kita sendiri.[4] Menghormati, menaati, dan membahagiakan ibu bukan sekadar kewajiban moral atau sopan santun, melainkan sebuah yajña (persembahan suci) yang membawa berkah besar bagi kehidupan saat ini maupun kehidupan setelah kematian.

Baca Juga  Kuningan Sebagai Ruang Spiritualitas

Bhakti kepada ibu dapat diwujudkan dalam tindakan sehari-hari yang sederhana, dengan dampak yang nyata:

PENUTUP

Surga tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia dimulai dari rumah sendiri, dari cara kita menghormati wanita, dan terutama dari bhakti yang tulus kepada ibu. Ibu adalah dewa yang nyata dan pintu surga bagi anak-anaknya. Dengan menjaga perasaannya, memenuhi kebutuhannya, dan memohon doa restunya, kita sedang menapaki jalan menuju kebahagiaan lahir dan batin.

Om Santhi, Santhi, Santhi, Om

[1] Mānava Dharmaśāstra (Manusmṛti) III.57.

[2] Mahābhārata, Sabhāparwa — peristiwa permainan dadu di balairung Hastinapura, ketika Drupadi dipermalukan oleh Dursasana.

[3] Perang Bhāratayuddha di padang Kurukṣetra, dikisahkan mulai Udyogaparwa hingga Śalyaparwa dalam Mahābhārata.

[4] Taittirīya Upaniṣad I.11.2: “mātṛ devo bhava” — jadikanlah ibu sebagai dewa (yang dihormati laksana Tuhan).

Oleh: Dr.  I Ketut Sudira, SH.,MH

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar

Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments