GATRABALI.COM, DENPASAR – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa Bali merupakan contoh terbaik dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif (ekraf) secara terpadu.
Dalam pertemuannya bersama Gubernur Bali Wayan Koster di Jayasabha, Denpasar, Jumat (13/6/2025), Riefky menyebut Pulau Bali sebagai “success story” dari implementasi UU Ekraf yang telah dirintis sejak dirinya masih di Komisi X DPR RI.
“Bali membuktikan bagaimana seluruh subsektor ekraf — mulai dari fashion, kuliner, seni pertunjukan, hingga teknologi digital dan AI — dapat tumbuh bersamaan dan menghasilkan nilai ekonomi yang besar,” ujarnya.
Menurut Riefky, kekuatan Bali terletak pada sinergi antara kreativitas lokal, sumber daya manusia unggul, serta keberpihakan terhadap keberlanjutan. Karena itulah, Bali dinilai layak menjadi pusat pembelajaran nasional dalam pengembangan ekraf.
Ia juga menyoroti pentingnya kelembagaan khusus di daerah. Kemenparekraf saat ini mendorong lahirnya Dinas Ekonomi Kreatif tersendiri di level provinsi maupun kabupaten/kota. Berdasarkan data, sebanyak 45 persen daerah sudah siap menjalankan struktur tersebut, dengan 20 persen lainnya sedang menyiapkan regulasi dan SDM.
“Selama ini ekonomi kreatif hanya ditempelkan pada dinas pariwisata. Padahal harusnya ada dinas tersendiri agar bisa lebih fokus menghasilkan pelaku usaha, bukan sekadar dokumen laporan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Riefky juga memberikan dukungan terhadap berbagai agenda ekraf di Bali, seperti pembangunan zona kreatif, pemberdayaan pembiayaan, penguatan regulasi perlindungan karya anak bangsa, serta penyelenggaraan turnamen game digital berskala nasional dan internasional.
Menanggapi pernyataan Menteri Riefky, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomi kreatif Bali memang didesain berbasis budaya dan kearifan lokal. Bali yang tidak memiliki potensi tambang, lanjut Koster, justru memiliki kekayaan nilai budaya dan kreativitas masyarakat yang menjadi modal besar ekonomi masa depan.
“Anak-anak muda Bali sangat kreatif, dan kita harus memberikan ruang dan dukungan. Dari festival hingga produk seperti desain kaos dan kriya lokal, semua tumbuh dari akar budaya,” jelasnya.
Gubernur Koster juga menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 telah menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya diversifikasi ekonomi. Ketergantungan Bali terhadap pariwisata yang mencapai 66 persen dari PDRB menyebabkan ekonomi terpukul saat sektor itu lumpuh.
Sebagai solusinya, ia mendorong Transformasi Ekonomi Bali melalui enam pilar utama: pertanian, kelautan, industri branding Bali, koperasi dan UMKM, ekraf dan digital, serta pariwisata yang diarahkan sebagai nilai tambah.
“Kalau pariwisata terganggu, ekonomi Bali tidak boleh ikut goyah. Karena itu, kita siapkan sistem ekonomi alternatif yang lebih tangguh,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan rencana pembentukan Badan Ekonomi Kreatif dan Digital di Bali untuk mengorganisir pelaku industri kreatif secara lebih terstruktur dan lintas sektor.
“Ekraf tidak bisa dibiarkan tumbuh liar tanpa perlindungan. Harus ada regulasi yang berpihak, agar pelaku UMKM dan IKM tetap bisa bersaing dan bertahan,” tegasnya.
Sekretaris Kementerian Parekraf, Dessy Ruhati, turut mengapresiasi langkah Bali dalam membangun sektor ekraf. Ia menyebutkan bahwa seluruh subsektor kreatif di Bali tetap aktif bahkan saat masa pandemi, dan menjadi penyelamat ekonomi saat sektor lain terhenti.
“Bali adalah bukti nyata kekuatan ekonomi kreatif jika dikelola dengan baik dan terintegrasi. Kolaborasi antara pusat dan daerah menjadi kunci agar ekraf semakin kuat ke depan,” ujarnya.
Sebagai penutup acara, Gubernur Bali menyerahkan kain endek khas Bali kepada Menteri Riefky sebagai bentuk penghargaan atas dukungan terhadap ekraf Bali. Kain tersebut merupakan hasil karya perajin binaan Dekranasda Bali yang telah menembus pasar global, termasuk dipakai oleh rumah mode kelas dunia seperti Christian Dior.(ism/gb)





