GATRABALI.COM, BULELENG — Pelaksanaan upacara metatah (potong gigi) massal di Wantilan Desa Adat Cempaga mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, Senin, 20 April 2026.
Menurut Wabup Supriatna, penyelenggaraan metatah secara kolektif menjadi solusi efektif dalam membantu masyarakat menjalankan kewajiban adat, terutama dalam menekan biaya tanpa mengurangi nilai sakral upacara.
Ia menjelaskan, metatah merupakan bagian dari Manusa Yadnya yang memiliki makna penting sebagai simbol pendewasaan sekaligus pengendalian enam sifat negatif manusia (Sad Ripu).
“Metatah massal ini mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat. Selain meringankan beban biaya, kegiatan ini juga tetap menjaga esensi kesucian dari upacara tersebut,” ujarnya.
Wabup juga mengapresiasi peran aktif prajuru desa adat dan masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi seperti ini menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah Kabupaten Buleleng, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai kegiatan adat dan keagamaan, termasuk model pelaksanaan secara massal yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Panitia, I Nyoman Sukanata, menyampaikan bahwa kegiatan metatah massal ini diikuti oleh 125 peserta dengan sistem pembiayaan berbasis urunan krama sebesar Rp500.000 per orang.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian desa adat dalam membantu krama menjalankan kewajiban Manusa Yadnya secara lebih ringan, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan.
“Dengan dukungan seluruh krama dan desa adat, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik serta tetap menjaga kesakralan yadnya,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh bagi desa adat lainnya dalam mengembangkan pola gotong royong guna mendukung pelaksanaan upacara adat yang inklusif dan berkelanjutan.(adv/gb)





