spot_img
spot_img
BerandaOpini dan ArtikelNista, Madya, Utama: Spektrum Bakti Umat Hindu Kontemporer

Nista, Madya, Utama: Spektrum Bakti Umat Hindu Kontemporer

GATRABALI.COM, DENPASAR –

UKURAN BAKTI YANG SEBENARNYA

Dalam ajaran kita, segala bentuk pengabdian dibagi menjadi tiga tingkatan: Nista (rendah/sederhana), Madya (sedang), dan Utama (tinggi/puncak).[1] Banyak yang salah paham: mengira Nista berarti kurang berbakti, Madya cukup baik, dan Utama pasti harus mewah, mahal, serta meriah. Padahal tingkatan ini bukan mengukur uang atau kemegahan, melainkan ketulusan hati, niat, dan dampaknya bagi diri serta keluarga.

Ajaran suci mengajarkan: yang dilihat bukan seberapa mahal persembahan, melainkan seberapa tulus hati yang memberi.[2]

  1. SEMBAHYANG HARIAN: KEKHUSUKAN ADALAH TINGKATAN UTAMA

Saya melihat contoh nyata ini setiap hari di rumah saya sendiri. Istri saya tidak pernah melewatkan sembahyang, meskipun hari itu ia sibuk mengurus rumah tangga, bekerja, atau merawat anak — tanpa ada hari yang terlewatkan, meski kadang-kadang baru dilaksanakan pada malam sebelum tidur. Banten yang ia buat pun sederhana: sekuntum bunga kamboja, sedikit dupa, air suci, dan persembahan kecil dari hasil masakan sendiri. Ia melakukannya dengan tenang, mata tertutup khusuk, dan bibir berdoa dengan penuh penghayatan. Yang lebih indah, ia selalu mengajak saya dan anak-anak ikut duduk bersama, mengajarkan cara bersembahyang yang benar, dan mengingatkan bahwa sembahyang adalah cara kita berbicara dengan Ida Sang Hyang Widhi, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban.

Mari kita lihat perbedaannya dengan contoh lain:

Nista: Ada tetangga yang bangun pagi, buru-buru membuat banten seadanya, bersembahyang sambil melihat jam, lalu langsung pergi bekerja tanpa merenung sedikit pun. Ia melakukannya hanya karena takut dikatakan orang tidak beribadah — hatinya tidak ada di sana.

Madya: Ada kerabat yang selalu membuat banten lengkap dan indah, tata caranya tepat menurut aturan, namun setelah selesai ia tidak mengubah kelakuannya — masih suka marah-marah, iri hati, atau pelit kepada sesama.

Utama: Seperti yang dilakukan istri saya — meski sederhana, dilakukan dengan rutin, khusuk, dan menjadi teladan bagi seluruh keluarga. Ia merasakan kedamaian setiap selesai bersembahyang, dan kebaikan itu terlihat dari sikapnya yang sabar, penyayang, dan jujur setiap hari.

Ajaran suci mengingatkan kita: “Yadnya tidak dinilai dari banyaknya harta yang dikeluarkan, melainkan dari kesucian niat dan keikhlasan hati.”[3] Sembahyang harian yang tulus itu nilainya jauh lebih tinggi daripada upacara megah yang kosong makna.

  1. HARI SUCI: MERIAH BOLEH, NAMUN JANGAN LUPA HAKIKATNYA

Hari suci adalah momen kita bersyukur, merenung, dan mempererat kasih sayang. Merayakannya dengan meriah tidak salah, asalkan kita tidak lupa intinya. Berikut contoh nyata perbedaannya:

Nista: Ada keluarga yang menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk membeli makanan mewah, mengundang banyak orang sekadar pamer, dan sibuk bersenang-senang seharian. Hingga hari suci usai, mereka tidak pernah sempat duduk tenang bersembahyang, meminta maaf kepada anggota keluarga, atau merenungkan perbuatan mereka setahun ini.

Madya: Ada keluarga yang melaksanakan upacara dengan lengkap dan benar, menyajikan makanan yang layak, mengundang kerabat untuk berkumpul, namun perhatian mereka lebih tertuju pada apakah upacaranya sudah sempurna lahiriahnya, apakah tamu yang datang sudah cukup banyak — bukan pada kebersamaan hati.

Baca Juga  Rugby untuk Anak, Olahraga Menyenangkan yang Melatih Keberanian dan Kerjasama

Utama: Ada keluarga sederhana yang hanya membuat makanan seadanya, upacara dilaksanakan dengan tata cara yang benar namun sederhana. Setelah selesai bersembahyang, mereka duduk bersama, saling memaafkan kesalahan yang pernah terjadi, berjanji untuk lebih baik lagi, dan membagi sebagian makanan kepada tetangga yang kurang mampu. Inilah kemeriahan hati yang sesungguhnya.

Dalam syarat Satwika Yadnya disebutkan: “Nasmita — janganlah mengadakan upacara untuk memamerkan kekayaan atau kemewahan.”[4] Kemeriahan yang benar adalah kemeriahan hati yang penuh rasa syukur, bukan kemeriahan yang menguras harta.

  1. PIODALAN: ANTARA RASA SYUKUR DAN TANGGUNG JAWAB

Saya pernah merasakan sendiri pengalaman ini puluhan tahun yang lalu. Saat itu saya baru saja memiliki rumah sendiri, hati saya penuh rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi dan leluhur. Saya melaksanakan piodalan dengan tulus, sederhana namun penuh penghayatan, dan perasaan bahagia itu tak terlupakan.

Namun suatu hari, ada pemangku yang meminta saya melaksanakan piodalan berturut-turut tiga kali dalam waktu dekat, dengan biaya yang mencapai jutaan rupiah. Saat itu saya ragu, bukan karena tidak hormat, melainkan saya berpikir: uang itu hasil kerja keras saya bertahun-tahun, yang seharusnya disiapkan untuk biaya sekolah anak-anak, kesehatan keluarga, dan bekal masa depan mereka. Apakah benar leluhur menghendaki kita mengorbankan kesejahteraan anak cucu hanya demi kemegahan upacara?

Mari kita lihat perbandingannya dengan contoh nyata lain:

Nista: Ada orang yang memaksakan diri menggelar piodalan sangat meriah, menyewa hiburan, menyajikan makanan mewah, hingga akhirnya berhutang besar. Ia melakukannya hanya agar dipuji orang sebagai orang kaya dan berbakti, padahal setelahnya ia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari sendiri.

Madya: Ada keluarga yang melaksanakan piodalan lengkap tata caranya, mengundang tetua adat dan kerabat, biaya yang dikeluarkan sesuai kemampuan, namun masih beranggapan bahwa semakin lengkap dan meriah pelaksanaannya, semakin besar pula pahala yang didapat.

Utama: Seperti yang saya jalani sekarang  piodalan di merajan dilaksanakan secara sederhana setiap enam bulan sekali, sesuai kemampuan. Dilakukan dengan hati yang penuh rasa syukur, hormat kepada leluhur, dan doa agar keluarga senantiasa sejahtera. Tidak ada pamer harta, tidak ada beban berat, namun rasa bakti itu tetap terjaga.

Leluhur tidak butuh uang kita; mereka butuh rasa hormat dan keteladanan kita. Ida Sang Hyang Widhi tidak butuh harta kita; Ia butuh hati yang tulus dan hidup yang bertanggung jawab.

KEMBALI PADA HAKIKAT

Tantangan umat Hindu masa kini bukanlah kurang meriahnya upacara, melainkan mulai tergesernya pemahaman: kita sering menganggap yang mahal pasti lebih utama, yang sederhana dianggap kurang berbakti.

Baca Juga  Tinjau Rencana Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali jadi Kawasan Hutan Kota Semarapura

Padahal semua ajaran suci — mulai dari Weda, Bhagavad Gita, hingga aturan adat — selalu mengajarkan hal yang sama.[5]

Mari kita berbakti dengan benar, bijaksana, dan penuh tanggung jawab. Biarlah niat kita bersih, hati kita tulus, dan langkah kita selalu selaras dengan ajaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta leluhur kita semua.

Sembahyang yang dilakukan setiap hari bermanfaat untuk meningkatkan śraddhā bakti kepada Sang Pencipta, selain sebagai sarana introspeksi tentang apa yang sepatutnya dilakukan oleh manusia yang begitu diuntungkan hidup sebagai manusia — sehingga dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar untuk memperbaiki diri, sebagaimana ditegaskan dalam Sārasamuccaya sloka 2:

“Ihanang janma wwang juga, yan hana wwang, ikang janma wwang juga, pinaka utama, apan ikang wwang juga wenang angawruhakena ikang subha-asubha, ikang dharma-adharma.”[6]

Terjemahan: “Di antara semua kelahiran, kelahiran sebagai manusia adalah yang utama, sebab hanya manusia yang dapat mengetahui mana yang baik dan tidak baik, mana yang dharma dan adharma.”

Hakikat kelahiran manusia dalam Sārasamuccaya juga disebutkan pada sloka lain yang menambahkan bahwa manusia sajalah yang dapat menjadi sebab adanya baik dan buruk, dharma dan adharma, dosa dan pahala, surga dan neraka.[7] Maksudnya, hanya manusia yang bertanggung jawab atas akibat perbuatannya. Pilihan kita menentukan apakah hidup menuju kebahagiaan (surga) atau penderitaan (neraka).

Bersembahyang pada waktu odalan memang baik, asal jangan melupakan kewajiban sembahyang setiap hari.

Sembahyang ketika hari raya penting, tetapi jangan sampai mengabaikan pelaksanaan harian. Sebab ibadah sejati bukan hanya pada kemegahan upacara, melainkan pada ketekunan hati yang tulus setiap hari.

Upacara besar memberi semangat, tetapi sembahyang harian menjaga jiwa tetap dekat dengan Tuhan.

INGATLAH, KEMULIAAN BUKAN TERLETAK PADA KERAMAIAN, MELAINKAN PADA KESETIAAN YANG SEDERHANA NAMUN KONSISTEN.

DAFTAR RUJUKAN

Kajeng, I Nyoman, dkk. (penerjemah). Sarasamuccaya: Dengan Teks Bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna serta Terjemahan Bahasa Indonesia. Surabaya: Paramita, 2010.

Pendit, Nyoman S. Bhagavad Gītā. Jakarta: Hanuman Sakti/Paramita, berbagai cetakan.

I Gusti Made Ngurah, dkk. Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Jakarta: Ganeca Exact, berbagai edisi.

Sudharta, Tjok Rai. Sarasamuccaya (terjemahan dan ulasan). Surabaya: Paramita, 2009.

[1]Pembagian tingkatan yadnya/bakti menjadi Nista (sederhana), Madya (menengah), dan Utama (utama) adalah konsep umum dalam ajaran Hindu Bali yang berkaitan dengan prinsip Desa-Kala-Patra (penyesuaian tempat, waktu, dan keadaan). Ketiga tingkatan ini merupakan pilihan tingkat kualitas pelaksanaan yang sah, bukan jenjang mutu moral; nilai suatu yadnya ditentukan oleh kualitas batin pelaksananya (śraddhā dan lascarya), bukan oleh besar-kecilnya sarana upacara. Lih. I Gusti Made Ngurah, dkk., Buku Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti (Jakarta: Ganeca Exact, cet. berbagai edisi); lihat pula uraian tentang Satwika Yadnya pada catatan kaki no. 3 di bawah.

[2]Prinsip ini sejalan dengan ajaran Bhagavadgītā IX.26: “Pattraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ yo me bhaktyā prayacchati, tad ahaṁ bhaktyupahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ” — “Siapa pun mempersembahkan kepada-Ku dengan bakti setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, atau seteguk air, Aku terima persembahan bakti itu dari orang yang berhati suci.” Lih. terjemahan Nyoman S. Pendit, Bhagavad Gītā (Jakarta: Hanuman Sakti/Paramita, berbagai cetakan), sloka IX.26. Kutipan “Yadnya tidak dinilai dari banyaknya harta…” pada teks utama merupakan parafrase populer dari semangat ajaran ini yang lazim digunakan dalam dharma wacana; penulis disarankan mencantumkan rujukan sloka aslinya jika hendak mengutipnya secara verbatim.

Baca Juga  Mahasiswa ITB AD Menggali Potensi Desa Sanur Kaja melalui Program BUMDes

[4]“Nasmita” adalah satu dari tujuh syarat Satwika Yadnya (yadnya yang berkualitas baik/sattvika), yaitu: śraddhā (keyakinan), lascarya (keikhlasan), śāstra (berlandaskan sumber sastra agama), dakṣiṇā (kelengkapan sarana dan punia), mantra dan gīta (nyanyian suci pemujaan), annasewa (jamuan bagi tamu), dan nasmita (tidak untuk memamerkan kekayaan/kemewahan). Konsep tiga kualitas yadnya (sattvika, rajasika, tamasika) sendiri berakar pada Bhagavadgītā XVII.11–13. Lih. I Nyoman Kajeng, dkk. (penerjemah), Sarasamuccaya (Surabaya: Paramita, 2010); dan Pendit, Bhagavad Gītā, sloka XVII.11–13.

[5]Weda sebagai sumber tertinggi ajaran Hindu (śruti) dan Bhagavadgītā sebagai salah satu smṛti yang memuat ajaran Śrī Kṛṣṇa kepada Arjuna keduanya menegaskan keutamaan niat dan pengabdian yang tulus dibanding kemegahan lahiriah suatu persembahan; lih. Bhagavadgītā IX.26 dan XVII.11 (cat. kaki no. 2 dan 3). Ketentuan adat dimaksud merujuk pada awig-awig desa adat dan dresta (tradisi setempat) yang mengatur pelaksanaan upacara piodalan di masing-masing merajan/pura, yang dapat berbeda antardaerah di Bali.

[6]Kutipan ini merujuk pada kandungan makna Sārasamuccaya sloka 2, yang dalam edisi terjemahan I Nyoman Kajeng, dkk. (Sarasamuccaya, Surabaya: Paramita, 2010) berbunyi: “Ri sakwehning sarwa bhūta, iking janma wwang juga wênang gumawayaken ikang śubhāśubha-karma, kunêng panêntasakêna ring śubhakarma juga ikang aśubha-karma, phalaning dadi wwang” — “Di antara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melakukan perbuatan baik maupun buruk; meleburkan yang buruk ke dalam perbuatan baik itulah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.” Rumusan bahasa Kawi pada teks utama tampak merupakan versi parafrase yang beredar luas dalam ceramah dharma wacana dan berdekatan maknanya dengan Sārasamuccaya sloka 2 dan sloka 4 (“Apan ikang dadi wwang, uttama juga ya…”). Penulis disarankan memeriksa kembali nomor sloka dan teks Kawi-nya pada edisi Kajeng, dkk. sebelum dikutip secara verbatim dalam karya ilmiah.

[7]Kandungan makna ini berdekatan dengan Sārasamuccaya sloka 4, yang menegaskan keutamaan lahir sebagai manusia karena dapat menolong dirinya dari samsara melalui śubhakarma (perbuatan baik). Lih. Kajeng, dkk., Sarasamuccaya, sloka 4. Sebagaimana catatan pada footnote sebelumnya, disarankan memverifikasi nomor sloka yang tepat pada edisi rujukan yang digunakan.

Oleh: Dr.  I Ketut Sudira, SH.,MH

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar

Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments