GATRABALI.COM, BULELENG – Di tengah derasnya arus teknologi yang membuat manusia kian lekat dengan layar gawai, Hari Suci Siwarātri hadir sebagai momentum spiritual yang relevan untuk kembali menyapa kesadaran diri.
Ketika notifikasi berdatangan tanpa jeda dan identitas digital perlahan menggantikan jati diri sejati, Siwarātri menjadi ajakan untuk berhenti sejenak, berjaga, dan melayani Sang Diri.
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, menjelaskan bahwa Siwarātri bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan perjalanan kesadaran yang sangat kontekstual dengan kehidupan modern.
“Siwarātri secara harfiah berarti malam Śiva, malam kesadaran. Ia jatuh pada malam tergelap, ketika bulan lenyap dari langit. Namun justru dalam kegelapan itulah manusia diajak menyalakan cahaya dari dalam dirinya sendiri. Di tengah dunia yang sibuk memamerkan pencapaian, Siwarātri mengajarkan keberanian untuk jujur pada diri, siapa aku, ke mana aku berjalan, dan untuk apa aku hidup,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia menuturkan, kisah Lubdaka yang digubah oleh Mpu Tanakung bukan sekadar cerita simbolik, melainkan sarat ajaran Ketuhanan dalam Hindu. Sosok pemburu dalam kisah tersebut dimaknai sebagai simbol manusia yang berburu cahaya, berburu esensi Ketuhanan, dan berburu kesadaran sejati dalam dirinya.
Lebih lanjut dijelaskan, penebusan dosa dalam ajaran Hindu bukanlah transaksi spiritual, melainkan perubahan arah hidup. Seperti ditegaskan dalam Bhagavadgītā IV.37, pengetahuan diibaratkan api yang membakar dosa sebagaimana api membakar kayu. Momentum Siwarātri, menurutnya, menjadi waktu bagi manusia untuk tidak hanya memohon ampun, tetapi juga berjanji pada diri sendiri untuk hidup lebih sadar keesokan harinya.
“Setiap manusia wajib berburu kebajikan, esensi Ketuhanan. Yang diburu itu sesungguhnya sifat kebinatangan dalam diri. Satwa bermakna pemusnahan sifat buruk menuju sifat-sifat kebaikan. Inilah yang harus dimunculkan dalam diri. Siwarātri adalah malam perenungan agar umat Hindu menyadari jati dirinya, matutur ikang atma ri jatinya, dialog antara jiwa dan kesejatiannya,” jelas Irma.
Ia menambahkan, di era digital, avidyā atau ketidaktahuan sering muncul dalam wujud yang halus, seperti kecanduan pengakuan, haus validasi, kemarahan di kolom komentar, hingga lupa mendengar suara batin sendiri. Dalam konteks ini, Siwarātri menjadi malam refleksi yang membebaskan, bukan untuk menghakimi diri, melainkan untuk menyadari di mana arah hidup mulai menyimpang.
“Siwarātri mengajak kita kembali pulang ke dalam diri, menyadari siapa kita sesungguhnya, dan menyalakan kembali cahaya batin di tengah dunia yang kian bising,” pungkasnya. (adv/gb)





