GATRABALI.COM, BULELENG – Ruang publik Titik Nol Kota Singaraja semakin menunjukkan perannya sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Tak hanya menjadi tempat bersantai, kawasan yang telah ditata pemerintah daerah itu kini berkembang menjadi panggung terbuka bagi kreativitas anak muda melalui agenda musik rutin bertajuk Suara Senja.
Program yang digagas komunitas pemuda Buleleng tersebut lahir dari keinginan menghadirkan ruang ekspresi seni yang dapat dinikmati sekaligus diikuti oleh masyarakat luas. Setiap akhir pekan, Titik Nol berubah menjadi lokasi pertunjukan yang menghadirkan musisi lokal dengan suasana santai di tengah pusat Kota Singaraja.
Salah seorang penggagas sekaligus gitaris Suara Senja, Rajendra Siaga Tika, mengatakan kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang kreatif yang mampu mewadahi berbagai bentuk kesenian.
“Kami melihat tempat ini sangat berpotensi menjadi wadah anak muda mengekspresikan diri. Ke depannya, kami ingin tempat ini menjadi hub untuk segala jenis ekspresi seni budaya. Bukan hanya musik, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan ada teater, paduan suara, atau seni lainnya,” jelas Rajendra.
Menurutnya, Suara Senja dibangun dengan semangat keterbukaan sehingga siapa pun memiliki kesempatan untuk berpartisipasi. Tidak hanya musisi, penyelenggara juga membuka peluang kolaborasi dengan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, komunitas seni, hingga kelompok budaya di Kabupaten Buleleng.
Hingga pertengahan Juli 2026, Suara Senja telah digelar sebanyak tiga kali dan akan kembali hadir pada akhir pekan berikutnya. Konsistensi penyelenggaraan diharapkan mampu membangun kebiasaan baru masyarakat untuk menikmati pertunjukan seni di ruang terbuka.
Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan seniman, komunitas, dan masyarakat dalam satu wadah yang inklusif.
Rajendra menegaskan, cita-cita jangka panjang Suara Senja adalah menjadikan Titik Nol Singaraja sebagai ikon ruang kesenian publik yang hidup dan terus berkembang.
“Rencana besarnya, kami ingin menjadikan Suara Senja ini sebagai titik di mana masyarakat bisa berkumpul, bersenda gurau, dan menikmati seni bersama. Kami ingin Titik Nol Singaraja ini hidup sebagai pusat kesenian publik bagi warga Buleleng,” pungkas alumni SMAN Bali Mandara itu.
Dengan semakin aktifnya ruang publik melalui berbagai kegiatan kreatif, Titik Nol Singaraja diharapkan mampu memperkuat identitas kota sebagai pusat aktivitas seni, budaya, dan kreativitas generasi muda di Kabupaten Buleleng.(adv/gb)





