GATRABALI.COM, BADUNG – Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa secara resmi membuka Mengwitani Festival (Metafest) yang diselenggarakan di Lapangan Pratu Rai Madra, Desa Mengwitani, pada Jumat, 28 Juni 2024.
Acara ini merupakan perayaan HUT Desa Mengwitani yang ke-77 serta peringatan Bulan Bung Karno. Dalam kesempatan tersebut, tema yang diangkat adalah “Nangun Kahuripan Kertha Shanti lan Jagadhita”, menggarisbawahi pentingnya harmoni dalam kehidupan masyarakat.
Metafest kali ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk anggota DPRD Badung I Wayan Regep, DPRD terpilih I Made Rai Wirata, Camat Mengwi I Nyoman Suhartana, dan perwakilan dari berbagai lembaga masyarakat seperti LPM, BPD, Sekaa Teruna, PKK, serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Wabup. Suiasa menyatakan kebahagiaannya atas terselenggaranya Metafest yang tidak hanya merayakan budaya dan seni lokal, tetapi juga mendukung pengembangan UMKM di Desa Mengwitani. Beliau menggarisbawahi bahwa kegiatan ini sejalan dengan semangat Tri Sakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Kami berharap Metafest dapat menjadi momentum rutin yang mampu memperlihatkan bakat dan kreativitas desa serta meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Suiasa.
Perbekel Mengwitani, I Nyoman Suardana, juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan dari Pemkab Badung, DPRD Badung, dan seluruh masyarakat Mengwitani dalam mensukseskan Metafest pertama ini. Ia mengajak untuk terus memberikan masukan dan ide-ide inovatif guna memperbaiki dan mengembangkan Metafest di masa mendatang.
Ketua Panitia, I Putu Suwatmaja menambahkan bahwa Metafest akan berlangsung selama tiga hari penuh, menghadirkan berbagai kegiatan seni mulai dari lomba anak-anak hingga pertunjukan seni dewasa. Selain itu, UMKM Desa Mengwitani juga turut ambil bagian dengan menampilkan kuliner dan kerajinan khas daerah.
Dengan digelarnya Metafest ini, diharapkan dapat memperkuat jalinan silaturahmi di antara warga Mengwitani serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan seni dan budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan desa yang berkelanjutan. (gus/gb)