GATRABALI.COM, DENPASAR – Ribuan pecalang dari desa adat di seluruh Bali berkumpul dalam Gelar Agung Pacalang Bali 2026 yang dilaksanakan di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (7/3/2026).
Apel besar ini dipimpin langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara atau Manggala Utama.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Sarana Nincapang Kasukretan Jagat Bali Niskala-Sakala” yang menegaskan peran penting pecalang sebagai pengawal keamanan dan ketertiban di Bali, baik dalam dimensi sekala maupun niskala, khususnya menjelang Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Dalam arahannya, Koster menegaskan bahwa peran pecalang sangat penting dalam menjaga stabilitas keamanan berbasis desa adat. Hal ini juga menjadi bagian dari implementasi visi pembangunan Bali 2025–2030 melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Bali Era Baru.
Ia menjelaskan bahwa arah pembangunan Bali tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menjaga keselarasan antara alam, manusia, dan kebudayaan Bali. Dengan demikian, kehidupan masyarakat Bali dapat tetap harmonis dan berkelanjutan.
“Pembangunan Bali diarahkan untuk menjaga keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan, sehingga krama Bali dapat hidup harmonis secara sekala dan niskala,” ujar Koster.
Menurutnya, pecalang merupakan unsur penting dalam sistem keamanan berbasis adat yang selama ini menjadi kekuatan Bali. Oleh karena itu, sinergi antara pecalang, desa adat, serta aparat keamanan negara perlu terus diperkuat.
Penguatan sistem pengamanan tersebut diwujudkan melalui kebijakan Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat) yang telah diatur dalam Peraturan Gubernur Bali. Sistem ini mengintegrasikan peran pecalang dengan aparat TNI dan Polri dalam menjaga keamanan wilayah.
Koster juga mendorong pecalang agar terus meningkatkan kapasitas dan profesionalitas, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk membantu pemantauan situasi keamanan secara cepat dan akurat.
Ia menambahkan, apel besar pecalang ini sekaligus menjadi langkah konsolidasi menjelang pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948.
Tahun ini, pelaksanaan Nyepi memiliki dinamika tersendiri karena waktunya berdekatan dengan malam takbiran menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Kondisi tersebut menuntut koordinasi yang lebih intens antara pecalang dan aparat keamanan negara.
Koster berharap seluruh pecalang di Bali dapat berperan aktif menjaga keamanan wilayah desa adat masing-masing sehingga kedua perayaan keagamaan tersebut dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh semangat toleransi.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa Bali saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari alih fungsi lahan, persoalan sampah, kerusakan lingkungan, hingga ancaman narkotika, radikalisme, serta masuknya pengaruh budaya asing yang berpotensi menggerus nilai-nilai adat.
Dalam konteks tersebut, pecalang dinilai memiliki posisi strategis sebagai penjaga ketertiban sosial sekaligus pelindung adat, tradisi, dan budaya Bali.
Setelah upacara selesai, Gubernur Koster melakukan inspeksi terhadap barisan pecalang yang hadir dari berbagai desa adat di Bali. Ribuan pecalang tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan.
Kegiatan ini juga dihadiri Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya, Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, para bupati dan wali kota se-Bali, serta sejumlah perwakilan konsulat negara sahabat.
Melalui Gelar Agung Pacalang Bali 2026 ini, Pemerintah Provinsi Bali berharap soliditas pecalang semakin kuat dan sinergi dengan aparat keamanan negara semakin optimal dalam menjaga Bali tetap aman dan kondusif menjelang Nyepi Tahun Saka 1948.(ism/gb)





