GATRABALI.COM, DENPASAR – Bali berada dalam kawasan rawan gempa bumi dan tsunami akibat adanya tiga sumber gempa utama: Megathrust Sumba di selatan, Busur Naik Belakang Flores di utara, dan 30 sesar aktif di daratan.
Kondisi ini menuntut langkah mitigasi bencana yang terintegrasi, termasuk melalui program Tsunami Ready Community yang diinisiasi oleh UNESCO.
Program Tsunami Ready Community bertujuan membentuk masyarakat tangguh yang siap menghadapi ancaman tsunami, meminimalkan korban jiwa, dan mengurangi kerugian ekonomi. Pada 2022, Desa Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, menjadi desa pertama di Indonesia yang memperoleh pengakuan sebagai Tsunami Ready Community oleh UNESCO, diikuti oleh Desa Pengastulan, Kabupaten Buleleng, pada 2023.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun tsunami Aceh, kedua desa diundang untuk berpartisipasi dalam The 2nd UNESCO-IOC Global Tsunami Symposium yang berlangsung di Banda Aceh pada 10–14 November 2024. Desa Tanjung Benoa diwakili oleh Ketua FPRB Desa Tanjung Benoa, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, S.Sn., M.Si., sementara Desa Pengastulan diwakili oleh Sekretaris Desa Muhammad Ali.
Pada simposium ini, Desa Tanjung Benoa berbagi pengalaman mengenai upaya keberlanjutan mitigasi bencana dan dampak positif program terhadap sektor pariwisata. Komunitas ini menekankan bahwa pengakuan Tsunami Ready Community harus didukung oleh sinergi antara pemerintah, BMKG, BPBD, masyarakat, dan sektor swasta.
Momentum ini juga menjadi istimewa karena Desa Pengastulan secara resmi dikukuhkan sebagai Tsunami Ready Community oleh UNESCO.
Keberhasilan Desa Tanjung Benoa dan Desa Pengastulan menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi multihelix mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Pencapaian ini tidak hanya memberikan perlindungan bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat citra Bali sebagai daerah yang siap menghadapi bencana sekaligus menjaga kelangsungan sektor pariwisata.(gus/gb)





