spot_img
spot_img
BerandaBaliDua Budaya Khas Jembrana Diakui Nasional, Payas Dirga dan Tenun Loloan Masuk...

Dua Budaya Khas Jembrana Diakui Nasional, Payas Dirga dan Tenun Loloan Masuk WBTB 2025

GATRABALI.COMJEMBRANA – Kekayaan budaya Kabupaten Jembrana kembali memperoleh pengakuan nasional.

Busana pengantin Payas Dirga dan Kain Tenun Loloan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penetapan tersebut tertuang dalam sertifikat resmi dengan nomor registrasi 034/WB/KB.00.01/2025 untuk Payas Dirga dan 035/WB/KB.00.01/2025 untuk Kain Tenun Loloan. Dengan tambahan dua karya budaya ini, hingga tahun 2025 tercatat sebanyak 10 warisan budaya asal Jembrana yang telah diakui secara nasional.

Busana Payas Dirga dikenal sebagai busana pengantin tradisional yang memiliki nilai sejarah tinggi. Busana ini pertama kali digunakan dalam pernikahan agung putra Raja Jembrana VII pada tahun 1940.

Baca Juga  Semarak HUT ke-532 Kota Singasana, Grebeg Sampah Gerakkan Ribuan Warga Tabanan

Keunikan Payas Dirga terletak pada perpaduan unsur budaya Jawa, Cina, Melayu, dan Bugis, yang mencerminkan kuatnya pengaruh jalur perdagangan laut pada masa lampau. Selain itu, penggunaan bunga mendori yang kini mulai langka serta aksesoris gelung tanduk menjadi ciri khas tersendiri dari busana ini.

Di sisi lain, Kain Tenun Loloan merupakan simbol identitas masyarakat Bugis-Melayu di Kecamatan Negara. Tenun ikat ini diwariskan secara turun-temurun dengan aturan adat yang masih dijaga hingga kini.

Baca Juga  250 Pasang Kerbau Adu Cepat di Makepung Kapolda Cup 2025, Tradisi Jembrana Makin Bergelora

Para penenun tidak diperbolehkan menggunakan motif hewan atau manusia, melainkan motif tumbuhan dan geometris yang menggambarkan karakter masyarakat Loloan yang tegas, santun, dan religius.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara, mengatakan bahwa pengakuan tersebut melalui proses panjang, mulai dari inventarisasi hingga kajian mendalam.

“Kami terus melakukan pendataan potensi budaya. Setelah masuk dalam data Ceraken Kebudayaan Bali, kami lakukan kajian untuk menentukan mana yang dapat diusulkan menjadi WBTB. Prosesnya cukup ketat karena harus dilengkapi narasumber yang kompeten,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun proses pengusulan dilakukan tanpa alokasi anggaran khusus, pihaknya tetap berupaya maksimal dengan menggandeng tim eksternal dari Balai Pelestarian Kebudayaan dalam penyusunan naskah akademik dan pencarian narasumber ahli.

Baca Juga  Bupati Kembang Lepas 318 Atlet Jembrana, Target Masuk Lima Besar Porprov Bali

Ke depan, Pemkab Jembrana juga telah menyiapkan sejumlah potensi budaya lain untuk diusulkan sebagai WBTB Indonesia pada tahun 2026. Beberapa di antaranya yakni Jaje Bendu, Arja Sewagati, Arisan Dedara, Angklung Reyong, serta Bahasa Melayu Loloan.

Pengakuan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Jembrana.(ri/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments