GATRABALI.COM, TABANAN – Sektor Pariwisata dan pertanian seyogyanya dapat saling beriringan serta mendukung satu dengan lainnya.
Seperti halnya dalam upaya menjaga warisan leluhur perairan tradisional subak, yang terlihat lahan utamanya sawah, sedikit demi sedikit dinilai mulai tergerus oleh alih fungsi lahan terjadi dibeberapa wilayah sekitar destinasi pariwisata di Bali.
Tentu kondisi ini dalam kurun waktu tertentu akan berdampak buruk bagi lahan pertanian yang selama ini mampu menghasilkan bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat sekitar salah satunya, tanaman Padi.
Selain mengeser fungsi lahan produktif, ancaman hilangnya warisan sistem perairan tradisional Bali dengan simbul Pura Subak ikut terancam hilang.
Pura subak di Bali merupakan Pura berkaitan erat dengan sistem pengairan tradisional sawah atau subak.
Pura subak ini menjadi tempat suci bagi para petani untuk memohon kelancaran air, kesuburan tanaman, hasil panen yang baik, serta menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Dalam budaya Bali, subak bukan hanya sistem irigasi, tetapi juga bagian dari filosofi hidup Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan antara, Manusia dengan Tuhan (parhyangan), Manusia dengan sesama (pawongan) dan Manusia dengan alam (palemahan)
Dalam upaya menjaga kelangsungan subak dan lahan pertanian di Bali agar mampu beriringan dengan sektor industri pariwisata, salah satu langkah dilakukan, Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih I Ketut Purna menyampaikan, tetap fokus membantu beban para petani khususnya di areal persahan Jatiluwih dengan cara pemberian pupuk, bibit padi hingga upakara Ngusaba secara gratis ke anggota subak di Jatiluwih.
“Touris yang berkunjung ke DTW Jatiluwih merupakan bonus dari Pertanian yang ada di Jatiluwih ini.Begitu Saya menjabat sebagai Manajer, telah fokus bagaimana cara dapat membantu petani di Jatiluwih.Dengan beberapa cara saya lakukan mulai, pemberian pupuk, bibit padi hingga Ngusaba secara gratis juga disini,” katanya, saat ditemui langsung disela aktifitasnya di DTW Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, kemarin, Jumat,(12/6/2026).
Ia memiliki rencana kedepan dengan cara memberi bantuan biaya olah lahan pertanian ke para anggota Subak Jatiluwih.
“Selanjutnya rencana kita yang paling penting dalam membantu petani yakni dengan pemberian biaya olah lahan pertanian.Ini yang sedang kita bicarakan saat ini dengan para petani disini,” ucapnya.
Dirinya menambahkan, rencana pemberian biaya olah lahan pertanian akan diberikan ke para petani saat musim panen yang akan datang.
“Mungkin saat musim panen mendatang dapat kita berikan biaya olah lahan pertanian ini kepara petani-petani di Jatiluwih,” tutupnya. (gun/gb)





