spot_img
spot_img
BerandaBaliJanger Kolok Bengkala, Simfoni Sunyi yang Menggema dari Buleleng

Janger Kolok Bengkala, Simfoni Sunyi yang Menggema dari Buleleng

GATRABALI.COM, BULELENG – Di balik keheningan, seni tetap bisa bersuara. Hal ini dibuktikan oleh Janger Kolok, kesenian khas Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, yang dipentaskan oleh penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara. Tarian ini tak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga simbol inklusivitas dan keteguhan budaya Bali.

Diiringi tabuh kendang dan cengceng, para penari menyampaikan kisah Arjuna Wiwaha melalui gerakan dan bahasa isyarat. Keunikan ini menjadikan Janger Kolok sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional yang diakui Kementerian Kebudayaan.

Baca Juga  Kreativitas Perempuan Warnai PKB 2026, TP PKK Badung Gelar Enam Cabang Lomba Tradisional

“Janger Kolok lahir dari pemikiran almarhum Bapak Wayan Nedeng pada 1969, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat kolok agar dapat mengekspresikan diri dan mendapatkan ruang dalam dunia kesenian, setara dengan masyarakat pada umumnya,” ujar I Kadek Sriparjana, koordinator sekeha Janger Kolok, Kamis (10/4/2025).

Sriparjana yang juga merupakan staf desa menjelaskan, para penari berlatih rutin setiap minggu di Wantilan KEM, tempat yang dibangun melalui dukungan PT Pertamina. Latihan ini menjadi upaya menjaga kekompakan dan kesiapan tampil dalam berbagai event, baik lokal maupun nasional.

Baca Juga  Disbud Buleleng Ajukan Tiga Tradisi untuk Meraih Predikat WBTB Tahun 2024

Meski menghadapi tantangan jumlah anggota yang terus menurun dari semula 16 menjadi 12 orang regenerasi tetap diupayakan.

“Dulu populasi masyarakat kolok mencapai 45 orang, sekarang tinggal 35. Tidak mudah mengajak mereka bergabung karena harus berdasarkan keinginan sendiri dan kesiapan mental,” jelasnya.

Janger Kolok tak hanya tampil dalam acara budaya desa, tetapi juga sering menjadi bagian dari agenda besar, seperti saat tampil di HUT ke-421 Kota Singaraja di RTH Bung Karno. Kesempatan ini, menurut Sriparjana, sangat penting untuk menjaga eksistensi seni yang sudah melegenda ini.

Baca Juga  Layanan Data Seluler dan IPTV Dimatikan Saat Nyepi 2024

“Kami berharap Janger Kolok tetap diberi ruang di berbagai panggung, sebagai bukti bahwa seni tak mengenal keterbatasan. Terima kasih kepada pemerintah yang telah memberi kesempatan bagi kami untuk terus berkarya,” tutupnya.

Melalui Janger Kolok, Bali bukan hanya menunjukkan keindahan budayanya, tetapi juga keberanian dalam menjadikan seni sebagai medium kesetaraan dan inklusi.(adv/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments