GATRABALI.COM, GIANYAR – Peluncuran buku Anak Agung Gede Ngurah Mandera: Maestro Tari Legong & Kebyar menjadi momen penting untuk mengenang jejak seni maestro Bali, yang berlangsung di Balerung Mandera Srinertya Waditra, Desa Peliatan, Ubud, pada Senin (9/6/2025).
Kehadiran Putri Koster dalam acara tersebut turut memperkuat pesan pelestarian budaya Bali melalui dokumentasi tokoh seni legendaris.
Dalam sambutannya, Putri Koster menyampaikan penghargaan yang tinggi terhadap karya dan dedikasi A.A. Gde Ngurah Mandera dalam mengembangkan tari Legong dan Kebyar. Ia menekankan bahwa dokumentasi seperti buku ini merupakan bentuk nyata pelestarian budaya dan menjadi referensi penting lintas generasi.
“Ini bukan sekadar peluncuran buku, tapi bagian dari proses membangun memori kolektif kita tentang para maestro. Kita perlu mendokumentasikan mereka secara menyeluruh agar tak hilang ditelan zaman,” ucapnya.
Putri Koster juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pewaris, tetapi juga pencipta dalam bidang seni. Ia menekankan pentingnya regenerasi seniman yang mampu menciptakan karya baru yang berakar dari nilai-nilai tradisi.
“Kita perlu mendorong anak muda untuk tidak hanya menari atau menabuh, tapi juga mampu menciptakan koreografi, instrumen, dan karya seni lainnya yang memperkaya kebudayaan Bali,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti perlunya menjaga karakter khas kesenian Bali dari setiap wilayah agar tak hilang di tengah arus globalisasi. Seni, katanya, adalah jati diri dan investasi budaya yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Sementara itu, Anak Agung Gde Oka Dalem, putra dari A.A. Gde Ngurah Mandera, menyampaikan bahwa buku ini merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan ayahnya memperkenalkan seni Bali hingga ke mancanegara.
“Semoga buku ini bisa menjadi rujukan bagi para seniman muda untuk memahami perjalanan panjang ayah kami dan menjadikan itu sebagai motivasi dalam berkarya,” ujarnya.
Balerung Mandera telah lama menjadi pusat pelestarian seni, tempat para penari dan penabuh muda berlatih serta meneruskan gaya Palegongan dan Kekebyaran yang diwariskan oleh para maestro.(ism/gb)





