spot_img
spot_img
BerandaBaliWabup Ipat Buka Pementasan Swasti Salim, Karya Ikonik dari Loloan Persembahan Gung...

Wabup Ipat Buka Pementasan Swasti Salim, Karya Ikonik dari Loloan Persembahan Gung De Rama

GATRABALI.COM, JEMBRANA – Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna (Wabup Ipat), menghadiri sekaligus membuka secara resmi pementasan karya koreografi berjudul Swasti Salim karya Dr. A.A.G. Agung Rahma Putra, M.Sn atau yang akrab dikenal sebagai Gung De Rama, di Ruang Kartagosana, Puspem Badung, Senin, 26 Mei 2025.

Swasti Salim merupakan karya ketiga Gung De Rama yang terinspirasi dari kekayaan budaya di Desa Loloan, Jembrana, sebuah wilayah yang dikenal dengan keberagaman tradisi Bugis, Melayu, dan Bali.

Baca Juga  Buleleng Development Festival (BDF) 2023 Diikuti 62 Ribu UMKM

Karya ini sekaligus menjadi lanjutan dari dua karya sebelumnya, Awi dan Maha Guru, yang telah meraih penghargaan tingkat nasional.

Dalam pementasan tersebut, Gung De Rama turut mempersembahkan sub-karya bertajuk Ambur Salim yang diserahkan secara simbolis kepada masyarakat Loloan.

Tarian ini diharapkan menjadi identitas khas Loloan sekaligus bentuk terima kasih atas dukungan masyarakat terhadap karya-karya koreografinya.

Baca Juga  Hari Sumpah Pemuda, Koster-Giri Tekankan Peran Generasi Muda dalam Perkembangan Bali

Wabup Ipat memberikan apresiasi tinggi terhadap pementasan yang dinilai berhasil memadukan nilai-nilai budaya Hindu dan Muslim secara harmonis.

Swasti Salim merupakan pementasan koreografi yang luar biasa. Saya harap bisa kita hadirkan kembali dalam perayaan HUT Jembrana nanti,” kata Wabup Ipat.

Sementara itu, Gung De Rama menyoroti tantangan globalisasi yang kian mengikis nilai-nilai budaya, seni, dan persatuan. Melalui Swasti Salim, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat rasa kebersamaan melalui seni.

Baca Juga  Interaktif dan Edukatif, Program Safety Riding Astra Motor Bali Disambut Antusias Siswa SMP

“Globalisasi itu seperti pisau bermata dua. Maka saya ciptakan Swasti Salim untuk menyatukan kita lewat rasa, karena seni berbicara melalui hati,” ujarnya.

Pementasan ini tak hanya menjadi persembahan seni, tetapi juga simbol penguatan identitas budaya lokal di tengah arus perubahan zaman.(gus/gb)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments