spot_img
spot_img
BerandaOpini dan ArtikelBekerja untuk Hidup Ataukah Hidup untuk Bekerja?

Bekerja untuk Hidup Ataukah Hidup untuk Bekerja?

GATRABALI.COM, DENPASAR

PENDAHULUAN

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang dipenuhi target, tuntutan, dan persaingan, pertanyaan tentang hubungan antara pekerjaan dan kehidupan sering kali menjadi perdebatan yang tak kunjung usai. Sebagian besar orang percaya bahwa bekerja hanyalah sarana semata untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari – mencari nafkah, makan, bertempat tinggal, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian lainnya terjebak dalam rutinitas yang tak berujung, seolah-olah seluruh keberadaan manusia di dunia ini hanya ditujukan untuk bekerja, mengejar jabatan, kekayaan, dan pengakuan semata.

Lantas, manakah yang benar? Apakah kita bekerja untuk hidup, atau hidup untuk bekerja? Bhagawadgita, kitab suci yang menjadi pedoman hidup jutaan orang, memberikan jawaban yang mendalam dan melampaui sekadar pertentangan dua pilihan tersebut – salah satunya tertuang dalam ayat III.8. Jika ajaran ini kita pertautkan dengan pemahaman tentang betapa berharganya kelahiran sebagai manusia sebagaimana tertulis dalam Sarasamuscaya[1], maka makna pekerjaan akan berubah dari sekadar kewajiban duniawi menjadi wujud penghayatan rasa syukur yang mendalam atas anugerah kehidupan yang amat langka.[2] 

PEMBAHASAN

1. Pekerjaan Menurut Bhagawadgita III.8

Ayat ini berbunyi:

niyataṁ kuru karma tvaṁ karma jyāyo hy akarmaṇaḥ |

śarīra-yātrāpi ca te na prasidhyed akarmaṇaḥ ||

Artinya:

“Laksanakanlah kewajiban yang telah ditetapkan bagimu, karena bekerja lebih baik daripada tidak bekerja. Bahkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup tubuhmu pun tidak akan berhasil jika tanpa bekerja.”[3]

Maknanya:

Bekerja adalah keharusan kodrati, bukan sekadar pilihan.

Pekerjaan bukan tujuan akhir, melainkan pelaksanaan kewajiban suci (svadharma)[4] tanpa terikat nafsu pada hasil semata.

Bekerja adalah sarana, bukan tujuan – untuk memelihara hidup, sekaligus menyempurnakan diri dan mengabdi kepada sesama serta Tuhan.

2. KEISTIMEWAAN MENJADI MANUSIA DAN BERSYUKUR MENURUT SARASAMUSCAYA

Sarasamuscaya[5] menegaskan bahwa kelahiran sebagai manusia adalah anugerah yang sangat langka dan mulia, layaknya kilatan petir yang sulit dijumpai.

Sloka 2: Hanya manusia yang memiliki akal budi untuk memilih jalan kebajikan (dharma) atau kejahatan (adharma).[6]

Sloka 3–4: Jangan pernah bersedih menjadi manusia sekalipun dalam keadaan sederhana; karena kelahiran manusia amat sukar diperoleh, dan hanya melalui manusialah kejahatan dapat diubah menjadi kebajikan.[7]

Sloka 8: Manfaatkanlah kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menjalankan dharma, agar terbebas dari siklus lahir-mati.[8]

Sloka 40: Kebahagiaan sejati lahir dari berpegang pada kebenaran, melatih kesabaran, dan menumbuhkan rasa syukur yang tulus.[9]

Bersyukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan memanfaatkan nikmat kelahiran dan akal budi untuk berbuat baik dan menjalankan tugas hidup dengan penuh tanggung jawab.

Baca Juga  Doktrin Tracing of Funds dalam Penyelesaian Sengketa Objek Gono-Gini Berstatus Kredit Pra-Nikah

3. MENGHUBUNGKAN KEDUANYA: BEKERJA SEBAGAI WUJUD SYUKUR

Dari kedua ajaran ini, kita dapat melampaui pertentangan semu antara “bekerja untuk hidup” atau “hidup untuk bekerja”. Bhagawadgita III.8 mengingatkan bahwa bekerja adalah keharusan untuk menjaga kelangsungan hidup, namun hal itu sejalan dengan ajaran Sarasamuscaya yang mengajak kita menghargai hidup sebagai anugerah tak ternilai: menjaga kelangsungan hidup melalui pekerjaan adalah wujud pertama rasa syukur kita atas nikmat tersebut.

Selanjutnya, Bhagawadgita mengajarkan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai kewajiban tanpa terikat pada hasil semata, yang selaras dengan pesan Sarasamuscaya bahwa manusia diberi akal budi khusus untuk memilih jalan yang benar. Dengan demikian, pekerjaan menjadi sarana kita menggunakan anugerah akal budi dengan bijak dan bertanggung jawab. Lebih jauh lagi, Bhagawadgita menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas sebagai pengabdian akan membebaskan kita dari keterikatan duniawi. Hal ini sejalan dengan makna syukur dalam Sarasamuscaya yang terwujud bukan hanya dalam ucapan, melainkan dalam perbuatan bajik. Sehingga, setiap pekerjaan yang kita jalani menjadi bentuk ibadah sekaligus bukti nyata bahwa kita sungguh menghargai kesempatan terlahir sebagai manusia.

Intinya, kita tidak bekerja hanya demi bertahan hidup, dan kita tidak hidup hanya untuk bekerja. Melainkan – karena kita sangat bersyukur telah terlahir sebagai manusia yang berakal dan berkesempatan berbuat baik – maka kita bekerja dengan sepenuh hati, sebagai cara memuliakan anugerah tersebut. Pekerjaan menjadi jembatan: dari sekadar rutinitas menuju pelaksanaan dharma, dan dari sekadar kewajiban duniawi menuju persembahan yang abadi.

4. REJEKI ADA DI MANA-MANA:

BEKERJA TANPA CEMAS AKAN SUMBERNYA

Pemahaman bahwa bekerja adalah wujud syukur juga melahirkan sebuah keyakinan penting: rejeki tidak datang dari satu pintu saja, melainkan ada di mana-mana, mengalir melalui jalan yang sering kali tidak terduga oleh akal manusia. Bhagawadgita IX.22 menegaskan bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan dan menjaga apa yang telah dimiliki oleh mereka yang berbakti dengan tulus[10], sehingga seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan berserah pada Tuhan tidak perlu terlalu cemas dari arah mana rejekinya akan datang.

Keyakinan ini sejalan dengan ajaran Bhagawadgita III.8 yang telah dibahas sebelumnya: kita berkewajiban untuk bekerja, namun hasil dan jalannya rejeki bukan sepenuhnya berada di tangan kita[11]. Karena itu, seseorang tidak perlu terpaku hanya pada satu pekerjaan atau satu sumber penghasilan sebagai satu-satunya jalan hidup. Selama dilandasi dharma, kejujuran, dan kerja keras, rejeki dapat datang dari berbagai arah – dari pekerjaan utama, dari bantuan orang lain, dari kesempatan yang tidak diduga, bahkan dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus. Prinsip “rejeki ada di mana-mana” ini bukan alasan untuk bermalas-malasan, melainkan justru menjadi penenang batin agar bekerja dilakukan dengan lapang dada, tanpa dibayangi ketakutan berlebihan, karena Tuhan telah mengatur jalan rejeki bagi setiap makhluk yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan bersyukur atas apa yang diperoleh.

Baca Juga  Rupiah Melemah, Bali Harus Tegaskan Diri jadi Destinasi Bernilai

Di sinilah tumbuh sebuah optimisme yang patut dipegang teguh: setiap manusia telah dianugerahi bagian rejekinya masing-masing, sesuai dengan usaha, jalan hidup, dan dharma yang ditempuhnya. Tidak ada satu jiwa pun yang diciptakan tanpa jatah rejeki, sebagaimana Tuhan menumbuhkan padi di sawah, buah di hutan, dan ikan di lautan bagi siapa saja yang mau berikhtiar menjemputnya. Karena itu, tidak perlu ada iri hati melihat rejeki orang lain, sebab ukuran, bentuk, dan waktu datangnya rejeki setiap orang berbeda-beda – ada yang berupa harta, ada yang berupa kesehatan, ketenangan batin, keluarga yang harmonis, atau kesempatan berbuat baik. Yang diperlukan hanyalah kepercayaan diri untuk terus berusaha dengan sungguh-sungguh, sabar menanti waktu yang tepat, dan yakin bahwa Tuhan tidak pernah menutup seluruh pintu bagi hamba-Nya yang berikhtiar dan bersyukur. Dengan optimisme semacam ini, bekerja tidak lagi dijalani dengan rasa takut kekurangan, melainkan dengan hati yang lapang dan penuh harapan.

PENUTUP

Bhagawadgita mengajarkan kita bagaimana seharusnya bekerja, sedangkan Sarasamuscaya mengajarkan kita mengapa kita patut menghargai hidup dan segala aktivitasnya.

Ketika kita menyadari betapa langkanya menjadi manusia, maka setiap pekerjaan – sekecil apapun – menjadi ladang rasa syukur. Kita bekerja bukan lagi karena terpaksa, melainkan karena sadar: ini adalah cara terbaik kita menjawab anugerah kehidupan yang telah dipercayakan kepada kita. Dan karena rejeki sesungguhnya ada di mana-mana, serta setiap manusia telah memiliki bagiannya masing-masing, bekerja dengan sepenuh hati tanpa cemas akan hasilnya adalah bentuk kepercayaan penuh kepada Tuhan yang senantiasa mengatur jalan hidup setiap ciptaan-Nya – sebuah keyakinan optimis yang membuat setiap langkah kerja dijalani dengan hati yang tenang dan penuh harapan.

[1]Sarasamuscaya merupakan kitab susastra Hindu berbahasa Kawi yang memuat ajaran nīti śāstra (etika dan tata susila), disusun oleh Bhagawan Wararuci berdasarkan intisari Mahabharata. Lihat terjemahan I Made Sudharta, Sarasamuscaya, Surabaya: Paramita, 2003.

[2]Sarasamuscaya, Sloka 2–4 mengibaratkan kelahiran kembali sebagai manusia sama sulitnya dengan seekor kura-kura buta yang muncul ke permukaan lautan dan tepat menyangkutkan lehernya pada sebuah pelampung berlubang yang terombang-ambing di tengah samudra luas. Perumpamaan ini menegaskan bahwa memperoleh tubuh manusia lengkap dengan akal budi merupakan kesempatan yang sangat istimewa dan tak ternilai harganya.

Baca Juga  Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), Pemicu dan Solusi Pengobatan

[3]Terjemahan disesuaikan dari beberapa edisi terjemahan Bhagawadgītā berbahasa Indonesia yang umum dipakai dalam kajian Hindu, di antaranya terjemahan I Nyoman Kajeng, dkk. Lihat Bhagawad Gītā (Śrīmad Bhagawad-Gītā), Jakarta: Hanoman Sakti/Pemerintah Provinsi Bali, cet. berbagai edisi.

[4]Svadharma adalah kewajiban yang melekat pada diri seseorang sesuai dengan kedudukan sosial, keahlian, dan tahap kehidupannya (varna dan asrama). Dalam Bhagawadgita, melaksanakan svadharma dengan tulus dinilai lebih utama daripada menjalankan dharma orang lain sekalipun tampak lebih sempurna (bandingkan Bhagawadgita III.35).

[6]Sarasamuscaya, Sloka 2: manusia dianugerahi akal budi (manah) sehingga mampu membedakan dan memilih antara perbuatan baik (dharma) dan perbuatan buruk (adharma), suatu keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain.

[7]Sarasamuscaya, Sloka 3–4 menegaskan bahwa kelahiran sebagai manusia amat sukar diperoleh dan hendaknya tidak disia-siakan, sebab hanya melalui wujud manusialah jalan kebajikan dapat ditempuh secara sempurna untuk memperbaiki karma.

[8]Sarasamuscaya, Sloka 8 mengajarkan agar kesempatan hidup sebagai manusia dipergunakan sebaik-baiknya untuk menegakkan dharma, sebagai bekal mencapai moksa, yaitu kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian (punarbhawa/samsara).

[9]Sarasamuscaya, Sloka 40 menyebutkan bahwa kebahagiaan sejati (sukha) diperoleh melalui satya (kebenaran), titiksa (kesabaran/pengendalian diri), dan rasa syukur yang tulus atas segala anugerah kehidupan.

[10]Bhagawadgita IX.22: “ananyāś cintayanto māṁ ye janāḥ paryupāsate, teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ yogakṣemaṁ vahāmyaham” — “Kepada mereka yang senantiasa memuja-Ku dengan penuh bhakti tanpa memikirkan yang lain, Aku akan memenuhi apa yang mereka perlukan (yoga) dan menjaga apa yang telah mereka miliki (kṣema).” Ayat ini menjadi dasar keyakinan bahwa Tuhan mengatur dan mengalirkan rejeki melalui jalan yang tidak selalu dapat diduga oleh manusia.

[11]Bandingkan dengan Bhagawadgita II.47 tentang hak seseorang hanya atas perbuatannya (karma), bukan atas hasilnya (phala): “karmaṇy evādhikāras te mā phaleṣu kadācana” — “Engkau berhak atas perbuatan (kerja) itu sendiri, tetapi sama sekali tidak berhak atas hasilnya.” Prinsip inilah yang mendasari sikap tenang dalam bekerja tanpa cemas berlebihan tentang dari mana dan kapan rejeki akan datang.

Penulis :

Dr. I Ketut Sudira, SH.,MH

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar

Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments