GATRABALI.COM, TABANAN – Kabupaten Tabanan semakin meneguhkan posisinya sebagai sentra utama kakao di Bali.
Hal ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama pengembangan komoditas kakao antara perbankan, lembaga penjamin, koperasi, dan kelompok tani, dengan dukungan penuh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali.
Acara yang berlangsung di Balai Pelatihan Pertanian Tabanan, Selasa, 30 September 2025, menghadirkan sinergi antara PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali, PT Jamkrida Bali Mandara, Koperasi Manik Amerta Buana, serta kelompok tani Mesari, Lembung Sari, dan Subak Abian Waru.
Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, menyebut kerja sama ini bagian dari program Kredit/Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP) Pertanian yang dirancang untuk memperkuat ekosistem usaha, sekaligus menjamin kepastian pasar dan akses keuangan bagi petani kakao.
“Dengan adanya hilirisasi, pendampingan, dan jaminan offtaker, kakao Tabanan dapat berkembang menjadi komoditas unggulan yang memberi manfaat ekonomi berkelanjutan,” jelasnya.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tabanan, I Gusti Ayu Sintha, menambahkan bahwa akses permodalan merupakan kunci peningkatan kualitas hasil kakao.
Menurutnya, dukungan keuangan akan mempercepat upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
Selain perwakilan OJK, acara ini dihadiri oleh Direktur Utama PT Jamkrida Bali Mandara I Ketut Widiana Karya, Kepala Divisi Kredit Retail dan Konsumer BPD Bali I Gede Sukanada, Kepala Cabang BPD Tabanan Made Adi Indra, serta perwakilan Asuransi Central Asia (ACA) Pujo Pamungkas, bersama 30 anggota kelompok tani.
Bali memiliki perkebunan kakao seluas 13.452 hektar, dengan Tabanan mengelola 4.530 hektar tersebar di 10 kecamatan.
Produksi kakao Tabanan pada 2024 mencapai 937 ton atau hampir 20 persen dari total produksi kakao Bali. Dari sisi pembiayaan, per Agustus 2025 tercatat kredit kakao sebesar Rp6,6 miliar dengan tingkat NPL tetap terjaga di bawah 1 persen.
OJK menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui TPKAD dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing kakao Bali sekaligus mewujudkan kesejahteraan petani.(ism/gb)





