GATRABALI.COM, DENPASAR – Penampilan Duta Kabupaten Badung dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 menuai apresiasi dari Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wakil Bupati Bagus Alit Sucipta.
Mengusung konsep “Kala Mandala”, kontingen Badung berhasil menghadirkan sajian budaya yang sarat filosofi kehidupan, spiritualitas, dan pesan kesetaraan sosial.
Pawai budaya yang menjadi bagian dari pembukaan PKB XLVIII tersebut berlangsung di kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu, 13 Juni 2026, dan disaksikan ribuan masyarakat serta tamu undangan.
PKB XLVIII secara resmi dibuka oleh Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Enik Ermawati dan Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya melalui prosesi pemukulan kulkul. Tahun ini, PKB mengangkat tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”, yang menekankan pentingnya penyucian dan pemuliaan jiwa melalui seni, budaya, dan tradisi.
Usai menyaksikan penampilan kontingen Badung, Bupati Adi Arnawa didampingi istrinya, Rasniathi Adi Arnawa, menyampaikan apresiasi kepada seluruh seniman yang telah menampilkan karya terbaiknya.
“Kami sangat mengapresiasi para seniman badung yang telah tampil maksimal dalam peed aya ini. Semoga untuk tahun ke depan dapat tampil lebih baik lagi,” ujarnya.
Menurut Adi Arnawa, salah satu hal yang menjadi perhatian khusus dalam penampilan Duta Badung tahun ini adalah keterlibatan penyandang disabilitas yang ikut ambil bagian dalam pawai budaya.
Keikutsertaan mereka dinilai sebagai wujud nyata komitmen untuk membangun ruang seni dan budaya yang inklusif serta memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat.
“Keikutsertaan difabel ini, kami menginginkan adanya kesetaraan dan tidak ada perbedaan. Mereka juga bisa memanfaatkan ajang ini untuk berkreasi,” kata Adi Arnawa.
Konsep “Kala Mandala” yang dibawakan Duta Badung menggambarkan perjalanan manusia dalam ruang dan waktu sebagai bagian dari siklus kehidupan. Melalui konsep tersebut, masyarakat diajak merenungkan proses menemukan jati diri, keseimbangan hidup, dan kedekatan dengan nilai-nilai spiritual.
Rangkaian penampilan diawali oleh pembawa papan nama daerah dan pasangan Jegeg Bagus Badung yang mengenakan busana adat khas daerah. Kehadiran penari disabilitas menjadi simbol bahwa kemuliaan jiwa tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh semangat dan nilai yang dimiliki setiap individu.
Kemudian tampil Tari Sekar Jepun sebagai ikon budaya Badung yang diiringi tabuhan Gong Semar Pegulingan. Kontingen juga menampilkan Tari Rejang Sutri yang melambangkan kelembutan, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai penutup, Duta Badung menyuguhkan fragmen kisah Dewa Ruci, yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia dalam mencari pengetahuan dan kebenaran sejati.
Penampilan tersebut menjadi puncak dari narasi besar “Kala Mandala” yang mengajak masyarakat memahami hidup sebagai perjalanan menuju penyucian jiwa.
Melalui sajian budaya ini, Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan kekayaan seni tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan tentang persatuan, kesetaraan, dan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Bali di tengah perkembangan zaman.(nov/gb)





