GATRABALI.COM, DENPASAR – Kajian Historis-Arsitektural dari Masa Pra-Hindu, Mpu Kuturan, Dang Hyang Nirartha, hingga Padma Nusantara
Sebuah Uraian Lengkap dengan Catatan Kaki Bergaya Chicago
I. Akar Pra-Hindu: Tradisi Megalitik sebagai Fondasi Spiritual Bali
Untuk memahami mengapa bangunan suci Bali berkembang sedemikian rupa, penelusuran perlu dimulai jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha, yaitu pada masa prasejarah ketika masyarakat Bali sudah mengenal tradisi megalitik. Tradisi ini menyebar ke Nusantara dalam dua gelombang: Megalitik Tua yang dibawa pendukung kebudayaan kapak persegi (Proto Melayu) dengan bangunan seperti menhir dan punden berundak, serta Megalitik Muda yang menyebar pada zaman perunggu (sekitar 300–100 SM) dibawa pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu), yang menghasilkan peti kubur batu, dolmen, waruga, sarkofagus, dan arca-arca dinamis[1]. Bali termasuk salah satu wilayah di Indonesia yang jejak megalitiknya masih dapat ditemukan hingga kini, sejajar dengan tradisi serupa pada suku bangsa Nias, Sumba, Toraja, dan sebagian Batak[2].
Sarkofagus, Menhir, dan Arca Nenek Moyang
Di antara berbagai jenis peninggalan megalitik, sarkofagus wadah kubur batu dengan tonjolan di ujungnya secara khusus paling banyak ditemukan di Bali[3]. Penelitian arkeologis di Bali, misalnya temuan arca primitif di kawasan Poh Asem, menunjukkan adanya hubungan erat antara arca-arca purba tersebut dengan praktik penguburan bersarkofagus, yang diyakini berkaitan dengan pemujaan arwah nenek moyang[4]. Di Desa Gelgel, Klungkung, penelitian yang lebih lanjut menemukan bentuk-bentuk megalitik lain seperti menhir, susunan batu kali, batu silindris, batu dakon, arca-menhir, hingga tahta batu, yang oleh sejumlah peneliti dinilai memiliki ciri khas Indonesia asli[5]. Penempatan benda-benda megalitik ini pun tidak sembarangan: umumnya diarahkan ke tempat-tempat yang dianggap suci, seperti gunung, pulau seberang, atau arah matahari terbit dan terbenam pola pikir religius yang kelak akan terus berlanjut dalam orientasi kosmologis bangunan suci Bali di masa-masa berikutnya.
Punden Berundak: Cikal Bakal Bentuk Bertingkat
Salah satu warisan megalitik yang paling signifikan bagi arsitektur suci Bali adalah punden berundak, yaitu struktur bertingkat berbentuk anak tangga yang berfungsi sebagai tempat pemujaan arwah leluhur dan dianggap suci[6]. Oleh masyarakat prasejarah, punden berundak dipahami sebagai simbol gunung suci, tempat bersemayamnya roh leluhur yang diyakini memberi berkah berupa kesuburan, ketenteraman, dan kesejahteraan[7]. Konsep gunung sebagai pusat kesucian inilah yang kemudian diwariskan secara berkelanjutan ke dalam arsitektur suci Bali baik dalam bentuk meru yang menjulang bertingkat menyerupai gunung, maupun dalam orientasi kaja (ke arah gunung) sebagai arah paling utama dalam tata ruang tradisional Bali. Dalam perkembangan selanjutnya di Nusantara, bentuk punden berundak-undak juga berakulturasi dengan budaya Hindu-Buddha, misalnya tampak pada struktur candi yang mengerucut dan bertingkat seperti Candi Borobudur[8].
Dengan demikian, sebelum satu pun pengaruh Hindu menyentuh Bali, masyarakatnya telah memiliki kosakata arsitektural-spiritualnya sendiri: batu tegak sebagai penanda kehadiran leluhur, struktur berundak sebagai tangga menuju alam atas, dan orientasi gunung-laut sebagai sumbu kosmologis. Ketiga unsur inilah yang kelak diserap, bukan dihapuskan, oleh gelombang pengaruh Hindu-Buddha yang datang kemudian sebuah pola akulturasi yang menjadi ciri khas evolusi bangunan suci Bali dari masa ke masa.
II. Masa Pra-Mpu Kuturan (Sebelum Abad ke-11 M)
Konteks Sejarah
Pada masa Bali Kuna, tempat suci belum disebut “Pura”, melainkan “Sang Hyang” atau “Kahyangan”. Hal ini dibuktikan dari Prasasti Trunyan A I bertahun 891 M yang menyebutkan istilah Sanghyang Turun-hyang sebagai tempat suci di daerah tersebut[9],[10]. Penduduk memuja berbagai kekuatan ilahi yang bersifat lokal dan sektoral pemujaan roh leluhur, alam, serta dewa-dewa yang berbeda antar kelompok masyarakat. Berbagai aliran seperti Siwa, Buddha, dan pemujaan asli berkembang berdiri sendiri-sendiri tanpa kesatuan sistem[11]. Kondisi ini sejalan dengan warisan megalitik yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya: setiap kelompok masyarakat, setiap banjar, bahkan setiap keluarga besar, dapat memiliki tempat pemujaannya sendiri tanpa mengacu pada satu sistem keagamaan yang seragam.
Bentuk Bangunan Suci
Bentuk pelinggih saat itu terbatas pada: meru tumpang tiga, kemulan rong tiga, bebaturan, dan gedong[12]. Ciri utamanya adalah:
- Bangunan berfungsi sebagai tempat menstanakan arca/murti dewa tertentu (sistem Murti-Puja), belum ada tempat khusus untuk Yang Maha Esa secara langsung[13].
- Tata ruang belum terstandar; tiap sekte memiliki tempat suci sendiri-sendiri yang belum tersusun dalam pola mandala yang seragam[14].
- Belum ada konsep “tahta kosong”; semua bangunan selalu diisi arca atau simbol dewa berwujud[15].
Secara filosofis, kondisi ini diibaratkan sebagai “padma tanpa sari” sudah ada wadah pemujaan, namun belum ada tempat bagi Sang Hyang Widhi Wasa itu sendiri[16].
Jejak Prasasti sebagai Bukti Tertulis Tertua
Prasasti Trunyan A I bertahun 891 M yang telah disebutkan sebelumnya bukanlah satu-satunya bukti epigrafis dari masa ini, meskipun ia termasuk yang paling awal dan paling sering dirujuk dalam kajian tentang tempat suci Bali Kuna[17]. Prasasti-prasasti Bali Kuna pada umumnya ditulis di atas lempengan tembaga dan memuat berbagai keperluan administratif kerajaan penetapan status tanah, pembebasan pajak bagi suatu wilayah, atau penetapan status suatu tempat sebagai kawasan sakral sehingga penyebutan istilah keagamaan seperti “Sang Hyang” atau “Kahyangan” di dalamnya menjadi rujukan yang sangat berharga bagi penelusuran sejarah keagamaan Bali sebelum masa Mpu Kuturan. Melalui prasasti-prasasti semacam ini pula para peneliti dapat merekonstruksi bahwa istilah “Pura” dalam pengertian yang kita kenal sekarang benar-benar merupakan istilah yang datang belakangan, menggantikan kosakata “Kahyangan” dan “Sang Hyang” yang lebih tua.
Keragaman Aliran: Siwa, Buddha, Tantri, dan Bhairawa
Sumber-sumber babad dan prasasti Bali Kuna mencatat bahwa sebelum penyatuan oleh Mpu Kuturan, praktik keagamaan di Bali diwarnai oleh sejumlah aliran yang berjalan sendiri-sendiri: aliran Siwa dengan berbagai sektenya, aliran Buddha Mahayana, aliran Tantri yang menekankan praktik esoteris, serta aliran Bhairawa yang berorientasi pada pemujaan aspek Siwa yang paling menakutkan. Di luar aliran-aliran besar tersebut, pemujaan roh leluhur dan kekuatan alam warisan langsung tradisi megalitik tetap berjalan berdampingan. Kombinasi berbagai aliran tanpa kerangka pemersatu inilah yang menjadikan lanskap keagamaan Bali sebelum abad ke-11 sangat plural, namun sekaligus rentan konflik dan tumpang tindih ruang sakral kondisi yang kelak menjadi alasan utama kedatangan dan peran besar Mpu Kuturan.
III. Masa Mpu Kuturan (Abad ke-11 M)
Kedatangan dan Reformasi Sistem Keagamaan
Mpu Kuturan datang ke Bali sekitar abad ke-11 M dan berperan menyatukan berbagai aliran yang saling terpisah menjadi satu kesatuan ajaran Siwa-Buddha. Beliau menetapkan konsep Tri Murti Brahma, Wisnu, Siwa sebagai tiga manifestasi dari satu realitas tertinggi, yaitu Sang Hyang Widhi Wasa[18],[19].
Mpu Kuturan dikenal pula sebagai salah satu leluhur Warga Pasek, bersaudara dengan Mpu Gnijaya dan Mpu Bharadah, dan garis keturunannya kelak berhubungan erat dengan tokoh reformis besar berikutnya, Dang Hyang Nirartha, melalui jalur Mpu Bahula dan Dang Hyang Smaranatha[20]. Hubungan silsilah ini penting untuk dicatat karena menunjukkan bahwa reformasi keagamaan Bali bukanlah rangkaian peristiwa yang terputus-putus, melainkan estafet ajaran yang diwariskan lintas generasi dalam satu garis spiritual yang sama.
Penataan Tempat Suci
Dua sistem penataan tempat suci yang beliau wariskan hingga kini adalah:
1. Kahyangan Tiga (Tingkat Desa)
Ditetapkan agar setiap desa adat memiliki tiga pura inti[21],[22]:
- Pura Desa / Bale Agung → memuja Brahma (unsur Pencipta)
- Pura Puseh → memuja Wisnu (unsur Pemelihara)
- Pura Dalem → memuja Siwa/Sakti-Nya (unsur Pelebur/Pembebas)
Ketiga pura ini tidak berdiri sembarangan, melainkan mengikuti orientasi kosmologis yang juga berakar dari warisan pra-Hindu: Pura Puseh umumnya diletakkan di area hulu (kaja, ke arah gunung) sebagai kawasan paling sakral, Pura Desa/Bale Agung di area tengah pemukiman sebagai pusat kehidupan sosial, dan Pura Dalem di area hilir (kelod, ke arah laut) yang berdekatan dengan setra atau kuburan desa. Pola tiga tingkat ini menjadi salah satu wujud paling awal dari konsep zonasi Nista-Madya-Utama yang kemudian disempurnakan dalam sistem Tri Angga dan Sanga Mandala.
2. Sad Kahyangan Jagat (Tingkat Pulau)
Enam pura penjaga arah mata angin yang membentuk jaringan spiritual menyeluruh di Pulau Bali, melengkapi Kahyangan Tiga di tingkat desa[23]. Sad Kahyangan Jagat dipahami sebagai sendi-sendi yang menopang keseimbangan spiritual Pulau Bali secara keseluruhan[24]. Perlu dicatat bahwa daftar pura mana saja yang termasuk Sad Kahyangan sesungguhnya tidak tunggal — berbagai lontar dan sumber tradisi menyebutkan susunan yang sedikit berbeda-beda, sebagaimana tampak pada tabel berikut.
| Sumber / Versi | Pura yang Disebutkan |
| Versi umum (mis. Balipost, Bali Express) | Besakih, Lempuyang Luhur, Goa Lawah, Uluwatu, Batukaru, Pusering Jagat / Puser Tasik |
| Versi Kahyangan Jagat sembilan arah (Sanga Mandala) | Besakih, Lempuyang Luhur, Andakasa, Ulun Danu Batur, Batukaru, Pucak Mangu, Goa Lawah, Uluwatu, Pusering Jagat |
| Lontar Kusuma Dewa (versi lain) | Menyebutkan susunan Sad Kahyangan sebagai bagian dari satu kerajaan spiritual yang sama, termasuk Pura Luhur Uluwatu |
Perbedaan susunan ini wajar mengingat sumbernya berasal dari berbagai lontar dan tradisi lisan yang diwariskan secara berbeda di tiap wilayah[25],[26]. Yang tetap konsisten adalah prinsip dasarnya: enam (atau dalam versi yang lebih luas, sembilan) pura utama diposisikan di titik-titik strategis penjuru mata angin Bali untuk menjaga keseimbangan makrokosmos (bhuana agung) pulau secara keseluruhan, sejalan dengan konsep Dewata Nawa Sanga.
Bentuk Arsitektur
Mpu Kuturan mengenalkan istilah meru, gedong, dan pura serta menyusun tata ruang pura mulai terbagi menjadi zona nista, madya, dan utama mandala, meskipun belum seketat masa berikutnya[27]. Namun, belum ada Padmasana — tempat tertinggi masih diisi arca dewa tertentu sesuai sistem Murti-Puja yang telah ada sebelumnya[28].
Sanga Mandala dan Tri Angga: Fondasi Zonasi Ruang Suci
Penataan yang dirintis Mpu Kuturan pada akhirnya berkembang menjadi dua konsep zonasi ruang yang berlaku hingga kini dalam arsitektur tradisional Bali: Tri Angga dan Sanga Mandala. Tri Angga adalah konsep hierarki nilai yang membagi ruang menjadi tiga tingkatan utama (kepala), madya (badan), dan nista (kaki) yang diadaptasi dari anatomi tubuh manusia ke dalam skala bangunan, pekarangan, hingga wilayah[29]. Dalam konteks kompleks pura, Tri Angga terwujud sebagai tiga area: nista mandala (jaba sisi, area terluar dan paling kurang sakral), madya mandala (jaba tengah, area peralihan), dan utama mandala (jeroan, area terdalam dan paling sakral)[30]. Di antara tingkatan-tingkatan ini biasanya didirikan gerbang berupa candi bentar (gapura belah) dengan ukuran dan ragam hias yang semakin megah mendekati utama mandala.
Sanga Mandala, di sisi lain, adalah konsep orientasi kosmologis yang memadukan dua sumbu: sumbu bumi (kaja-kelod, gunung-laut) dan sumbu matahari (kangin-kauh, timur-barat, arah terbit dan terbenamnya matahari). Perpaduan kedua sumbu ini menghasilkan sembilan zona ruang, dari yang paling sakral (utamaning utama, di arah kaja-kangin) hingga yang paling profan (nistaning nista, di arah kelod-kauh)[31]. Prinsip inilah yang menjelaskan mengapa Pura Besakih pura terbesar dan tersuci di Bali diletakkan di lereng Gunung Agung pada sisi timur laut pulau, sementara kuburan dan pura Dalem umumnya berada di sisi barat daya atau ke arah laut.
Fondasi struktur telah rapi dan tersatukan melalui Tri Angga dan Sanga Mandala, namun puncak kesucian sebagai tahta Yang Tak Terwujud belum ada. Bangunan tertinggi dalam kompleks pura pada masa ini tetap berupa meru atau gedong yang menstanakan arca dewa tertentu sebuah kekosongan konseptual yang baru akan diisi empat abad kemudian oleh Dang Hyang Nirartha.
IV. Masa Dang Hyang Nirartha (± 1489–1550 M)
Latar Belakang dan Silsilah
Dang Hyang Nirartha, juga dikenal dengan berbagai nama seperti Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, Mpu Nirartha, dan Dang Hyang Dwijendra, adalah seorang pendeta Hindu beraliran Siwa yang lahir di Jawa pada masa akhir Kerajaan Majapahit dan menghabiskan sebagian besar hidupnya hingga wafat di Bali[32]. Ia dilahirkan sebagai Ida Dwijendra, putra Dang Hyang Smaranatha yang merupakan cucu Mpu Tantular, yang pada gilirannya adalah putra Mpu Bahula — seorang keturunan Mpu Kuturan dari pihak ibu[33]. Di Lombok beliau dikenal sebagai Pangeran Sangupati, sementara di Sumbawa dikenal sebagai Tuan Guru Semeru[34].
Perjalanan Dharmayatra ke Bali
Sebelum tiba di Bali, Dang Hyang Nirartha terlebih dahulu bermukim di Daha (Kediri), lalu berpindah ke Pasuruan, dan kemudian ke Blambangan[35]. Menurut kisah dalam Babad Brahmanawangsa Tattwa, ketika meninggalkan Daha menuju Pasuruan, istri beliau beserta sembilan putranya menyeberang dengan sebuah perahu yang bocor namun secara ajaib tidak tenggelam hingga mendarat selamat di Pantai Purancak, Jembrana[36]. Di Purancak inilah beliau meyakini mendapat wahyu untuk mengembangkan paham Tri Purusa di Bali pemujaan Sang Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadasiwa, dan Paramasiwa[37]. Beliau tiba di Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Kerajaan Gelgel[38], dan karena kemampuan supranaturalnya yang mengagumkan sang raja, beliau kemudian diangkat menjadi Bhagawanta atau pendeta kerajaan[39]. Pada masa inilah Bali Dwipa disebut mencapai zaman keemasannya, karena hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk tata keagamaan, ditata dengan lebih rapi.
Selama masa pengabdiannya, Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan suci (dharmayatra) yang luas ke berbagai penjuru Bali, bahkan meneruskannya hingga ke Lombok dan Sumbawa untuk menyebarkan ajaran dharma[40]. Di sepanjang perjalanan itu beliau mendirikan banyak pura, terutama di kawasan selatan Bali, seperti Pura Rambut Siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, dan Pura Petitenget — kelompok pura yang kemudian dikenal sebagai Pura Dang Kahyangan, untuk membedakannya dari Kahyangan Tiga dan Sad Kahyangan Jagat yang telah ditata Mpu Kuturan sebelumnya[41]. Riwayat perjalanan tersebut diabadikan dalam lontar Dwijendra Tattwa, sebuah naskah biografi-religius yang mengisahkan perjalanan beliau dari Pasuruan hingga akhir riwayatnya di Pura Luhur Uluwatu, dan diyakini ditulis oleh salah seorang keturunannya, kemungkinan Ida Pedanda Ler, pada masa tidak lama setelah beliau wafat[42]. Riwayat beliau berakhir di sebuah batu besar di kawasan Uluwatu, tempat beliau dikisahkan mencapai moksa — amoring acintya parama moksa, atau menyatu dengan Yang Tak Terpikirkan[43].
Misi Pemurnian, Bukan Penggantian
Kedatangan dan misi Dang Hyang Nirartha bukan mengganti, melainkan menyempurnakan tatanan yang telah dirintis Mpu Kuturan empat abad sebelumnya[44],[45]. Beliau menerima semua bentuk pemujaan yang sudah ada Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan Jagat, sistem Murti-Puja dengan arca-arcanya namun menambahkan sesuatu yang belum ada sebelumnya: tahta bagi Yang Maha Esa yang tak berwujud. Pendekatan ini mencerminkan pola akulturasi yang telah menjadi ciri khas Bali sejak masa pra-Hindu: setiap lapisan kepercayaan baru tidak menghapus lapisan sebelumnya, melainkan menambahkan makna dan bentuk baru di atasnya.
Konsep Padmasana: Revolusi Palinggih
Sesuai Lontar Dwijendra Tattwa, beliau memperkenalkan Padmasana bangunan suci yang tidak berisi arca apa pun di puncaknya, melainkan ruang kosong sebagai lambang tempat bersemayamnya Sang Hyang Acintya / Sang Hyang Widhi Wasa Yang Tak Terpikirkan, Tak Tergambarkan, Tak Terlukiskan[46],[47],[48].
Struktur dan Simbolisme Padmasana
Secara vertikal, Padmasana terbagi menjadi tiga bagian yang melambangkan kosmos[49],[50]:
| Bagian | Nama | Simbolisme |
| Tepas (Dasar) | Bedawang Nala + Naga Anantaboga & Basuki | Bumi/dunia yang mengapung di lautan kosmik |
| Batur (Badan) | Tingkatan/palih berjumlah ganjil (5, 7, 9) | Alam madya, tingkatan pendakian spiritual |
| Sari (Puncak) | Rong kosong / singgasana tanpa arca | Alam utama, kebesaran Tuhan Yang Maha Esa |
Ciri paling revolusioner: rong kosong di puncak. Bukan karena kosong, melainkan karena terlalu suci untuk digambarkan. Inilah perbedaan mendasar dengan semua bangunan suci masa sebelumnya[51],[52].
Ragam Hias dan Penjaga Arah Mata Angin
Selain struktur pokoknya, Padmasana juga kaya akan ragam hias yang memperkuat kandungan filosofisnya. Pada bagian batur (badan), umumnya dipahatkan relief para dewa penjaga arah mata angin sesuai konsep Dewata Nawa Sanga delapan dewa utama beserta Siwa di pusatnya, masing-masing berjaga di salah satu dari sembilan penjuru mata angin[53]. Kehadiran para dewa penjaga ini menegaskan bahwa meskipun puncak Padmasana dikhususkan bagi Yang Tak Berwujud, tubuh bangunannya tetap menghormati dan mengakomodasi manifestasi-manifestasi ketuhanan yang lebih dekat dan personal bagi umat.
Ukiran karang-karangan (motif flora-fauna stilisasi khas Bali, seperti karang boma, karang goak, dan karang asti) turut menghiasi hampir seluruh permukaan Padmasana, menjadikannya salah satu jenis bangunan suci dengan kepadatan ornamen tertinggi dalam arsitektur Bali. Semakin tinggi status dan kesucian sebuah Padmasana misalnya Padmasana Tiga di pura kahyangan jagat dibandingkan dengan Padmasari di pura keluarga pada umumnya semakin rumit pula ragam hias yang menyertainya, sejalan dengan prinsip bahwa kerumitan ornamen mencerminkan tingkat kesakralan ruang.
Padmasana dalam Bingkai Tri Purusa
Wahyu yang diterima Dang Hyang Nirartha di Purancak mengenai paham Tri Purusa Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa menjadi kerangka teologis di balik konsep Padmasana[54]. Tiga aspek ini bukanlah tiga tuhan yang berbeda, melainkan tiga tingkatan kesadaran atau manifestasi dari satu realitas tertinggi yang sama: Paramasiwa sebagai aspek yang paling transenden dan tak terjangkau pikiran, Sadasiwa sebagai aspek antara, dan Siwa sebagai aspek yang paling dekat dan dapat dijangkau pemujaan manusia. Pemahaman berlapis inilah yang membedakan Padmasana dari sekadar “tempat duduk kosong” ia adalah representasi arsitektural dari sebuah teologi yang canggih tentang ketakterhinggaan Tuhan.
V. Pasca-Dang Hyang Nirartha: Penyempurnaan Tipologi Padma
Setelah masa Dang Hyang Nirartha, bentuk bangunan suci berkembang secara bertahap menjadi beberapa jenis berdasarkan kelengkapan, jumlah tingkat, dan jumlah rong (ruang puncak) kosong[55],[56]:
1. Padma Capah
2 tingkat (palih), tanpa Bedawang Nala, 1 rong.
Bentuk paling sederhana, digunakan untuk niyasa manifestasi tertentu seperti Dewa Baruna atau Indra Belaka[57],[58].
2. Padmasari
3 tingkat, tanpa Bedawang Nala, 1 rong.
Sudah melambangkan kehadiran Tuhan, namun belum lengkap kosmologisnya tanpa dasar Bedawang Nala[59],[60].
3. Padmasana (Lengkap)
5, 7, atau 9 tingkat, dilengkapi Bedawang Nala + Naga, dengan 1, 2, atau 3 rong.
Paling lengkap dan suci; melambangkan alam semesta secara utuh dari bumi hingga langit[61],[62].
4. Padmasana Tiga / Padma Nusantara
Puncak pengembangan: tiga buah Padmasana berdiri berdampingan dalam satu batur induk, dengan tiga rong kosong di puncaknya. Melambangkan:
- Tri Purusatiga kekuatan utama Tuhan: Brahma, Wisnu, Siwa yang bersumber dari satu realitas tertinggi[63].
- Tiga rong = tiga manifestasi, namun akar dan sumbernya satu: Sang Hyang Widhi Wasa.
- Ditempatkan di posisi paling suci dan utama dalam kompleks pura (contoh: Pura Penataran Agung Besakih)[64].
Konsep ini kemudian diperluas maknanya menjadi Padma Bhuwana Nusantara — gagasan jaringan suci yang menyatukan seluruh Nusantara dalam satu kesatuan spiritual, berakar dari kosmologi Dewata Nawa Sanga dan Sanga Mandala[65].
Studi Kasus: Padma Tiga di Pura Penataran Agung Besakih
Contoh paling representatif dari Padmasana Tiga dapat dijumpai di Pura Penataran Agung, pura utama dalam kompleks Pura Besakih yang berperan sebagai pusat dari seluruh pura di Bali[66]. Di antara semua pura dalam kompleks Besakih, Pura Penataran Agung dikenal sebagai yang terbesar, dengan jumlah pelinggih dan jenis upakara terbanyak, dan berfungsi sebagai pusat bagi seluruh pura lain dalam kompleks tersebut[67]. Di dalam Pura Penataran Agung inilah berdiri tiga pelinggih utama yang disebut Padma Tiga, sebagai simbol stana Tri Purusa — Siwa, Sadasiwa, dan Paramasiwa[68]. Kehadiran Padma Tiga di titik paling sakral dari pura paling sakral di Bali menegaskan posisi konsep ini sebagai puncak pencapaian filosofis dan arsitektural dari seluruh evolusi yang diuraikan dalam naskah ini.
Variasi Regional dan Fungsi Niyasa
Selain fungsi utamanya sebagai stana Sang Hyang Widhi, berbagai jenis padma juga digunakan sebagai niyasa (simbol perantara) bagi manifestasi dewa tertentu sesuai kebutuhan upacara di masing-masing pura, misalnya Padma Capah untuk memuja Dewa Baruna (penguasa lautan) atau Indra Belaka[69],[70]. Variasi ini menunjukkan bahwa tipologi padma bukanlah sistem yang kaku dan seragam di seluruh Bali, melainkan kerangka umum yang diadaptasi secara lokal oleh masing-masing desa adat dan pura sesuai konteks sejarah, letak geografis, dan tradisi lisan yang mereka warisi — sebuah fleksibilitas yang, sekali lagi, mengingatkan pada pluralitas aliran keagamaan Bali sejak masa pra-Mpu Kuturan.
Studi Kasus Tambahan: Pura Luhur Uluwatu dan Pura Tanah Lot
Dua pura lain yang erat kaitannya dengan riwayat Dang Hyang Nirartha turut memperlihatkan bagaimana konsep Padmasana menyebar ke berbagai penjuru Bali pasca-abad ke-16. Pura Luhur Uluwatu, yang berdiri di atas tebing karang setinggi sekitar 97 meter di ujung barat daya Bali, diyakini sebagai tempat Dang Hyang Nirartha mencapai moksa dan sekaligus menjadi salah satu dari pura Sad Kahyangan Jagat[71]. Di depan pura ini terdapat kawasan hutan kecil yang disebut alas kekeran, yang berfungsi sebagai penyangga kesucian kawasan pura secara keseluruhan — sebuah penerapan lain dari prinsip zonasi Nista-Madya-Utama yang tidak hanya berlaku pada bangunan, tetapi juga pada lanskap di sekitarnya.
Pura Tanah Lot, di pesisir barat Kabupaten Tabanan, juga termasuk salah satu pura peninggalan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha yang hingga kini menjadi salah satu ikon spiritual sekaligus pariwisata Bali yang paling dikenal luas. Bersama dengan pura-pura Dang Kahyangan lain seperti Rambut Siwi dan Petitenget, pura-pura ini membentuk jalur ziarah yang menelusuri jejak dharmayatra sang reformis besar di sepanjang pesisir selatan dan barat Bali, sekaligus menjadi bukti fisik bahwa penyebaran konsep Padmasana tidak berhenti di satu tempat, melainkan menjalar mengikuti jejak perjalanan spiritualnya.
VI. Analisis Filosofis Lintas Masa
Dari Banyak Wadah menuju Satu Tahta: Pola Evolusi Bertingkat
Bila dirunut dari awal, evolusi bangunan suci Bali dapat dibaca sebagai satu pola besar yang berulang: setiap zaman baru tidak menghapuskan warisan zaman sebelumnya, melainkan menambahkan lapisan makna baru di atasnya. Tradisi megalitik pra-Hindu mewariskan bentuk berundak dan orientasi gunung-laut; Mpu Kuturan mewariskan sistem Tri Murti, Kahyangan Tiga, Sad Kahyangan Jagat, serta zonasi Tri Angga dan Sanga Mandala; Dang Hyang Nirartha mewariskan Padmasana sebagai tahta kosong bagi Sang Hyang Acintya; dan generasi-generasi berikutnya mewariskan penyempurnaan tipologi hingga Padma Nusantara. Setiap lapisan dibangun tepat di atas lapisan sebelumnya, bukan menggantikannya.
Konsep Acintya: Ketuhanan yang Tak Terbahasakan
Inti dari revolusi Padmasana terletak pada konsep Acintya secara harfiah berarti “yang tidak dapat dipikirkan”. Berbeda dengan sistem Murti-Puja yang memberi wujud konkret pada setiap dewa yang dipuja, konsep Acintya justru menegaskan bahwa Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud tertinggi-Nya tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun tanpa mereduksi kebesaran-Nya. Paradoks inilah yang coba dijawab Dang Hyang Nirartha melalui Padmasana: alih-alih menghadirkan Tuhan lewat arca, beliau menghadirkan Tuhan lewat ketiadaan rong kosong yang justru menjadi representasi paling jujur atas sesuatu yang melampaui segala representasi.
Tri Hita Karana: Harmoni sebagai Prinsip Penataan Ruang
Seluruh evolusi bentuk bangunan suci ini tidak dapat dilepaskan dari falsafah Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab terciptanya kesejahteraan yang bersumber dari hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesamanya (pawongan), dan manusia dengan alam lingkungannya (palemahan)[72]. Prinsip parhyangan inilah yang secara langsung diwujudkan melalui bangunan-bangunan suci yang diuraikan dalam naskah ini mulai dari punden berundak pra-Hindu, meru dan gedong pada masa Mpu Kuturan, hingga Padmasana dan Padma Nusantara pada masa-masa berikutnya. Dengan kata lain, evolusi arsitektur suci Bali sesungguhnya adalah evolusi cara masyarakat Bali mewujudkan salah satu dari tiga pilar keseimbangan hidupnya secara fisik dan spasial.
Kesatuan dalam Keberagaman sebagai Benang Merah
Baik pada masa Mpu Kuturan (penyatuan aliran Siwa-Buddha ke dalam Tri Murti) maupun pada masa pasca-Nirartha (penyatuan Tri Purusa ke dalam satu batur induk Padmasana Tiga), pola yang sama selalu berulang: keberagaman tidak dihilangkan, tetapi disatukan dalam satu kerangka yang lebih besar. Padma Nusantara, sebagai puncak evolusi ini, pada dasarnya adalah metafora arsitektural bagi cara pandang masyarakat Bali terhadap ketuhanan itu sendiri — satu Yang Maha Esa yang hadir dalam banyak wajah, sebagaimana termaktub dalam ungkapan yang dikenal luas dalam khazanah Hindu Nusantara: Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti, “Hakikat kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”.
Relevansi Kontemporer: Padma Nusantara sebagai Gagasan Kebangsaan
Menariknya, konsep Padma Nusantara tidak berhenti sebagai istilah arsitektural semata. Dalam wacana kontemporer, gagasan ini diperluas menjadi metafora bagi keutuhan dan keberagaman bangsa Indonesia secara keseluruhan — sebuah “jaringan suci” yang menghubungkan titik-titik spiritual di seluruh Nusantara dalam satu kesatuan, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika[73]. Dalam pengertian ini, perjalanan panjang dari padma tanpa sari menuju Padma Nusantara dapat dibaca sebagai alegori bagi perjalanan bangsa itu sendiri: dari keberagaman yang tercerai-berai, menuju kesatuan yang tetap menghormati dan merayakan keberagaman tersebut, bukan menyeragamkannya.
Perbandingan Singkat dengan Candi di Jawa
Berbeda dari candi-candi Hindu-Buddha di Jawa seperti Prambanan atau Borobudur yang umumnya dibangun dari batu andesit dengan struktur masif dan permanen sebagai representasi gunung kosmis (Meru) dalam satu bangunan tunggal, arsitektur suci Bali justru berkembang sebagai kompleks terbuka yang terdiri atas banyak pelinggih kecil dalam satu pekarangan berpagar (penyengker), tanpa atap yang menutupi keseluruhan area. Perbedaan ini sebagian dapat dijelaskan oleh perbedaan orientasi ritual: candi Jawa klasik cenderung berfungsi sebagai monumen pendharmaan raja atau tempat pemujaan tunggal yang bersifat tertutup, sementara pura Bali dirancang sebagai ruang terbuka bagi upacara komunal yang melibatkan banyak orang sekaligus, dengan setiap pelinggih mewakili satu aspek atau manifestasi pemujaan yang berbeda dalam satu kompleks yang sama. Warisan punden berundak yang telah diuraikan pada Bagian I turut menjelaskan mengapa banyak pelinggih Bali, termasuk Padmasana, tetap mempertahankan bentuk dasar bertingkat dan terbuka ke langit, alih-alih tertutup seperti bilik candi (garbhagriha) di Jawa.
Mengapa Evolusi Ini Berlangsung Bertahap, Bukan Sekaligus
Salah satu pertanyaan yang layak diajukan adalah mengapa konsep setinggi Padmasana baru muncul empat abad setelah Mpu Kuturan, bukan langsung diperkenalkan sejak awal. Jawabannya kemungkinan terletak pada kesiapan sosial-keagamaan masyarakat itu sendiri: sebuah lompatan konseptual sebesar “Tuhan tanpa wujud” memerlukan fondasi yang sudah mapan terlebih dahulu sistem Tri Murti yang telah diterima luas, tata ruang Tri Angga dan Sanga Mandala yang telah menjadi kebiasaan, serta jaringan Kahyangan Tiga dan Sad Kahyangan Jagat yang telah mengikat masyarakat dalam satu kerangka spiritual bersama. Tanpa fondasi tersebut, gagasan tentang tahta kosong kemungkinan besar akan sulit diterima atau bahkan dipahami oleh masyarakat pada masanya. Dalam pengertian ini, Dang Hyang Nirartha tidak bekerja dalam ruang hampa, melainkan menuai hasil dari penataan sistemik yang telah dirintis pendahulunya empat abad sebelumnya.
VII. Ringkasan Evolusi Lengkap
| Periode | Bentuk Utama | Konsep Inti | Ciri Pembeda |
| Pra-Hindu (Megalitik) | Menhir, punden berundak, sarkofagus | Pemujaan roh leluhur & kekuatan alam | Batu besar sebagai media, orientasi gunung-laut |
| Pra-Mpu Kuturan | Meru 3, Gedong, Bebaturan | Murti-Puja (arca dewa) | Banyak dewa, banyak bentuk, belum bersatu |
| Mpu Kuturan (Abad 11) | Meru, Gedong; Kahyangan Tiga & Sad Kahyangan | Tri Murti tersistematisasi; Tri Angga & Sanga Mandala | Terstruktur rapi, tetap berarca |
| Dang Hyang Nirartha (Abad 16) | Padmasana (1 rong) | Sang Hyang Acintya — Yang Tak Berwujud | Rong kosong di puncak, tanpa arca |
| Pasca-Nirartha → Kini | Padma Capah → Padmasari → Padmasana → Padmasana Tiga/Nusantara | Satu Tuhan dalam Tri Purusa | Tiga rong, kesatuan dalam keberagaman |
Perjalanan evolusi bentuk bangunan suci Bali, sebagaimana diuraikan di atas, adalah pergeseran bertahap dari banyak dewa dalam banyak bangunan yang tersebar dan tidak terpadu, menuju sistem yang terstruktur rapi namun tetap berarca di bawah Mpu Kuturan, lalu menuju satu tahta kosong bagi Yang Maha Esa yang diperkenalkan Dang Hyang Nirartha, hingga akhirnya berpuncak pada satu kesatuan yang memuat keberagaman-Nya dalam wujud Padma Nusantara atau Padmasana Tiga.
Yang menarik untuk digarisbawahi adalah bahwa perjalanan ini bukan sekadar riwayat arsitektural, melainkan cermin dari perjalanan pemikiran teologis masyarakat Bali tentang hakikat Tuhan itu sendiri: dari yang paling konkret dan terlokalisasi (arca-arca lokal era pra-Hindu), menuju yang paling abstrak dan universal (rong kosong Padmasana), lalu kembali diberi bentuk yang menyeimbangkan keduanya (Padmasana Tiga, yang tetap kosong namun menghormati keberagaman manifestasi-Nya). Dalam pengertian inilah, setiap pura di Bali — betapapun kecil atau sederhana bentuknya — sesungguhnya menyimpan jejak dari seluruh perjalanan sejarah dan filsafat yang panjang ini di dalam susunan batu, tingkat, dan ruang kosongnya.
Bagi pembaca yang ingin mendalami lebih jauh, ada baiknya menelusuri langsung lontar-lontar primer seperti Dwijendra Tattwa dan Usana Bali, mengunjungi kompleks Pura Besakih untuk menyaksikan langsung Padma Tiga di Pura Penataran Agung, atau membandingkan tipologi padma di berbagai pura kahyangan jagat untuk melihat sendiri bagaimana satu kerangka filosofis yang sama dapat diwujudkan dalam ragam bentuk fisik yang berbeda-beda di seluruh penjuru Pulau Bali. Evolusi ini pun tidak sepenuhnya berhenti; sebagaimana ditunjukkan oleh perluasan makna Padma Nusantara ke dalam wacana kebangsaan kontemporer, kemungkinan besar bentuk dan makna bangunan suci Bali akan terus berkembang mengikuti zaman, sebagaimana ia telah berkembang selama lebih dari seribu tahun terakhir.
Daftar Istilah
Acintya — Sang Hyang Widhi dalam aspek yang tak terpikirkan dan tak tergambarkan; dilambangkan dengan ruang kosong di puncak Padmasana.
Bebaturan — Struktur dasar berupa susunan batu bertingkat tanpa atap, salah satu bentuk pelinggih paling sederhana pada masa pra-Mpu Kuturan.
Bedawang Nala — Kura-kura raksasa berapi yang dibelit dua ekor naga (Anantaboga dan Basuki), melambangkan dasar bumi pada struktur Padmasana.
Candi Bentar — Gapura belah dua yang menandai batas antar-zona (mandala) dalam kompleks pura.
Dewata Nawa Sanga — Sembilan manifestasi dewa yang menjaga sembilan penjuru mata angin, dengan Siwa berkedudukan di pusat.
Dharmayatra — Perjalanan suci yang dilakukan seorang pendeta atau rohaniwan untuk menyebarkan ajaran dharma.
Gedong — Bangunan suci beratap tertutup, biasa digunakan untuk menstanakan arca atau pratima.
Kahyangan Tiga — Tiga pura inti di tingkat desa adat: Pura Puseh, Pura Desa/Bale Agung, dan Pura Dalem.
Meru — Bangunan suci beratap tumpang/bertingkat, melambangkan gunung suci sebagai stana dewa.
Murti-Puja — Sistem pemujaan yang menggunakan arca atau murti sebagai representasi wujud dewa yang dipuja.
Nista Mandala — Zona terluar dan paling kurang sakral dalam kompleks pura (jaba sisi).
Niyasa — Simbol atau media perantara dalam upacara untuk menghadirkan manifestasi tertentu dari yang dipuja.
Padmasana — Bangunan suci berbentuk singgasana teratai, dengan rong kosong di puncaknya sebagai stana Acintya/Sang Hyang Widhi.
Palih — Tingkatan atau lapisan pada batur/badan sebuah bangunan suci, umumnya berjumlah ganjil (5, 7, atau 9).
Pratima — Benda atau arca yang digunakan sebagai media stana sementara bagi dewa yang dipuja saat upacara.
Rong — Ruang atau relung kosong pada puncak bangunan suci jenis padma.
Sad Kahyangan Jagat — Enam (dalam sebagian versi, sembilan) pura utama yang menjadi penjaga arah mata angin dan sendi spiritual Pulau Bali.
Sanga Mandala — Konsep pembagian ruang menjadi sembilan zona berdasarkan perpaduan sumbu kaja-kelod (gunung-laut) dan kangin-kauh (timur-barat).
Soroh — Kelompok trah atau garis keturunan tertentu dalam masyarakat Hindu Bali, masing-masing memiliki pura kawitan (leluhur) sendiri.
Tri Angga — Konsep hierarki ruang tiga tingkat: utama, madya, dan nista, diadaptasi dari tiga bagian tubuh manusia.
Tri Hita Karana — Tiga penyebab kesejahteraan: hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam (palemahan).
Tri Murti — Tiga manifestasi utama Tuhan dalam fungsi mencipta, memelihara, dan melebur: Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Tri Purusa — Tiga aspek/tingkatan kesadaran Tuhan: Siwa, Sadasiwa, dan Paramasiwa.
Utama Mandala — Zona terdalam dan paling sakral dalam kompleks pura (jeroan).
Daftar Pustaka
Berikut adalah seluruh sumber yang dirujuk dalam naskah ini, disusun menurut abjad sesuai konvensi daftar pustaka Chicago (Notes-Bibliography Style). Sumber tanpa nama penulis diurutkan berdasarkan huruf pertama judul.
“Identifikasi Tipologi Arsitektur Pelinggih Padmasana di Pura Mertasari Denpasar,” CORE.
“Mengulik Sejarah dan Makna Pura Kahyangan Tiga di Bali,” Detikcom, Oktober 2025.
“The Function and Typology of the Padmasana Tiga Architecture in Besakih Temple,” Semantic Scholar.
“Tipologi Bangunan Suci Padma di Pura Luhur Andakasa,” Jurnal Universitas Ngurah Rai (OJS).
Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, “Tradisi Megalitik di Bali,” 11 April 2019.
Bali Express (Jawa Pos), “Daftar Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan yang Disebut Pura Universal bagi Umat Hindu di Bali,” 23 Juli 2023.
BALIPOST.com, “Ini Pura Sad Kahyangan Jagat yang Merupakan Sendi Pulau Bali,” 21 Januari 2023.
BASAbaliWiki, “Dwijendra Tattwa,” 6 Februari 2022.
Detik Bali, “Mengenal Konsep dan Keunikan Arsitektur Tradisional Bali,” 20 Februari 2023.
DPD Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, “Kahyangan Tiga” (PDF).
Gatra Bali, “Padma Bhuwana Nusantara, Jaringan Suci Penjaga Keutuhan Tanah Air,” 2026.
Kembang Kuning, “Peran Mpu Kuturan (Abad ke-11): Arsitek Utama Sistem Tri Murti dan Sad Kahyangan Bali,” diakses 13 Agustus 2026.
Kompas.com (Denpasar), “Pura Kahyangan Jagat di Bali: Lokasi dan Dewa yang Berstana,” 5 Maret 2023.
Kompas.com, “10 Bangunan Megalitikum yang Ditemukan di Indonesia,” 3 Oktober 2022.
Kompas.com, “Punden Berundak: Asal-usul, Fungsi, dan Persebaran,” 18 Maret 2022.
Kompas.com, “Tradisi Megalitik: Asal-usul, Pembagian, dan Peninggalan,” 4 Agustus 2021.
Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci,” diakses 13 Agustus 2026.
Mathew Widi, “Padmasana,” Blogspot (blog), 2013.
Parisada Hindu Dharma Indonesia, “Esensi Padmasana dalam Proses Pendakian Spiritual.”
Sastra Bali, “Padmasana,” 2012.
SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha,” 26 November 2019.
Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali (TARU Bali), “Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali,” 17 September 2024.
Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali (TARU Bali), “Tri Angga dan Tri Loka,” 17 September 2024.
Universitas Dwijendra, “Padmasana Bali dalam Perspektif Kajian Budaya,” Jurnal Widyasrama.
Universitas Dwijendra, “Padmasana Bali dalam Perspektif Kajian Budaya” (PDF lengkap).
Universitas STEKOM Semarang, “Dang Hyang Nirartha,” Ensiklopedia P2K.
Waroeng Sraddha, “Hindu Dharma = Siwa Budha,” 2008.
Wikipedia bahasa Indonesia, s.v. “Dang Hyang Nirartha,” diakses 13 Agustus 2026.
Wikipedia, s.v. “Dang Hyang Nirartha,” diakses 13 Agustus 2026.
Wikipedia, s.v. “Dang Hyang Nirartha” (versi terbaru), diakses 13 Agustus 2026.
[1]Kompas.com, “10 Bangunan Megalitikum yang Ditemukan di Indonesia,” 3 Oktober 2022.
[2]Kompas.com, “Tradisi Megalitik: Asal-usul, Pembagian, dan Peninggalan,” 4 Agustus 2021.
[3]Kompas.com, “Tradisi Megalitik.”
[4]Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, “Tradisi Megalitik di Bali,” 11 April 2019.
[5]BPCB Bali, “Tradisi Megalitik di Bali.”
[6]Kompas.com, “Punden Berundak: Asal-usul, Fungsi, dan Persebaran,” 18 Maret 2022.
[7]Kompas.com, “Punden Berundak.”
[8]Kompas.com, “Punden Berundak.”
[9]Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci,” diakses 13 Agustus 2026.
[10]DPD Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, “Kahyangan Tiga” (PDF).
[11]Kembang Kuning, “Peran Mpu Kuturan (Abad ke-11): Arsitek Utama Sistem Tri Murti dan Sad Kahyangan Bali,” diakses 13 Agustus 2026.
[12]Sastra Bali, “Padmasana,” 2012.
[13]Mathew Widi, “Padmasana,” Blogspot (blog), 2013.
[14]Kembang Kuning, “Peran Mpu Kuturan.”
[15]Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci.”
[16]Widi, “Padmasana.”
[17]Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci.”
[18]Kembang Kuning, “Peran Mpu Kuturan.”
[19]Waroeng Sraddha, “Hindu Dharma = Siwa Budha,” 2008.
[20]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha,” 26 November 2019.
[21]“Mengulik Sejarah dan Makna Pura Kahyangan Tiga di Bali,” Detikcom, Oktober 2025.
[22]DPD PHDI Bali, “Kahyangan Tiga.”
[23]Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci.”
[24]BALIPOST.com, “Ini Pura Sad Kahyangan Jagat yang Merupakan Sendi Pulau Bali,” 21 Januari 2023.
[25]Bali Express (Jawa Pos), “Daftar Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan yang Disebut Pura Universal bagi Umat Hindu di Bali,” 23 Juli 2023.
[26]Kompas.com (Denpasar), “Pura Kahyangan Jagat di Bali: Lokasi dan Dewa yang Berstana,” 5 Maret 2023.
[27]Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci.”
[28]Widi, “Padmasana.”
[29]Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali (TARU Bali), “Tri Angga dan Tri Loka,” 17 September 2024.
[30]Detik Bali, “Mengenal Konsep dan Keunikan Arsitektur Tradisional Bali,” 20 Februari 2023.
[31]Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali (TARU Bali), “Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali,” 17 September 2024.
[32]Universitas STEKOM Semarang, “Dang Hyang Nirartha,” Ensiklopedia P2K.
[33]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha.”
[34]Wikipedia, s.v. “Dang Hyang Nirartha,” diakses 13 Agustus 2026.
[35]Wikipedia, s.v. “Dang Hyang Nirartha” (biografi).
[36]Wikipedia bahasa Indonesia, s.v. “Dang Hyang Nirartha,” diakses 13 Agustus 2026.
[37]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha.”
[38]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha.”
[39]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha.”
[40]Universitas STEKOM, “Dang Hyang Nirartha.”
[41]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha.”
[42]BASAbaliWiki, “Dwijendra Tattwa,” 6 Februari 2022.
[43]Wikipedia ID, s.v. “Dang Hyang Nirartha.”
[44]Universitas Dwijendra, “Padmasana Bali dalam Perspektif Kajian Budaya,” Jurnal Widyasrama.
[45]Wikipedia, s.v. “Dang Hyang Nirartha” (versi terbaru), diakses 13 Agustus 2026.
[46]Widi, “Padmasana.”
[47]Sastra Bali, “Padmasana.”
[48]Universitas Dwijendra, “Padmasana Bali.”
[49]Parisada Hindu Dharma Indonesia, “Esensi Padmasana dalam Proses Pendakian Spiritual.”
[50]Universitas Dwijendra, “Padmasana Bali dalam Perspektif Kajian Budaya” (PDF lengkap).
[51]Wikipedia, s.v. “Dang Hyang Nirartha” (versi terbaru).
[52]Parisada Hindu Dharma Indonesia, “Esensi Padmasana.”
[53]TARU Bali, “Konsep Sanga Mandala.”
[54]SatyaWedha, “Dang Hyang Dwijendra/Niratha.”
[55]“Identifikasi Tipologi Arsitektur Pelinggih Padmasana di Pura Mertasari Denpasar,” CORE.
[56]“Tipologi Bangunan Suci Padma di Pura Luhur Andakasa,” Jurnal Universitas Ngurah Rai (OJS).
[57]“Identifikasi Tipologi Arsitektur Pelinggih Padmasana.”
[58]“Tipologi Bangunan Suci Padma di Pura Luhur Andakasa.”
[59]“Identifikasi Tipologi Arsitektur Pelinggih Padmasana.”
[60]“Tipologi Bangunan Suci Padma di Pura Luhur Andakasa.”
[61]“Identifikasi Tipologi Arsitektur Pelinggih Padmasana.”
[62]Universitas Dwijendra, “Padmasana Bali” (PDF lengkap).
[63]“The Function and Typology of the Padmasana Tiga Architecture in Besakih Temple,” Semantic Scholar.
[64]“Function and Typology of the Padmasana Tiga Architecture.”
[65]Gatra Bali, “Padma Bhuwana Nusantara, Jaringan Suci Penjaga Keutuhan Tanah Air,” 2026.
[66]BALIPOST.com, “Pura Sad Kahyangan Jagat.”
[67]BALIPOST.com, “Pura Sad Kahyangan Jagat.”
[68]BALIPOST.com, “Pura Sad Kahyangan Jagat.”
[69]“Identifikasi Tipologi Arsitektur Pelinggih Padmasana.”
[70]“Tipologi Bangunan Suci Padma di Pura Luhur Andakasa.”
[71]Mari Belajar Hindu, “Bangunan Suci.”
[72]TARU Bali, “Konsep Sanga Mandala.”
[73]Gatra Bali, “Padma Bhuwana Nusantara.”
Oleh : Dr. I Ketut Sudira, SH.,MH
Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar
Dosen Fakultas Hukum Undiknas Denpasar


