GATRABALI.COM, DENPASAR –
I. Pendahuluan
Hari Raya Galungan adalah salah satu perayaan terpenting dalam kehidupan keagamaan umat Hindu di Bali, yang dirayakan setiap Buda Kliwon Wuku Dungulan dalam siklus pawukon 210 hari. Secara hakiki, Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan dharma (kebenaran) atas adharma (kebatilan). Namun bila ditelaah lebih dalam, makna ini jauh melampaui peringatan seremonial; ia merupakan pernyataan teologis tentang tatanan kosmis sekaligus undangan etis untuk menata kembali kehidupan batin manusia.
Di tengah krisis ekonomi—ketika ketidakpastian menekan rumah tangga dan komunitas—pertanyaan yang relevan bukanlah apakah Galungan masih layak dirayakan, melainkan apa yang sesungguhnya dirayakan. Tesis tulisan ini sederhana: Galungan menyediakan kerangka spiritual untuk memenangkan pertempuran yang paling menentukan, yaitu pertempuran di dalam diri, dan dari kemenangan itulah ketahanan sosial memperoleh fondasinya.
II. Galungan dalam Bingkai Sastra dan Siklus Waktu
Landasan tekstual Galungan yang paling sering dirujuk adalah Lontar Sundarigama. Lontar ini menegaskan bahwa inti Galungan terletak pada penyatuan dan penjernihan pikiran, bukan pada kemeriahan lahiriah:
“Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang janyana samadhi,
galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep.”
(Hari Buda Kliwon Dungulan disebut Galungan, arahkanlah penyatuan pikiran melalui samadhi,
agar terang-benderang melenyapkan segala kekacauan pikiran.)
— Lontar Sundarigama
Kunci pemaknaannya ada pada frasa “patitis ikang janyana samadhi” dan “galang apadang” (terang-benderang). Galungan, dengan demikian, secara etimologis-teologis adalah peristiwa pencerahan kesadaran: kemenangan yang dimaksud adalah tersingkirnya kegelapan batin (awidya) oleh terang pengetahuan suci.[1]
Penempatan Galungan dalam siklus pawukon juga bermakna. Sepuluh hari setelahnya dirayakan Kuningan, sebagai penegasan bahwa anugerah kemenangan harus dijaga dan disyukuri. Struktur waktu yang berulang ini mengajarkan bahwa kemenangan dharma bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan disiplin yang harus diperbarui terus-menerus—sebuah pelajaran yang sangat relevan bagi ketahanan menghadapi krisis yang juga datang berulang.
III. Landasan Teologis: Dharma, Adharma, dan Rwa Bhineda
Keyakinan bahwa dharma pada akhirnya menang berakar pada janji ketuhanan yang termaktub dalam Bhagavadgita. Sri Krishna bersabda bahwa setiap kali dharma merosot, Tuhan hadir untuk menegakkannya kembali:
“Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata,
abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmy aham.”
(Manakala dharma merosot dan adharma merajalela,
saat itulah Aku menjelma, wahai Bharata.)
— Bhagavadgita IV.7
Ayat berikutnya menegaskan tujuannya: “paritrāṇāya sādhūnāṁ vināśāya ca duṣkṛtām, dharma-saṁsthāpanārthāya”—untuk melindungi yang baik, melenyapkan yang jahat, dan menegakkan kembali dharma.[2] Inilah dasar metafisik dari optimisme Galungan: kemenangan dharma bukan sekadar harapan, melainkan hukum kosmis yang dijamin oleh Yang Mahakuasa.
Namun teologi Hindu Bali menolak pandangan dualistik yang naif. Melalui konsep Rwa Bhineda (dua hal yang berbeda namun saling melengkapi), baik dan buruk, terang dan gelap, dipahami sebagai pasangan yang menjaga keseimbangan alam (harmoni kosmis). Adharma tidak dimusnahkan secara total, melainkan ditundukkan dan ditempatkan pada posisi yang benar. Maka memenangkan dharma berarti mengendalikan—bukan menyangkal—sisi gelap dalam diri dan dunia. Pemahaman ini penting di masa krisis: kesulitan tidak dipandang sebagai kutukan yang harus dibenci, melainkan sebagai bagian dari dinamika yang harus dihadapi dengan kesadaran.
IV. Sang Kala Tiga: Anatomi Spiritual Sebuah Krisis
Tradisi Galungan menggambarkan adanya godaan Sang Kala Tiga yang turun ke dunia menjelang hari raya, dalam tiga tahap yang masing-masing menuntut bentuk pengendalian diri:
- Penyekeban (Redite Paing Dungulan): turunnya Sang Bhuta Galungan; umat ‘nyekeb indriya’—mengekang indria—agar tidak tergoda. Secara simbolis, buah dikrumun (diperam) agar matang, lambang pematangan pengendalian diri.
- Penyajaan (Soma Pon Dungulan): turunnya Sang Bhuta Dungulan; umat memantapkan kesungguhan (saja = sungguh-sungguh) dalam menjaga pikiran dan niat agar tetap teguh pada kebenaran.
- Penampahan (Anggara Wage Dungulan): turunnya Sang Bhuta Amangkurat; ‘nampah’ (menyembelih) secara batiniah bermakna menyembelih sifat kebinatangan dalam diri—keserakahan, amarah, dan kemalasan.[3]
Pembacaan kontemplatif terhadap Sang Kala Tiga mengungkap sebuah psikologi spiritual krisis. ‘Kala’ bukan sekadar makhluk halus di luar diri, melainkan personifikasi gejolak batin manusia—Sad Ripu (enam musuh: kama, lobha, krodha, mada, moha, matsarya). Krisis ekonomi adalah ladang subur bagi Sang Kala Tiga: ketakutan memicu keserakahan, kekurangan memicu amarah, ketidakpastian memicu keputusasaan. Galungan mengajarkan bahwa medan pertempuran sesungguhnya bukanlah pasar atau dompet, melainkan pikiran. Lontar Sundarigama menyebut sikap yang diperlukan sebagai ‘anyekung jnana’—mengheningkan dan meneguhkan pikiran—agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan.
V. Manacika Parisudha: Ketahanan Batin sebagai Kemenangan
Jika musuh berada di dalam pikiran, maka senjatanya pun pengendalian pikiran. Di sinilah ajaran Tri Kaya Parisudha (tiga perbuatan yang disucikan: manacika—pikiran benar, wacika—perkataan benar, kayika—perbuatan benar) menjadi inti praksis Galungan. Sarasamuccaya menempatkan pikiran (manah) sebagai sumber dari segala perbuatan, sehingga penyuciannya menjadi prioritas pertama:
“Manah ngaranya pinakawit ning indriya, ya ika umalapaken subhāsubhakarma.”
(Pikiran adalah pangkal dari segala indria, ialah yang menentukan perbuatan baik dan buruk.)
— Sarasamuccaya, sloka 73–74 (disarikan)
Kemenangan dharma, dengan demikian, dimulai dari manacika parisudha—pikiran yang jernih, bebas dari rasa takut dan iri. Bhagavadgita meneguhkan tanggung jawab personal ini: manusia adalah penyelamat sekaligus musuh bagi dirinya sendiri.
“Uddhared ātmanātmānaṁ nātmānam avasādayet,
ātmaiva hy ātmano bandhur ātmaiva ripur ātmanaḥ.”
(Angkatlah dirimu oleh dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu terpuruk;
sebab diri sendirilah sahabat, dan diri sendiri pula musuh bagi diri.)
— Bhagavadgita VI.5
Inilah ketahanan batin (spiritual resilience) yang menjadi inti Galungan: keyakinan bahwa di tengah keruntuhan keadaan lahiriah, manusia masih berdaulat atas responsnya. Krisis dapat merampas harta, tetapi tidak dapat merampas ketenangan batin seorang yang teguh pada dharma—kecuali ia mengizinkannya.[4]
VI. Yajña, Penjor, dan Spiritualitas Syukur
Dimensi lahiriah Galungan—penjor, banten, dan upacara—bukanlah kemewahan yang bertentangan dengan kesederhanaan di masa krisis, melainkan bahasa simbolik dari rasa syukur. Penjor yang melengkung tinggi adalah lambang Gunung Agung dan Naga Basuki, ungkapan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas anugerah kemakmuran (kebo-iwa hasil bumi yang digantungkan padanya). Esensinya adalah yajña—persembahan tulus—bukan besarnya biaya.
Bhagavadgita menuntun umat agar bertindak tanpa terikat pada hasil, sebuah sikap yang membebaskan dari kecemasan duniawi:
“Karmaṇy evādhikāras te mā phaleṣu kadācana.”
(Hakmu hanyalah pada perbuatan, bukan pada hasilnya.)
— Bhagavadgita II.47
Ajaran niskama karma ini menjadi landasan spiritualitas syukur: umat tetap berkarya dan berpersembahan dengan tulus, sambil melepaskan kecemasan atas hasil yang berada di luar kendalinya. Sarasamuccaya bahkan mengingatkan bahwa kelahiran sebagai manusia itu sendiri sudah merupakan anugerah utama, karena hanya manusia yang mampu mengangkat dirinya dari keburukan menuju kebaikan melalui dharma.[5] Maka, syukur dalam Galungan adalah pengakuan bahwa kehidupan—betapapun sulitnya—tetap merupakan kesempatan suci.
VII. Galungan sebagai Ketahanan Sosial
Ketahanan batin yang dirajut Galungan tidak berhenti pada individu; ia memancar menjadi ketahanan sosial. Kerangka Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan: harmoni dengan Tuhan—parahyangan, dengan sesama—pawongan, dan dengan alam—palemahan) menempatkan relasi sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari spiritualitas.[6]
Beberapa wujud konkret ketahanan sosial Galungan dapat diuraikan sebagai berikut:
- Solidaritas komunal (ngayah dan menyama braya). Tradisi ngayah—bekerja tanpa pamrih untuk kepentingan bersama—dan semangat menyama braya (memperlakukan sesama sebagai saudara) menjadi jaring pengaman sosial. Ketika ekonomi melemah, gotong royong mempersiapkan upacara meringankan beban dan menegaskan bahwa tak seorang pun menghadapi krisis sendirian.
- Ekonomi berbasis nilai. Perayaan menggerakkan ekonomi lokal—pasar, pengrajin penjor, pedagang bunga dan janur—namun dalam bingkai persembahan, bukan konsumerisme. Perputaran ini bersifat redistributif dan menjaga denyut ekonomi rakyat kecil pada saat yang tepat.
- Jaminan kebebasan beragama. Negara menjamin hak setiap warga untuk memeluk agama dan beribadah menurut keyakinannya, sehingga Galungan tetap berlangsung sebagai ekspresi identitas yang dilindungi konstitusi, bahkan di tengah tekanan ekonomi.[7]
Akar etis solidaritas ini bersifat teologis. Ajaran Tat Tvam Asi (‘engkau adalah itu’; aku adalah kamu) dari Chandogya Upanisad menegaskan kesatuan atman dalam setiap makhluk. Menolong sesama, dalam pandangan ini, bukan kedermawanan melainkan pelayanan kepada diri yang sama yang bersemayam dalam orang lain.[8]
Pemahaman ketahanan ini selaras dengan kajian ketahanan nasional, yang memandang “kondisi dinamis suatu bangsa dalam menghadapi ancaman, termasuk krisis ekonomi dan sosial.”[9] Galungan menunjukkan bahwa ketahanan dinamis itu, pada tingkat masyarakat Hindu Bali, ditenagai oleh modal spiritual dan modal sosial sekaligus.
VIII. Sintesis: Ketahanan Batin sebagai Akar Ketahanan Sosial
Benang merah seluruh uraian di atas adalah hubungan kausal yang berjenjang. Kemenangan dharma dalam Galungan bermula di ranah batin (penaklukan Sang Kala Tiga / Sad Ripu melalui manacika parisudha), mengalir ke ranah personal (kedaulatan diri dan spiritualitas syukur yang membebaskan dari kecemasan), lalu memancar ke ranah sosial (ngayah, menyama braya, ekonomi berbasis nilai). Dengan kata lain, masyarakat tidak mungkin tahan menghadapi krisis bila individu-individunya rapuh secara batin. Galungan menggarap akar itu lebih dahulu.
Inilah yang membedakan ketahanan ala Galungan dari sekadar strategi bertahan ekonomis: ia tidak menjanjikan hilangnya krisis, melainkan transformasi cara manusia berdiri menghadapinya. Krisis tetap nyata, tetapi tidak lagi berkuasa menentukan makna hidup seseorang.
IX. Penutup
Merayakan Galungan di masa krisis adalah sebuah pernyataan iman yang utuh. Ia menegaskan empat hal sekaligus: bahwa dharma pada akhirnya menang atas adharma; bahwa pikiran yang jernih dan rasa syukur adalah benteng menghadapi kesulitan; bahwa solidaritas komunal memperkukuh ketahanan sosial; dan bahwa identitas budaya-spiritual tetap kokoh meski ekonomi berguncang.
Maka makna terdalam Galungan bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan cara menghadapinya dengan kesadaran penuh. ‘Galang apadang’—terang yang menerangi—mengingatkan bahwa selama batin manusia tetap terang oleh dharma, tidak ada kegelapan krisis yang sanggup memadamkan harapan. Di sanalah ketahanan sosial dan ketahanan batin bertemu, dan di sanalah kemenangan sejati dirayakan.
[1]Lontar Sundarigama, sebagaimana dikutip dan diterjemahkan dalam laman keagamaan Bali; lihat baliprawara.com, “Galungan, Makna Filosofi dan Sumber Sastranya,” dan Bali Express, “Penjelasan Soal Kala Tiga dan Makna Galungan dari Sudut Wariga,” 29 Mei 2018.
[2]Bhagavadgita, Bab IV, sloka 7–8. Terjemahan disarikan dari edisi-edisi terjemahan Indonesia yang umum dipakai dalam pembinaan umat Hindu.
[3]Urutan dan makna Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan beserta turunnya Sang Bhuta Galungan, Dungulan, dan Amangkurat dirangkum dari Lontar Sundarigama; lihat Bali Express, “Makna Penyekeban dan Penyajaan Galungan,” 2024; Tribun-Bali, “Penyajaan Galungan, Turunnya Sang Bhuta Dungulan,” 6 Juni 2022; dan Detik Bali, “Makna Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan Jelang Hari Raya Galungan.”
[4]Bhagavadgita VI.5. Bandingkan dengan ajaran sthitaprajna (BG II.55–58) tentang orang yang teguh pikirannya, tidak goyah oleh suka maupun duka.
[5]Sarasamuccaya, sloka 2 dan 4, yang menegaskan keutamaan menjelma sebagai manusia justru karena kemampuannya berbuat kebajikan (subha karma) untuk mengatasi keburukan (asubha karma).
[6]Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup masyarakat Hindu Bali yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan; konsep ini berakar pada nilai-nilai Weda dan dikuatkan dalam berbagai lontar serta praktik adat (desa, kala, patra).
[7]Lihat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 28E ayat (1) dan Pasal 29 ayat (2), yang menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.
[8]“Tat tvam asi” — Chandogya Upanisad VI.8.7. Ajaran ini menjadi fondasi etika sosial Hindu: belas kasih dan tanpa kekerasan (ahimsa) bertumpu pada kesadaran akan kesatuan diri sejati (atman) di dalam semua makhluk.
[9]Mardhani, “Ketahanan Nasional dalam Perspektif Globalisasi,” Jurnal Ilmiah Nusantara, 2020.
Oleh : Dr. I Ketut Sudira, S.H., M.H., Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar





